Michigan State University, USK, dan Instiper Gelar Pelatihan Perhitungan Stok Karbon Hutan Aceh
Pelatihan ini bertujuan memperkenalkan teknik (tools) pengumpulan data pengukuran carbon stock, biodiversity dan kondisi kesehatan hutan Aceh.
Penulis: Said Kamaruzzaman | Editor: Said Kamaruzzaman
Laporan Said Kamaruzzaman | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Michigan State University (MSU) Amerika Serikat (AS) bekerja sama dengan Program Studi Kehutanan (PS-HUT) Fakultas Pertanian (FP) Universitas Syiah Kuala (USK) dan Institut Pertanian (Instiper)-Jogyakarta melaksanakan pelatihan perhitungan cadangan carbon (Carbon stock) dan biodiversity yang dimiliki oleh hutan di Provinsi Aceh.
Pelatihan yang dilaksanakan selama 2 minggu ini mengikutsertakan peserta dari perwakilan stakeholder bidang kehutanan, akademisi dan perwakilan kelompok masyarakat yang terlibat dalam berbagai program Perhutanan Sosial.
Pelatihan ini bertujuan memperkenalkan teknik (tools) pengumpulan data pengukuran carbon stock, biodiversity dan kondisi kesehatan hutan (forest integrity) Aceh kepada para pemangku kepentingan dalam upaya mengelola dan mempertahankan kelestarian hutan di Provinsi Aceh.
Ketua Prodi Kehutanan FP USK Dr Ashabul Anhar menyatakan, pentingnya kegiatan yang sedang dilaksanakan ini sebagai salah satu upaya untuk mengetahui, menggali dan menghitung secara akurat berbagai potensi yang dimiliki dan tersimpan di dalam kawasan hutan Aceh.
Baca juga: Cegah Karhutla, BPBD Imbau Masyarakat Abdya Jangan Bakar Hutan Saat Buka Lahan
Baca juga: Kebakaran Hutan dan Lahan Kembali Terjadi di Aceh Selatan, Lokasi tak Bisa Ditempuh Mobil Pemadam
Baca juga: Memasuki Hari ke Tujuh, Jenazah Warga Manggeng Abdya Masih di Malaysia, Ini Kendala Pemulangan
Data hasil perhitungan dengan menggunakan metode yang dikembangkan oleh MSU ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan dapat digunakan oleh berbagai pihak untuk berbagai kepentingan.
Doktor lulusan salah satu universitas terkemuka di Jerman ini juga menambahkan bahwa pengelolaan hutan Aceh membutuhkan konsistensi, sumberdaya manusia dan dukungan pendanaan yang besar serta keseriusan Pemerintah Aceh terutama untuk secara kontinyu memantau perkembangan pengelolaan dan perlindungan hutan yang masih tersisa.
“Saat ini Aceh memiliki lebih dari 3 juta hektar kawasan hutan. Namun dalam pengelolaannya Aceh belum dapat menyajikan secara akurat dan aktual berbagai potensi yang dimiliki,” kata Ashabul Anhar sebagaimana disampaikan dalam siaran pers yang dikirim ke redaksi Serambinews.com, Rabu (17/2/2021).
Salah satu persoalannya adalah keterbatasan SDM dan pendanaan yang tidak memadai untuk melakukan aktivitas tersebut.
Salah satu titik lemah pengelolaan hutan Aceh saat ini adalah tidak tersedianya data berbagai potensi baik hasil hutan kayu maupun non kayu serta manfaat hutan lainnya yang up to date dan dapat dipertanggung jawabkan, kata Ashabul Anhar.
Dr. Jay Samek dari MSU sebagai salah seorang narasumber pada pelatihan ini, di dalam penyampaiannya (secara daring) menyebutkan bahwa tools yang dikembangkan oleh MSU ini tidak hanya berguna untuk mengetahui carbon stock yang dikandung oleh suatu kawasan hutan, namun dapat digunakan untuk merancang pengelolaan hutan secara lestari.
Baca juga: Wakil Wali Kota Langsa Sebut Penyediaan Data Perencanaan Pembangunan Masih Bermasalah
Baca juga: Dandim Bagi Pengalaman Usai Divaksin, Oke Kistiyanto: Alhamdulillah Sehat dan tidak Ada Efek Samping
Baca juga: Fantastis! Ashanty Beberkan Tarif Manggung di Acara Wedding Bersama Anang Capai Ratusan Juta
Misalnya untuk melakukan rehabilitasi, maka dapat menggunakan data ketersediaan anakan yang sesuai dengan kondisi lokal dan kelimpahan jenis yang tersedia secara alami di wilayah atau kawasan hutan setempat, tanpa harus mendatangkan jenis dari luar kawasan.
Hal ini penting diperhatikan untuk menghindari rendahnya keberhasilan rehabilitasi hutan dan lahan akibat salah dalam memilih jenis tanaman.
Pelatihan ini dilaksanakan dari tanggal 7 hingga 19 Februari 2020 di dua lokasi berbeda yang mewakili berbagai tipe ekosistem yang dimiliki hutan Aceh, yaitu Kawasan pesisir pantai barat Aceh, yang mewakili kawasan ekosistem rawa gambut dan tanah mineral serta kawasan pesisir pantai timur Aceh yang mewakili kawasan ekosistem mangrove.
Peserta pelatihan terdiri dari perwakilan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Aceh, KPH Tahura Pocut Meurah Intan, BKSDA Aceh, BPDASHL Kr. Aceh, BBTNGL, perwakilan Universitas Teuku Umar (UTU) dan Program Studi Kehutanan USK serta perwakilan kelompok masyarakat, dengan jumlah keseluruhan mencapai 60 orang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/workshop-kehutanan.jpg)