Rabu, 8 April 2026

Kilas Balik Tsunami Aceh 2004

16 Tahun Tsunami Aceh - Pasien Korban Tsunami Perlu Dicuci Paru-paru

Refleksi 16 tahun Tsunami Aceh, Serambinews.com, menayangkan kembali arsip berita dari Harian Serambi Indonesia, edisi Kamis 13 Januari 2005.

Penulis: Firdha Ustin | Editor: Muhammad Hadi
Asip Serambinews.com
Arsip berita Harian Serambi Indonesia edisi Minggu 9 Januari 2005 

SERAMBINEWS.COM - 26 Desember 2020, genap memperingati 16 tahun silam gempa dan tsunami Aceh yang meluluhlantakkan Tanah Rencong.

Bencana maha dahsyat yang bermula dari gempa 9,3 SR itu terjadi pada Minggu, 26 Desember 2004 sekitar 07.59 WIB.

Gempa dirasakan selama 10 menit dan berpusat di Samudra Hindia pada kedalaman 10 kilometer di dasar laut.

Tak lama, tsunami menyusul datang menghantam dataran Aceh, menimbulkan lembaran duka dalam sejarah Indonesia.

Ratusan ribu nyawa manusia tenggelam seiring tebasan gelombang air laut, korban tsunami yang selamat menyisakan bekas luka maupun trauma.

Refleksi 16 tahun Tsunami Aceh, Serambinews.com, menayangkan kembali arsip berita dari Harian Serambi Indonesia, edisi Kamis 13 Januari 2005. #16TahunTsunamiAceh

Baca juga: 16 Tahun Tsunami Aceh | Teungku Sofyan Terkubur Tujuh Hari, Tergulung Ombak dan Tertimpa Reruntuhan

Baca juga: Refleksi 16 Tahun Tsunami,Azwar Abubakar Biarkan Orang Asing Masuk saat Aceh Berstatus Darurat Sipil

Artikel ini kami turunkan kembali pada menjelang peringatan 16 tahun bencana Tsunami Aceh 2004,  dalam topik “Kilas Balik Tsunami Aceh”

Pasien Korban Tsunami Perlu Dicuci Paru-paru

Dokter spesialis paru-paru di RSU Daerah Cut Meutia Aceh Utara, dr Kodrat H Midun SpP mengatakan, korban tsunami harus dicuci paru-parunya.

Tanpa pencucian paru-paru terlebih dahulu akan sulit dilakukan penyembuhan, tapi kalau sudah disedot benda masuk dalam paru-parunya akan lebih gampang diobati.

Namun, disayangkan sejumlah rumah sakit di Aceh belum memiliki alat yang disebut dengan "Bronkhus Copy" (alat penyedot kotoran).

Bahkan di Banda Aceh sendiri belum memiliki alat tersebut, karena harganya lumayan mencapai Rp 600 juta lebih

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NAD Dr Mulya Hasjmi, SpB Mkes, kepada Serambi Selasa malam membenarkan belum ada rumah sakit di Aceh mempunyai alat itu.

Baca juga: Tsunami Aceh 2004 | Kisah Putri Selamat dari Maut Badai Tsunami setelah Cengkram Jerigen

Namun, untuk menangani pasien tsunami telah dikirim dua unit dari Jakarta, satu untuk orang dewasa serta satu lainya buat anak-anak.

Arsip berita Harian Serambi Indonesia edisi Selasa 4 Januari 2005, atau sembilan hari setelah tragedi gempa dan tsunami.
Arsip berita Harian Serambi Indonesia edisi Selasa 4 Januari 2005, atau sembilan hari setelah tragedi gempa dan tsunami. (Arsip Harian Serambi Indonesia)

Selain harus dicuci paru parunya, kata dr Kodrat H Midun, korban tsunami juga bukan hanya ditangani seorang dokter spesialis paru-paru saja.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved