Breaking News
Selasa, 21 April 2026

Kilas Balik Tsunami Aceh 2004

16 Tahun Tsunami Aceh - Pasien Korban Tsunami Perlu Dicuci Paru-paru

Refleksi 16 tahun Tsunami Aceh, Serambinews.com, menayangkan kembali arsip berita dari Harian Serambi Indonesia, edisi Kamis 13 Januari 2005.

Penulis: Firdha Ustin | Editor: Muhammad Hadi
Asip Serambinews.com
Arsip berita Harian Serambi Indonesia edisi Minggu 9 Januari 2005 

Tapi butuh dokter lainnya, sebab pasien tenggelam itu ada beberapa faktor, yakni trauma, bedah, paru-paru dan lainnya, termasuk ada pasien yang harus dikirim ke rumah sakit jiwa, kata dr Kodrat didampingi Direktur RSU Cut Meutia.

Menurut Kodrat, tenggelam ada dua katagori tenggelam, masing-masing tenggelam dalam air tawar dan tenggelam dalam air laut atau air asin disebut (hipertonis).

Oleh sebab itu, kasus yang sedang dialami warga Aceh, seperti Aceh Utara, Lhokseumawe, Pidie, Banda Aceh dan Meulaboh, semua yang terkena tsunami itu sama, kejadian pada hari sama dan jam yang sama.

Kasus korban tenggelamnya yang terjadi dengan Tsunami dua pekan lalu tidak boleh sembarangan infuse, karena hiper tonis masuk ke dalam paru dan terjadilah peradangan.

Baca juga: Tsunami Aceh 2004 | Dahsyatnya Ombak Tsunami, Tiada Lagi Olele di Koetaradja

Bukan karena mengandung racun. seperti yang terjadi di Banda Aceh dan Meulaboh, tapi yang terhirup itu benda asing yang tidak mampu ditahan daya tahan paru.

Tergantung banyaknya yang terhirup benda asing itu seperti benda pasir laut dan timbulnya peradangan.

Kalau sudah peradangan, malah kadang-kadang batuknya ber darah, kalau misalnya masih ringan bolehlah dikasih obat-obat spesivik.

Kalau kasusnya sudah berat, seperti ada juga korbannya di RS PT Arun yang dirawat di Banda Aceh selama empat hari, tambah dokter ahli paru-paru itu, ternyata di fotonya nampak sudah setengah ditutupi dengan hitam.

Warna air kehitaman itu akibat terhirup tatkala terjadinya tsunami, korban itu telungkup dan terhirup air laut, mengakibatkan korban menurun daya tahan tubuhnya.

Kondisi korban sangat parah, selain di sebagian parunya telah ditutupi hitam, juga terlihat orangnya lemas sekali dan membiru tubuhnya.

Kalau sudah demikian itu sudah cukup parah dan harus disedot pasir yang ada di paru-parunya. Sementara di Aceh baru ada peralatan Bronskhus copi di Rumah Sakit Zainol Abidin Banda Aceh yang didatang dari Jakarta.

Baca juga: Tsunami Aceh 2004 | Penantian Seorang Ayah di Depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Alat Bronskhus copi tersebut telah pernah diusulkan beberapa waktu lalu untuk ke pentingan RSU Lhokseumawe, tapi mungkin karena dana sangat terbatas akhirnya usulan tersebut tidak terkabulkan.

Padahal kalau peralatan tersebut ada, semua paru-paru korban tenggelam itu bisa dicuci langsung dan sembuhnyapun akan lebih cepat.

Selama terjadi tsunami di Aceh, ada tiga tenaga medis dari Jakarta telah hadir ke Banda Aceh, mereka khusus bertugas untuk mencuci paru-paru.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved