Breaking News:

Salam

Penertiban Perparkiran tidak Sulit, tapi Butuh Keberanian

Petugas gabungan di Banda Aceh belakangan ini aktif merazia para juru parkir liar yang beroperasi di berbagai lokasi dalam wilayah ibu kota provinsi

For Serambinews.com
Petugas gabungan Dishub Kota Banda Aceh memintai keterangan seorang juru parkir liar saat penertiban dan pengawasan terhadap juru parkir ilegal, Sabtu (28/11/2020). 

Petugas gabungan di Banda Aceh belakangan ini aktif merazia para juru parkir liar yang beroperasi di berbagai lokasi dalam wilayah ibu kota provinsi ini. Dari puluhan orang yang tertangkap, sudah dibina dan diberi kesempatan untuk menjadi juru parkir resmi. Sedangkan yang tetap beroperasi secara liar, bila tertangkap rencananya akan dipidana.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Banda Aceh bersama tim Polresta, dan Satpol PP melancarkan razia penertiban juru parkir (jukir) liar di sejumlah wilayah Banda Aceh. Penertiban terhadap jukir liar tersebut berlangsung sejak medio 18 November 2020 dan dilaksanakan sore hingga malam hari. Mulai dari Jalan Sultan Iskandar Muda, kawasan Punge sampai ke Uleelheu. Jalan Hasan Saleh Neusu – sampai ke Lamlagang dan Jalan Malikussaleh. Kemudian Jalan T Hasan Dek, Danubroto, serta sejumlah wilayah lainnya.

Selama razia dilancarkan, tim menangkap banyak juru parkir liar antara lain di Jalan Sultan Iskandar Muda, Jalan Hasan Saleh, Jalan Danubroto, Jalan Chik Ditiro, dan Jalan Hasan Dek. “Pengawasan, pengendalian, dan penertiban parkir di tepi jalan umum ini bertujuan menertibkan juru parkir liar agar dapat mengurus surat izin resmi sebagai juru parkir pada Dinas Perhubungan Kota Banda Aceh,” kata pejabat Dishub Kota.

Kita menggarisbawhi mengenai menangkap dan mengancam pidanakan juru parkir liar. Langkah

 ini bukan sesuatu yang baru dan aneh. Di banyak kota hal itu sudah diterapkan. Langkah tegas itu dilakukan antara lain dalam rangka meningkatkan pendapatan daerah serta meminimalisir para juru parkir liar yang terkadang meresahkan.

Pemidanaan juga bukan sesuatu yang mengada-ada, tapi memang didungkung perangkat hukum yang kuat, yakni Pasal 274 Undang-Undang Lalu Lintas Nomor 22 Tahun 2009. Pasal tersebut menyatakan, setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan kerusakan atau gangguan fungsi jalan maka akan dipidana paling lama 2 tahun penjara atau denda Rp 24 juta. Jadi,  para juru parkir memanfaatkan jalan untuk parkir sehingga bisa dipidanakan dengan Undang-Undang Lalu Lintas. Makanya, setiap kali melakukan penertiban, Dishub selalu menggandeng pihak kepolisian agar bisa memidanakan jukir liar. Sebab, memidanakan orang adalah wewenang polisi.

Kita setuju perenrtiban parkir liar. Namun, kita ingin ingatkan, bahwa masalah perparkiran wilayah kota-kota di Aceh bukan melulu soal juru parkir liar. Ada banyak masalah yang harus dibenahi di serktor perparkiran dalam kota. Pengelolaan perparkiran jangan hanya berorientasi pada pemungutan retribusi. Kita melihat, parkir di ruang milik jalan menimbulkan masalah pada keselamatan dan kemacetan, apalagi parkir di trotoar yang merampas hak pejalan kaki.

Jadi banyak hal yang tergangu oleh parkiran kendaraan yang tidak tertib. Makanya, tujuan pengelolaan perparkiran tidak sekadar mendapatkan retribusi parkir sebanyak-banyaknya, tetapi lebih dari itu, yakni meningkatkan aksesibilitas di pusat kota dan meningkatkan kualitas lingkungan kota. Apalagi, Kota Banda Aceh ini tergolong kota yang sempit dari segi lahan.

Pembatasan waktu dengan biaya parkir tinggi di ruang milik jalan, merupakan cara yang banyak digunakan negara maju dan beberapa negara berkembang, demi melindungi pusat kotanya dari kesesakkan berlalu lintas. Pengendaranya juga diberi pilihan dengan biaya lebih murah, yakni, parkir di luar ruang milik jalan atau di gedung yang disediakan. Sebab, saat ini ruang-ruang parkir tepi jalan itu banyak dimanfaatkan para pemilik toko. Harusnya mereka memilih parkir di tempat khusus  yang disediakan.

Dan, selain kendaraan, tepi jalan juga sudah dimanfaatkan lebih banyak oleh para pedagang khaki lima, terutama mejelang petang hingga tengah malam. Ini terjadi banyak jalan kawasan Banda Aceh. Antara lain Jalan Sultan Iskandar Muda, Jalan Syiah Kuala, Jalan Kartini, Jalan WR Supratman, dan lain-lain. Semoga ini juga segera mendapat perhatian Pemerintah Kota Banda Aceh demi keindahan, kelancaran lalu lintas, serta kebersihan lingkungan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved