Breaking News:

Opini

Investasi Kesehatan Jiwa Menuju Insan Paripurna  

Pandemi Covid-19 terus bergulir tanpa bisa diprediksi secara pasti kapan akan berakhir. Dampak yang dirasakan bukan hanya mengancam kesehatan

Editor: bakri
Investasi Kesehatan Jiwa Menuju Insan Paripurna   
IST
dr. Humaira, ASN pada Rumah Sakit Jiwa Aceh, Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unsyiah

Dan sekarang, miliaran orang di seluruh dunia telah terkena dampak psikologis akibat pandemi. Alokasi anggaran tersebut tidak sebanding dengan angka kejadian gangguan jiwa dan dampak yang ditimbulkannya.

Saat ini investasi dalam program kesehatan jiwa menjadi lebih penting daripada sebelumnya. Investasi ibaratnya sebagai tabungan pembangunan untuk masa depan yang lebih baik. Melihat dampak pandemi begitu besar maka anggaran untuk kesehatan jiwa haruslah dialokasikan lebih proporsional. Diperlukan terobosan baru dalam kesehatan jiwa, sehingga berdiri sejajar dengan kesehatan fisik dan pendidikan.

Program utamanya difokuskan untuk program promotif dan preventif, bukan hanya kuratif. Sasaran investasi terutama adalah pada sumber daya manusia untuk kesehatan jiwa baik keluarga, masyarakat, juga tenaga kesehatan untuk memberikan pelayanan kesehatan jiwa yang berkualitas dari tingkat primer

Sesuai rekomendasi dari beberapa akademisi Universitas Indonesia terdapat beberapa upaya yang bisa dilakukan oleh pemerintah dalam menghadapi masalah kesehatan jiwa terkait pandemi ini. Dukungan dan partisipasi dari masyarakat tentunya menjadi modal utama dalam melaksanakan upaya tersebut. Pertama menyediakan sumber daya kesehatan jiwa bahkan di tingkat gampong. Salah satu tugasnya melakukan pengamatan atau surveilans masalah kesehatan jiwa.

Surveilans ini berguna selain sebagai sumber data juga untuk alat deteksi dini masalah kesehatan jiwa di masyarakat. Upaya kedua memberi dukungan dan pemdampingan psikososial bagi kelompok usia produktif dan kelompok rentan lainnya. Pendampingan ini terutama diperlukan dalam proses adaptasi menghadapi tantangan tatanan kehidupan baru yang serba tidak pasti.

Memperluas jangkauan pelayanan kesehatan jiwa di masyarakat dengan mempermudah akses, termasuk penyediaan sarana telekonsultasi yang terintegrasi dari tingkat primer sampai tersier. Telekonsultasi berdasarkan pedoman layanan yang terstandar. Upaya lainnya adalah jaminan kesinambungan layanan kesehatan jiwa bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) secara mudah misalnya dengan metode telemedicine.

Selain itu telemedicine dilakukan untuk mengurangi kontak fisik antara pasien dengan tenaga kesehatan di rumah sakit, sehingga bisa menurunkan resiko penularan infeksi.

Hari 'Kesehatan Jiwa Sedunia' secara rutin diperingati setiap tahunnya pada 10 Oktober. Tema peringatan tahun ini agak berbeda dari tahun- tahun sebelumnya. Tema peningkatan investasi dalam kesehatan jiwa merupakan langkah visioner dalam mitigasi dampak pandemi jangka panjang.

Tujuan investasi sebenarnya adalah meningkatkan kapasitas beban negara dan masyarakat yang mengakibatkan produktivitas kerja meningkat, biaya pengobatan menurun, kualitas hidup lebih baik, meningkatnya kesadaran dan peran serta masyarakat serta yang paling penting adalah  angka prevalensi gangguan jiwa menurun.

Situasi saat ini haruslah menjadi perenungan bersama bagaimana kesehatan jiwa tidak lagi menjadi barang pelengkap penderita di mata para pembuat kebijakan maupun masyarakat. Kesehatan jiwa harus menjadi bagian penting dalam pembangunan manusia seutuhnya.

Bukankah Lagu Kebangsaan Indonesia Raya menggelegarkan untuk membangun jiwa sebelum membangun raga fisik ? Kualitas manusia paripurna mensyaratkan kombinasi sehat jiwa dan raga menuju generasi emas bangsa.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved