Breaking News:

Michigan State University, USK, dan Instiper Gelar Pelatihan Perhitungan Stok Karbon Hutan Aceh

Pelatihan ini bertujuan memperkenalkan teknik (tools) pengumpulan data pengukuran carbon stock, biodiversity dan kondisi kesehatan hutan Aceh.

for serambinews.com
Peserta pelatihan “Ecosystem Service Measurement and Monitoring Tools Workshop” berfoto bersama sebelum memulai acara di Kota Langsa, Rabu (17/2/2021). 

Laporan Said Kamaruzzaman | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Michigan State University (MSU) Amerika Serikat (AS) bekerja sama dengan Program Studi Kehutanan (PS-HUT) Fakultas Pertanian (FP) Universitas Syiah Kuala (USK) dan Institut Pertanian (Instiper)-Jogyakarta melaksanakan pelatihan perhitungan cadangan carbon (Carbon stock) dan biodiversity yang dimiliki oleh hutan di Provinsi Aceh.

Pelatihan yang dilaksanakan selama 2 minggu ini mengikutsertakan peserta dari perwakilan stakeholder bidang kehutanan, akademisi dan perwakilan kelompok masyarakat yang terlibat dalam berbagai program Perhutanan Sosial.

Pelatihan ini bertujuan memperkenalkan teknik (tools) pengumpulan data pengukuran carbon stock, biodiversity dan kondisi kesehatan hutan (forest integrity) Aceh kepada para pemangku kepentingan dalam upaya mengelola dan mempertahankan kelestarian hutan di Provinsi Aceh.

Ketua Prodi Kehutanan FP USK Dr Ashabul Anhar menyatakan, pentingnya kegiatan yang sedang dilaksanakan ini sebagai salah satu upaya untuk mengetahui, menggali dan menghitung secara akurat berbagai potensi yang dimiliki dan tersimpan di dalam kawasan hutan Aceh.

Baca juga: Cegah Karhutla, BPBD Imbau Masyarakat Abdya Jangan Bakar Hutan Saat Buka Lahan

Baca juga: Kebakaran Hutan dan Lahan Kembali Terjadi di Aceh Selatan, Lokasi tak Bisa Ditempuh Mobil Pemadam

Baca juga: Memasuki Hari ke Tujuh, Jenazah Warga Manggeng Abdya Masih di Malaysia, Ini Kendala Pemulangan

Data hasil perhitungan dengan menggunakan metode yang dikembangkan oleh MSU ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan dapat digunakan oleh berbagai pihak untuk berbagai kepentingan.

Doktor lulusan salah satu universitas terkemuka di Jerman ini juga menambahkan bahwa pengelolaan hutan Aceh membutuhkan konsistensi, sumberdaya manusia dan dukungan pendanaan yang besar serta keseriusan Pemerintah Aceh terutama untuk secara kontinyu memantau perkembangan pengelolaan dan perlindungan hutan yang masih tersisa.

“Saat ini Aceh memiliki lebih dari 3 juta hektar kawasan hutan. Namun dalam pengelolaannya Aceh belum dapat menyajikan secara akurat dan aktual berbagai potensi yang dimiliki,” kata Ashabul Anhar sebagaimana disampaikan dalam siaran pers yang dikirim ke redaksi Serambinews.com, Rabu (17/2/2021).

Salah satu persoalannya adalah keterbatasan SDM dan pendanaan yang tidak memadai untuk melakukan aktivitas tersebut.

Salah satu titik lemah pengelolaan hutan Aceh saat ini adalah tidak tersedianya data berbagai potensi baik hasil hutan kayu maupun non kayu serta manfaat hutan lainnya yang up to date dan dapat dipertanggung jawabkan, kata Ashabul Anhar.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved