Breaking News:

Rektor IPB Resmikan Pembangunan Rumah Kasim Arifin, 'Mahasiswa Hilang 15 Tahun' di Maluku

Rektor IPB saat memberikan sambutan mengatakan, pihaknya berharap keluarga bisa menerima bantuan yang diberikan para alumni IPB.

for serambinews.com
Rektor IPB Prof Dr Arif Satria SP MSi meresmikan pembangunan rumah Muhammad Kasim Arifin yang ditandai dengan peletakan batu pertama di Gampong Rumpet, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Jumat (19/2/2021). 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Rektor IPB Prof Dr Arif Satria SP MSi me resmikan pembangunan rumah Muhammad Kasim Arifin yang ditandai dengan peletakan batu pertama di Gampong Rumpet, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Jumat (19/2/2021).

Turut serta dalam rombongan rektor, yakni Ketua Umum DPP Himpunan Alumni IPB Ir Fathan Kamil, mantan Ketua Umum DPD Himpunan Alumni IPB Aceh, Ir Razali MSi. Direktur SEAMEO Biotrop, Dr Zulhamsyah Imran.

Sedangkan Gubernur Aceh Diwakili oleh staf ahli, Drs Bukhari MM.

Kasim Arifin merupakan sosok inspiratif yang punya peran besar dalam memajukan masyarakat di Waimital, Maluku, sekitar 57 tahun silam.

Rektor IPB saat memberikan sambutan mengatakan, pihaknya berharap keluarga bisa menerima bantuan yang diberikan para alumni IPB atas berbagai dedikasi dan legasi Kasim Arifin yang luar biasa.

Rektor Arif Satria juga berharap sosok Kasim Arifin ini bisa memberikan inspirasi bagi mahasiswa dan pemuda Aceh untuk terus berbuat tanpa pamrih demi kepentingan masyarakat.

Mahasiswa diharapkan bisa menjadi aktor yang bisa memajukan pembangunan di desa.

Baca juga: Pemerintah Kembali Buka Kartu Prakerja Gelombang 12, Ini Syarat & Tips dari Pendaftaran hingga Ujian

Baca juga: Rektor IPB Akan Resmikan Pembangunan Rumah Kasim Arifin,  Disiarkan Live di Facebook Serambinews

Baca juga: Polres Gayo Lues Tangkap Seorang Oknum Dokter Bertugas di RSUD Muhamad Alikasim, Ini Penyebabnya

Kasim Arifin lahir di Langsa, 18 April 1938. Hanna Rambe dalam buku Seorang Lelaki di Waimital menceritakan dengan amat bagus sosok Kasim dan kiprahnya di Waimital, Pulau Seram, Maluku.

Sebagaimana diceritakan, IPB mengirimkan Kasim dan 2 temannya ke Maluku pada Oktober 1964 untuk mengikuti Program Pengerahan Mahasiswa (PPM) yang kini disebut Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Sejatinya program tersebut hanya berlangsung 8 bulan, namun Kasim tak mau pulang, meskipun dua temannya sudah kembali ke kampus. Di tempat terpencil di Waimital, Kasim melepas semua atributnya sebagai mahasiswa tingkat akhir IPB.

Kasim bertelanjang kaki seperti petani, berbaju lusuh dan kotor. Dia berbaur dengan orang-orang desa untuk membuka hutan, bercocok tanam, berbuat irigasi, dan mengajarkan semua ilmu pertanian yang dipelajarinya. Setiap harin Kasim berjalan kaki sejauh 20 km menerabas hutan untuk membuka arel pertanian dan membangun saluran irigasi.

Begitu hormat warga padanya, sampai-sampai warga kampung di Seram memanggil Kasim dengan sebutan Antua. Kini, namanya juga diabadikan pada sebuah jalan di Waimital, “Jalan Ir Muhammad Kasim Arifin.”

Pada tahun 1982, Kasim mendapatkan penghargaan kalpataru dari pemerintah atas jasa-jasanya membangun masyarakat desa dengan wawasan lingkungan hidup.

Baca juga: Peneliti IPB Sebut Masyarakat Gayo Masih Mengenali 406 Jenis Tumbuhan di Gayo dalam Bahasa Lokal

Baca juga: Program TMMD Ke-110 Kodim 0107/Aceh Selatan, Menjawab Impian Petani Desa Krueng Kluet

Baca juga: Nissa Sabyan dan Ayus Sudah 4 Kali Ketahuan Selingkuh, Padahal Sering Dimaafkan Sang Istri

Dipaksa pulang

Tidak kehabisan akal, Rektor IPB Prof Dr Andi Hakim Nasution kala itu mengutus teman-teman Kasim ke Waimital untuk membujuknya pulang.

Dengan berat hati, Kasim pun akhirnya pulang, Dia kembali ke kampus, dengan sandal jepit dan baju lusuh. Di kampus, dia diminta membuat skripsi sebagai tugas akhir agar lulus jadi sarjana. Kasim mengaku tak sanggup membuat.

Lalu, teman-temannya berinisiatif merekam kisahnya di Waimital untuk diajukan sebagai skripsi. Di lalu bercerita 28 jam. Teman-temannya kemudian mencatat, dengan mata basah. Catatan inilah yang diajukan sebagai skripsi.

Pada September 1979 Kasim disiwuda. Dia akhirnya mengabdi di Universitas Syiah Kuala sebagai dosen hingga pensiun. Kasim meninggal dunia karena sakit pada tahun 2006.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved