Jumat, 24 April 2026

Kupo Beungoh

Virus Mental, Virus Biologi, dan Nasib Rakyat (III-Habis)

Yang dikerjakan selama ini tidak lebih dari mengimbau dan kalau perlu memaksa rakyat untuk patuh kepada protokol Covid-19.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Prof. Dr. Ir. Ahmad Humam Hamid, MA, Guru Besar Unsyiah Banda Aceh. 

Ahmad Human Hamid*)

KELESUAN gerakan pengendalian Covid-19 di Aceh nampaknya tidak boleh dianggap sebagai sebuah ancaman yang tidak  serius.

Pemimpin Aceh, mulai dari yang berpangkat gubernur, para bupati dan wali kota, tetap mesti dianggap tidak serius selama mereka belum mengerjakan pekerjaannya yang wajib dikerjakan, yakni pengendalian.

Yang dikerjakan selama ini tidak lebih dari mengimbau dan kalau perlu memaksa rakyat untuk patuh kepada protokol Covid-19. 

Di mana-mana, di dunia mana pun, rakyat baru sedikit optimis, ketika pemerintah dengan sungguh-sungguh melaksanakan pengendalian pandemi dengan test, tracing, isolasi, karantina, dan kalau perlu lockdown.

Anehnya DPRA dan DPRK hampir tidak ada yang menyuarakannya.

Kalaupun ada hanya beberapa orang yang nampak sekali tidak tahu, mungkin tidak mau tahu substansi perkara Covid-19 dengan benar. 

Virus Mental, Virus Biologi, dan Nasib Rakyat (I)

Virus Mental, Virus Biologi, dan Nasib Rakyat (II)

Teka Teki Virus Mental Elite

Apa sesungguhnya yang sedang terjadi dengan elit kekuasaan Aceh, terutama para mereka yang telah bersumpah dengan kitab suci untuk menjaga dan menyelamatkan rakyat yang telah memberikan mandat kepada mereka.

Sikap-sikap yang terpotret dari tindakan yang dilakukan secara jujur harus dikatakan telah menjadi teka-teki besar kepada kita semua. 

Memberi label mereka tidak tahu tentang Covid-19 adalah pelecehan akal sehat, karena kita tahu mereka berpendidikan tinggi.

Memberi label mereka sibuk dengan urusan-urusan lain juga tidak layak.

Bukankah perintah refocusing anggaran pembangunan dari pemerintah pusat jelas menunjukkan signal, bahkan perintah bahwa Covid-19 adalah prioritas.  

Memberikan label tidak peduli, apakah mungkin para pejabat publik yang datang menangis kepada rakyat ketika pilkada atau pemilu, dan bahkan mencari berbagai cara untuk memperoleh suara lalu berkhianat kepada rakyat?

Yang pasti indikator angka lacak dan isolasi 0,6 itu adalah potret total yang mengukuhkan dan bukti nyata ketidakpedulian kolektif elite kekuasaan Aceh terhadap ancaman horor, teror, dan kematian dari Covid-19 terhadap rakyat Aceh.

Angka itu tidak bisa dikerjakan individu atau komunitas, karena angka itu sepenuhnya hanya bisa dikerjakan dan sekaligus menjadi tanggung jawab pemerintah daerah di dua tingkatan itu.

Warga Gampong Aree Pidie Bangun Masjid Kedua di Gle Ceurih

Tidak ada kata lain yang paling cocok untuk diberikan kepada elit pemegang kekuasaan di Aceh dari berbagai tingkatan, selain dari sikap ketidakpedualian, sikap tidak mau tahu, dan sikap membiarkan rakyat bertarung dengan maut secara nafsi-nafsi di belantara keganasan pandemi.

Sikap ini kini telah merasuk dan menjelma menjadi virus mental yang juga menggandakan dirinya sesama pemegang mandat publik, kemudian menular pada jajaran birokrasi, dan akhirya menjalar kepada rakyat banyak.

Mereka mungkin sudah berhasil membuat publik yakin bahwa takdir yang disebutkan dalam kitab suci dan ajaran agama adalah sesuatu yang telah selesai, dan itu artinya sakit, penderitaan, dan kematian adalah sesuatu yang sudah final.

Mereka lupa ada kata ikhtiar, ada takdir yang mesti dijemput, dan para pemegang amanah rakyat tidak sadar, bahwa mereka dipilih oleh rakyat adalah untuk menjemput takdir.

Rakyat memberi mereka kuasa untuk menjemput takdir baik sebanyak-banyaknya kepada masyarakat, termasuk takdir memenangkan rakyat dari ancaman Covid-19.

Pengusaha Aceh di Malaysia Teken MoU dengan PPIM dan NGO Muslim, Sepakat Perluas Pasar Produk Halal

Virus n-Ach, Virus Lepas Tangan, dan Virus Cuci Tangan

Apakah sejumlah daerah yang mempunyai indikator pengendalian pandeminya dinilai baik, dan memang mempunyai bukti telah bekerja dengan sungguh-sungguh para elitenya juga mempunyai virus seperti elite kekuasaan di Aceh.

Apakah Anses Baswedan di DKI, Irwan Prayitno di Sumatera Barat, Ridwan Kamil di Jawa Barat, dan Ganjar Pranowo  di Jawa Tengah, beserta seluruh jajarannya mempunyai virus mental seperti elite kekuasaan di Aceh?

Atau pada level yang lebih rendah semisal Bupati Azwar Anas di Kabupaten Banyuwangi, Wali Kota Bogor Bima Arya, dan Wali Kota Padang Mahyeldi.

Apakah semua mereka punya virus mental seperti elite kekuasaan di Aceh?

Semua dearah itu, terutama elite kekuasaannya mempunyai virus mental.

Bedanya jenis virus mental yang mereka miliki bebeda dengan virus mental yang ada elit kekuasaan di Aceh.

Mereka memiliki jenis virus mental yang disebut oleh David McCLellannd (1961) sebagai virus n-Ach.

Ini adalah virus yang menghinggapi sekelompok orang atau masyarakat yang membuat mereka lebih dari rata-rata, bahkan mungkin jaus meninggalkan rata-rata.

Virus n-Ach adalah virus mental yang tidak pernah berhenti membuat individu manusia atau masyarakat tentang kebutuhan bahkan kelaparan akan prestasi.

n-Ach yang artinya adalah need for achievement menjadi sebuah virus yang terkenal dalam teori modernisasi klasik yang menjelaskan tentang pentingnya virus ini untuk kemajuan masyarakat atau bangsa.

Virus inilah yang telah membuat Jepang, Korea Selatan, dan Cina maju seperti hari ini.

Mereka haus dan tak pernah berhenti untuk membuat prestasi.

Doa Awali Aktivitas Pagi yang Dibaca Nabi Muhammad S.A.W dan 6 Ibadah di Pagi Hari

Salah satu cara untuk mengukur kebenaran elite kekuasan di provinsi yang telah disebutkan di atas, tanyalah kepada “rakib-atid” digital tentang apa yang telah mereka omongkan, apa yang mereka kerjakan, dan apa hasil indikator pengendalian pandemi yang mereka dapatkan.

Ketiklah nama-nama itu di mesin pencari Google dan tambahkan dengan kata Covid-19.

Lihatlah rekam jejak digital mereka, bandingkan dengan perolehan indikator yang mereka peroleh.

Ketika ada indikator baik yang kita sebut “presatasi”, semua itu telah didahului oleh berbagai kata dan tindak.

Dan semua itu adakalah kerja keras, kerja cerdas, dan kemungkinan besar kerja ikhlas.

Ini jelas menjadi gambaran bagi kita, bahwa mereka telah dirasuk oleh sebuah virus mental yang sedang menandingi virus biologi Covid-19.

Mereka haus, mereka lapar, dan mereka kepincut berat dengan kebutuhan akan prestasi, dan itu namanya virus n-Ach.  

Kita di Aceh tidak harus mengetik di mesin pencari Google tentang hal yang sama mengenai keadaan kita.

Hanya saja virus ketidakpedulian dipastikan sudah bergabung dengan virus Covid-19 dan kini sedang bekerja mencelakakan kehidupan rakyat Aceh, di perkotaan, di pedesaan, dan di pedalaman.

Kita mungkin hanya bisa berharap, segera saja ada satu dua di antara para elite kekuasaan yang terpapar dengan virus n-Ach dan segera menularkan pada sejawatnya di berbagai tingkatan, mulai dari provinsi sampai dengan kabupaten kota, pimpinan daerah, berikut dengan lembaga perwakilan rakyat.

Kalau hal itu tidak terjadi, maka yang akan hadir adalah virus ketidakpedulian akan bermutasi menjadi virus “lepas tangan”, saling menyalahkan sesama mereka.

Kalau itu yang terjadi, maka dapat dipastikan pada akhirnya akan terjadi lagi mutasi virus baru di kalangan elite keuasaan Aceh, yaitu virus “cuci tangan”.

Dari beberapa kajian terakhir ilmuwan virologi, ditemukan bahwa Covid-19 mempunyai kemampuan mutasi yang tinggi yang membuat tingkat kesulitan pengendalian lebih tinggi.

Di Aceh, jangan sempat mutasi Covid-19 diimbangi oleh mutasi virus mental elite kekuasaan yang semakin menjadi-jadi.

Terlalu mahal harga yang harus dibayar oleh rakyat Aceh jika terlalu banyak virus mental buruk itu merajalela.

Richard Brodie membagi virus akal budi ini menjadi dua yaitu virus budaya (cultural viruses) yang merupakan virus yang muncul begitu saja dan virus perancang (designer viruses) virus yang sengaja dibuat oleh manusia.

Virus-virus perancang dan virus budaya sama-sama berpotensi menghancurkan segala kebahagiaan, meskipun bagi banyak orang hidup yang hancur karena bencana alam tidak terasa seburuk ditipu orang jahat.

Namun, tetap saja keduanya adalah virus. (*)

*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved