Breaking News:

Salam

Persiapkan Matang Sekolah Tatap Muka

Harian Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin mewartakan pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud)

Tribunnews/Jeprim
Tribunnews/Jeprima Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim saat mengikuti Rapat Kerja (Raker) perdana dengan Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (6/11/2019). Raker tersebut beragendakan perkenalan dan RKP (Rencana Kerja Pemerintah) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

Harian Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin mewartakan pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim bahwa Kemendikbud akan
mengizinkan sekolah melaksanakan pembelajaran tatap muka sebagai pengganti pembelajaran daring (online) yang selama ini diterapkan pada masa pandemi Covid-19.
Pelaksanaan tatap muka tersebut bukan saja dilonggarkan untuk murid taman kanak-kanak hingga SMA, tetapi juga untuk mahasiswa di perguruan tinggi.

Pembelajaran tatap muka yang dimaksud Mendikbud itu akan dilaksanakan pada Januari 2021, menandai tahun ajaran baru 2021/2022. Artinya, tinggal sekitar 38 hari lagi dari sekarang. Ini bukanlah waktu yang lama. Oleh karenanya, persiapan menyongsong fase tatap muka itu harus dilakukan secara matang oleh semua pihak. Jangan sampai ketika masuk tahun ajaran baru 2021/2022 justru sekolah-sekolah dan perguruan tinggi belum benar-benar siap melaksanakan pembelajaran tatap muka.

Yang pertamatama harus diingat bahwa saat pembelajaran model klasikal itu kembali dilaksanakan itu nantinya bukan berarti saat itu pandemi Covid-19 sudah berakhir. Belum, belum. Skenario buruknya, saat itu (Januari mendatang) pandemi masih akan bertahan, mengingat di Indonesia saat ini jumlah kasus positif Covid-19 terus bergerak mendekati angka setengah juta.

Di Aceh pun kasus baru terus melaju. Kemarin saja angkanya sudah 8.106 kasus. Namun, harapan mulai membentang karena hari demi angka kesembuhan secara nasional dan
lokal makin meningkat. Buktinya, dari jumlah pasien yang terinfeksi itu, 6.676 orang sudah dinyatakan sembuh. Hanya 301 yang meninggal tersebab Covid maupun akibat penyakit
penyerta (komorbid).

Hal lain yang menyiratkan harapan adalah masyarakat semakin mahir menghindar dari penularan Covid dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara serius.
Selain itu, pihak rumah sakit pun terkesan makin terampil menangani pasien Covid sehingga lebih banyak yang sembuh daripada yang berakhir dengan kematian di tengah ketiadaan obat Covid yang mujarab.

Semua hal itulah yang kini menyembulkan optimisme bahwa meski hingga tahun depan Covid-19 belum juga enyah dari Bumi Pertiwi, tapi pembelajaran klasikal tetap akan digelar. Apalagi bila dikaitkan dengan tidak efektifnya pembelajaran daring selama ini yang sangat banyak kendala teknisnya.

Ditambah lagi rasa kangen suasana sekolah yang membuncah di hati siswa, mahasiswa, guru, dan dosen. Nah, untuk itu sekolah atau kampus mana pun di Aceh yang akan menyelenggarakan pembelajaran tatap muka harus mematuhi dua protokol sekaligus, yakni protokol kesehatan dan protokol sekolah/perkuliahan. Untuk protokol pertama, rasanya semua guru dan peserta didik sudah hafal di luar kepala, yakni pakai masker, cuci
tangan dengan sabun dan air mengalir, serta jaga jarak.

Untuk protokol kedua, yakni protokol sekolah/perkuliahan kampanyenya selama ini tidak segencar kampanye prokes. Oleh karenanya, dinas pendidikan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, juga pimpinan PTN/PTS harus mengevaluasi dalam sebulan terakhir ini apakah setiap sekolah/kampus benar-benar sudah paham tentang protokol sekolah/perkuliahan yang wajib diterapkan jika sekolah dibuka sedangkan pandemi belum berakhir.

Di antara sekian banyak protokol sekolah/perkuliahan yang harus diterapkan itu adalah durasi jam belajar yang dipersingkat dari biasanya dan jumlah rombongan belajar tak
boleh lebih dari 18 orang dalam satu ruangan. Selain itu, sirkulasi udara di ruangan tersebut harus mengalir lancar, kantin tak boleh dibuka, toilet harus bersih, air bersih harus selalu tersedia, perlengkapan shalat harus dibawa dari rumah, serta memastikan tidak boleh ada siswa, guru, dan tenaga kependidikan yang datang ke sekolah dari daerah zona merah atau oranye Covid. Jangan sampai, sekolah menjadi klaster penularan Covid-19 di Aceh hanya karena para pihak serius mengindahkan protokol kesehatan, tapi mengabaikan protokol sekolah/perkuliahan.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved