Kupi Beungoh
Sumpah Hipokrates, Gladiator, dan Kepergian Sunyi Dr. Imai
Itu adalah pesan rekan baik saya, seorang dokter yang setiap pulang sore dari rumah sakit melayani pasien, menyebut dirinya keluar dari colloseum.
Alternatif lain adalah manusia kuat lainnya.
Penontonnya, sekitar 35.000-50.000 manusia dan Raja Roma.
Tontonan gladiator dimulai lebih dari dua abad sebelum Masehi dan berakhir lebih dari dua abad setelah Masehi.
Acara gladiador dilaksanakan di dalam sebuah arena yang disebut colloseum.
Bangunan itu masih ada sampai hari ini dan menjadi salah satu situs purbakala yang ramai dikunjungi turis.
Gladiator yang tampil dengan berbagai senjata hanya punya dua pilihan, membunuh atau dibunuh, hidup atau mati.
Perjuangan itulah yang dinikmati sebagai hiburan oleh masyarakat Roma selama hampir setengah millenia.
• Fakta Seputar Kematian Gladiator, Salah Satunya Darahnya Bisa Diminum
Medis Bukanlah Gladiator
Pekerja kesehatan kita, terutama yang bertugas sehari-hari dibaris depan pelayan pasien Covid-19 bukanlah gladiator.
Memang benar disitu ada masalah hidup mati ketika mereka bertugas layaknya gladiator yang berjuang untuk hidup di colloseum.
Benar ruang dan bangsal tempat mereka bertugas mempunyai kemiripan dengan colloseum.
Para pekerja medis juga dilengkapi dengan berbagai alat untuk melindungi dirinya dan mengobati pasien, mungkin sama tapi tak harus serupa dengan alat para gladiator.
Benar suasana ketika mereka masuk ke dalam ruangan, mereka langsung berhadapan dengan”musuh”nya.
Dan, benar pula musuhnya yang harus “enyah” atau mereka yang akan dikalahkan.
Itu tidaklah lebih dari pintu masuk untuk membuat kita mengerti, memahami, dan mampu mengapresiasi bagaimana mereka “mempertaruhkan” nyawanya untuk memastikan manusia hidup dan kemanusiaan berlanjut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ahmad-humam-hamid-kupi-beungoh.jpg)