Breaking News:

Kupi Beungoh

Game Online Merajalela, Wabah Pikun Mengancam Generasi Muda Aceh

Gamer Indonesia mampu menghabiskan waktu bermain game online satu ronde tanpa berhenti sekitar 1 jam 23 menit.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Nabila Umami Sufyadi, alumnus Dayah Modern Terpadu Al-Manar Cot Irie. 

Mereka butuh uang untuk bayar rental fasilitas internet di warnet dan berfoya-foya.

Melihat kenekatan tiga pelajar di Aceh Tengah ini hampir dapat disimpulkan bahwa kecanduan game online mendekati bahaya penyalahgunaan narkoba.

Kita sering membaca berita pengguna narkoba kerap melakukan aktivitas pencurian, pencopetan, perampokan, dan perampasan untuk memenuhi kebutuhannya.

Kita dapat dengan leluasa menyaksikan anak-anak muda Aceh (mulai pelajar SD, SMP, SMA hingga mahasiswa) duduk berjamaah di sejumlah warung kopi yang menyediakan fasilitas wi-fi di Banda Aceh dan kota-kota lainnya di Aceh yang berlaku Syariat Islam.

Di layar android dan laptop mereka mayoritas terlihat aneka permainan online.

Walau duduk bersebelahan dengan temannya, mereka nyaris tidak saling menatap atau berbicara.

Bola mata mereka melotot pada layar HP dan laptop.

Para orangtua di kampung mengira anak-anak mereka sangat tekun dalam belajar di kampus, pustaka atau di rumah kos.

Aktivitas mereka nyaris tidak terpantau oleh orangtuanya.

Mereka bebas, tak ada yang melarang.

Aparatur pemerintah, aparat keamanan, pemuka adat dan agama juga nyaris tak berbuat apa-apa atas fenomena merebaknya permainan online di Aceh. Duh!

Baca juga: Jual 50 B Chip Game Domino, Mahyudin Ditangkap Polisi dan Terancam Hukum Cambuk

Baca juga: Lagi, Polisi Tangkap Penjual Chip Game Domino, Kali Ini di Aceh Barat Daya, Rp 3,2 juta Diamankan

Baca juga: Pria Lajang Jual Chip Higgs Domino Seharga Rp 67 Ribu, Tak Berkutik Saat Dibekuk Polisi di Rumahnya

Plang Beukah Karena Game

Kecanduan akan game online dapat mempengaruhi psikologi seseorang.

Permasalahan ini dianggap serius oleh World Healt Organization (WHO) yang mengeluarkan statement bahwasanya kecanduan game online merupakan suatu gangguan mental.

Bagian Klasifikasi Penyakit Internasional WHO telah menganalisa berdasarkan referensi mengenai penyakit yang diakui dan diagnosa.

Dalam referensi tersebut, WHO menggambarkan kecanduan game digital dan video sebagai pola perilaku permainan yang terus-menerus atau berulang. (WHO, Gaming Behaviour, released by WHO Americans on September 2018)

Professor dari Tokyo’s Nihon University, Akio Mori (2008), memaparkan hasil penelitiannya tentang dampak game online pada aktivitas otak.

Dari penelitian Akio Mori tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat 2 poin penting.

Pertama, penurunan aktivitas gelombang otak depan yang memiliki peranan sangat penting dengan pengendalian emosi dan agresivitas sehingga mereka cepat mengalami perubahan mood, seperti mudah marah, mengalami masalah dalamhubungan sosial, tidak konsentrasi, dan lain sebagainya.

Kedua, penurunan aktivitas gelombang beta merupakan efek jangka panjang yang tetap berlangsung meskipun gamer tidak sedang bermain game.

Dengan kata lain, gamers mengalami ‘autonomic nerves’ yaitu tubuh mengalami pengelabuan kondisi dimana sekresi adrenalin meningkat sehingga denyut jantung, tekanan darah dan kebutuhan oksigen terpacu tajam.

Temuan Akio Mori diperkuat oleh Professor Leif Salford yang merupakan seorang peneliti masalah dampak pemakaian telepon selular (ponsel) terhadap kesehatan.

Gelombang mikro yang keluar dari ponsel dapat memicu timbulnya penyakit Alzheimer (kepikunan) lebih awal dari usia semestinya. (Lihat Salford, Leif G; Arne E. Brun, Jacob L. Eberhardt, Lars Malmgren, dan Bertil R. R. Persson, 2003).

Alzheimeir menyebabkan menurunnya kemampuan berfikir serta kemampuan mengingat-ingat atau memori.

Gejala penyakit alzheimer mirip dengan orangtua yang sudah pikun alias plang beukah.

Anak yang sudah kecanduan game online akan sanggup untuk berada di depan layar monitor hingga berjam-jam, bahkan berhari-hari.

Hal ini akan menyebabkan gangguan pada mata, gangguan jiwa (psikologi) dan gangguan sosial seperti cuek terhadap teman dan lingkungan sekitarnya.

Baca juga: Palestina Minta Dukungan Internasional, 28 Keluarga Terancam Tergusur di Jerusalem Timur

Tegakkan Fatwa MPU

Fenomena game online di Aceh sangat memprihatinkan.

Jika ini dibiarkan dan tanpa ada upaya pencegahan, maka bersiap-siaplah Aceh berada dalam bahaya kedatangan generasi muda pikun dan idiot massal ke depannya, atau generasi plang beukah.

Untuk menanggulangi permasalahan ini perlu adanya regulasi tertulis dan sinergis kebijakan pemerintah dan tokoh masyarakat untuk menindak masyarakat yang bermain game online.

Pemerintah diharapkan dapat memberikan sanksi untuk menekan korban dari dampak negatif yang ditimbulkan oleh game online.

Hukuman yang diberikan selayaknya mampu mengedukasi dan memberikan efek jera bagi penggunanya.

Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh telah mengeluarkan fatwa

Nomor 3 Tahun 2019 Tentang Hukum Game PUPG (Player Unknown’s Battle

Grounds) dan Sejenisnya Menurut Fiqh Islam adalah haram.

Fatwa MPU Aceh ini harus ditegakkan oleh aparat pemerintah yang ada di level provinsi, kabupaten/kota, hingga kecamatan dan gampong.

Aparat kemamanan dari unsur kepolisian dan Wilayatul Hisbah di berbagai jenjang didorong untuk melakukan razia secara rutin tempat-tempat yang lazim digunakan untuk bermain game online.

Demikian juga aparatur kecamatan, mukim, dan desa, perlu menggelar razia dan memberikan arahan hingga sanksi sesuai qanun atau adat setempat kepada pemain game online dan pihak yang menyediakan fasilitas game online.

Dengan kerja sama yang terpadu, Aceh dapat dibebaskan dari pengaruh game online sehingga terjauh dari kelahiran generasi alzeimer alias generasi pikun atau plang beukah. Semoga!

Baca juga: Farid Kembali Ingatkan Dampak Buruk Game Online

Baca juga: Tu Sop Singgung Pemuda Aceh Lalai dengan Game Online, Ada yang Sampai Lupa Ibu dan Istri

Banda Aceh. 18 Maret 2021

*) PENULIS, Nabila Umami Sufyadi, adalah alumnus Dayah Modern Terpadu Al-Manar Cot Irie, Peserta MTQ Cabang Karya Tulis Ilmiah Quran (KTIQ) dari Aceh Besar 2021, email: nabilaumamioctaryadi@gmail.com)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved