Breaking News:

Opini

Ie Bu Peudah, Masakan Retro Khas Ramadhan di Aceh

SEHARI menjelang Ramadhan, 29 Syakban 1442 Hijriah, bertepatan dengan 12 April 2021 Masehi, beberapa sisi jalan utama di Kota Banda Aceh

Editor: hasyim
Ie Bu Peudah, Masakan Retro Khas Ramadhan di Aceh
IST
AYU ‘ULYA, Pengurus Bidang SDM Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Aceh dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Banda Aceh, melaporkan dari Singkil

Sebagai warga Gampong Nusa yang punya segelintir ilmu terkait tumbuhan herbal, ia menyayangkan pola konsumsi masyarakat Aceh di zaman modern kini yang makin jauh dari gaya hidup sehat.  Setuju dengan penjelasan itu, Nek Po—yang tetap bugar di usia menjelang 80 tahun—ikut berkomentar. “Kan Tarawih, makan ie bu peudah, biar kuat,” jelasnya sumringah. Menurut Rubama, bagi Nek Po, tiada Ramadhan tanpa ie bu peudah. “Wah, kalau enggak ada ie bu peudah, bisa ngambek  Nek Po,” candanya.

Ie bu peudah merupakan salah satu jenis masakan khas Aceh yang sudah hadir semenjak berdirinya Kerajaan Aceh. Hidangan retro (masa lalu) tersebut awalnya diciptakan bukan hanya sebagai menu berbuka puasa, tetapi juga sebagai obat alami. “Memang dulu Aceh sering terkena wabah ta-eun. Makanya dikondisikan herbal-herbal sebagai bahan makanan publik. Sebagai antisipasi ta-eun,” terang seorang pakar sejarah Aceh, M Adli Abdullah PhD, saat saya hubungi via WhatsApp.

                                    Teracam punah

Sebesar manfaatnya, sebesar itu pula perjuangan dalam mempersiapkan segala bahan sajian ie bu peudah ini. Bukanlah hal mudah untuk menemukan beragam jenis tumbuhan herbal di dalam hutan. Perlu berhari-hari pencarian untuk menemukan bahan racikan masakan yang dibutuhkan.

“Ie bu peudah ini merupakan makanan tradisional khas berbuka puasa Ramadhan. Tidak didapatkan pada bulan-bulan lainnya. Untuk mencari daun-daun ini juga enggak mudah. Apalagi sekarang marak perambahan hutan untuk dibikin jalan, bangunan, dan sebagainya. Jadi, banyak jenis daun yang sudah hilang,” papar Nurhayati.

Menurutnya, jika hutan tak dijaga dan tumbuhan-tubuhan herbal tidak dibudidayakan, maka akan banyak khazanah budaya Aceh yang teracam punah.

Nurhayati juga menambahkan bahwa peneliti Aceh yang meluangkan waktu dan tenaga untuk mengkaji kebudayaan dari sisi kuliner dan tumbuhan herbal masih sangat terbatas jumlahnya. Padahal, menurut ceritanya, justru peneliti luar Aceh yang lebih tertarik akan hal ini.

“Kami pernah membuat buku bersama Teh Nissa, pengelola Pesantren Ekologi Indonesia, Ath Thaariq, Garut, Jawa Barat. Dia tinggal di sini untuk meneliti beragam jenis daun di hutan-hutan Aceh. Teh Nissa bilang, ’Luar biasa, negeri Aceh yang sedemikian rupa, tapi mahasiswa Aceh tak membuat penelitian tentang ini.’ Begitu katanya,” kenang Nurhayati.

Bagi Nurhayati dan warga gampong Nusa, modernisasi tidak harus selalu disikapi dengan melupakan budaya dan adat istiadat yang telah ada. Jika hal itu memang baik maka seharusnya dipertahankan bahkan dikembangkan sesuai zamannya. Oleh karenanya, dibutuhkan inovasi dalam mem-branding kembali minuman dan makanan sehat khas yang dimiliki oleh Provinsi Aceh.

“Di Nusa, kita sudah mencoba menyajikan teh serai dengan jeruk nipis dan selasih kepada tamu yang hadir. Kita mem-branding minuman sehat agar tidak kalah dengan minuman modern. Supaya sajian alami bisa naik kelas,” kata Rubama. Sepakat dengan visi sang adik, Nurhayati menambahkan, ”Racikan bumbu ie bu peudah ini juga kita jual dengan harga terjangkau dan tetap kita sajikan sebagai makanan berbuka puasa di gampong ini agar sajian tersebut tidak hilang tergerus zaman.” Ya, begitulah.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved