Breaking News:

Salam

Ada Qanun, Tapi Ternak Tetap Berkeliaran di Jalan

Para pengguna jalan raya di Aceh sangat menyesalkan para pemilik ternak yang membiarkan hewan peliharaannya berkeliaran di jalan raya

SERAMBINEWS.COM/ASNAWI LUWI
Ternak sapi milik warga berkeliaran di jalan raya atau median jalan dua jalur persisnya Kawasan Gampong Lamblang Manyang, Kecamatan Darul Imarah dan daerah lainnya di Kabupaten Aceh Besar, Senin (3/8/2020). 

Para pengguna jalan raya di Aceh sangat menyesalkan para pemilik ternak yang membiarkan hewan peliharaannya berkeliaran di jalan raya. Dalam suasana Idul Adha tahun ini, kita mencatat begitu banyak korban kecelakaan lalu-lintas gara-gara menabrak atau menghindari sapi-sapi yang berseliweran di jalan raya.

Padahal, (hampir) semua kabupaten/kota di Aceh sudah memiliki Qanun untuk penertiban ternak, seperti kambing, sapi, kerbau, dan lain-lain. Akan tetapi, Qanun itu seperti tidak diterapkan, sehingga di wilayah seperti Banda Aceh juga tak jarang terlihat sapi-sapi berkeliaran di jalanan dalam kota.

Hampir semua daerah yang memiliki Qanun atau Perda tentang penertiban ternak, isi utamanua adalah “Setiap orang atau badan dilarang membiarkan hewan ternak miliknya berkeliaran di tempat‑tempat umum, fasilitas umum, fasilitas sosial, taman, atau tanah milik masyarakat lainnya.” Dan, peraturan itu juga memberi sanksi atau hukuman bagi pelanggarnya.

Di Aceh kita belum memiliki catatan tentang adanya pemilik ternak yang disanksi atau dihukum penjara. Namun, di daerah lain luar Aceh sudah banyak peternak yang dihukum pidana penjara karena melepas liarkan ternaknya hingga mengganggu masyarakat. 

Sebagai contoh, pada 5 Desember 2017  Pengadilan Negeri Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan memvonis tiga bulan penjara terhadap terhadap seorang warga yang ternaknya tertangkap berkeliaran di jalan raya. Sidang itu menarik perhatian masyarakat yang selama ini sangat kesal atas kebaradaan ternak yang sering mengganggu lalu lintas jalan raya. Masyarakat berharap pemberian hukuman bagi peternak yang melepasliarkan peliharaannya itu bisa menjadi pelajaran bagi pemilik-pemilik ternak lainnya.

Di Aceh, menurut catatan jumlah kecelakaan akibat ternak, paling sering terjadi jalan raya kawasan Kabupaten Aceh Jaya. Termasuk dalam suasana Idul Adha tahun ini ada beberapa kecelakaan akibat sapi-sapi yang berkeliaran di jalan raya kawasan Aceh Jaya. Padahal, sejak tahun 2013 Aceh Jaya sudah punya Qanun Penertiban Ternak Nomor 5 tahun 2013 tentang Penertiban Ternak, namun hingga hari ini qanun tersebut tidak berjalan efektif.

Banda Aceh malah sudah 16 tahun lalu memiliki Qanun No 12 Tahun 2004 tentang penertiban hewan. “Tidak boleh ada hewan yang berkeliaran di dalam kota. Apapun alasannya tidak dibenarkan. Tindak tegas sesuai Qanun Nomor 12 Tahun 2004,” instruksi Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman kepada Satpol PP dan WH baru-baru ini. Ia juga meminta Satpol PP dan WH Kota Banda Aceh menindak tegas pemilik yang membiarkan ternaknya berkeliaran dalam wilayah ibu kota provinsi ini.

Tentang hewan ternak yang berkeliaran di jalan raya, sudah puluhan tahun menjadi bahan perbincangan masyarakat. Bahkan, sudah berpuluh-puluh mahasiswa membuat skripsi dengan obyek penelitian tentang hewan ternak di jalan raya. Menurut sejumlah penelitian yang dilakukan di Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, Gayo Lues, Aceh Besar, Aceh Jaya, dan lain-lain, salah satu faktor penyebab terjadinya lepas liar ternak itu karena masyarakat tidak memiliki ladang gembala.

Para peternak amatiran atau sambilan ini meminta pemerintah di daerahnya masing-masing menyediakan ladang gembala sehinga ternak mereka tidak berkeliaran di jalan raya atau tampat-tempat lainnya yang dilarang.

Curhatan peternak sambilan itu tentu perlu juga menjadi perhatian pemerintah. Namun, yang paling penting sekarang ini adalah penegak hukumnya harus berjalan secara tegas. Untuk itu perlu dilakukan lagi sosialisasi qanun penertiban yang dipunyai masing-maasing kabupaten/kota sehingga proses penertiban atau penegakan hukumnya bisa dilakukan serentak di seluruh Aceh. Langkah seperti ini tampaknya jauh akan lebih efektif dibanding cara-cara lama yang penertibannya cuma dilakukan musiman atau kalau ada insiden saja.

Selain itu, kita ingatkan juga masyarakat yang memiliki hewan ternak supaya tidak membiarkan lagi sapi-sapi, kambing, kerbau, dan lainnya berkeliaran. Jadilah pemelihara hewan yang bertanggungjawab, sehingga tak merugikan orang lain.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved