Breaking News:

Salam

Libatkan Psikolog untuk Tangani Pelempar Bus

Harian Serambi Indonesia edisi Ahad kemarin menyajikan dua berita terkait kasus pelemparan bus. Dalam berita pertama disebutkan bahwa

Editor: hasyim
ILUSTRASI 

Harian Serambi Indonesia edisi Ahad kemarin menyajikan dua berita terkait kasus pelemparan bus. Dalam berita pertama disebutkan bahwa seluruh polisi di Kota Langsa meningkatkan patroli di ruas jalan nasional–menjelang tengah malam hingga pagi hari–guna mengantisipasi terjadinya kembali kasus pelemparan bus.

Berita kedua mengabarkan bahwa Polsek Birem Bayeun, Aceh Timur, Jumat (16/4) siang menyerahkan tiga tersangka pelaku pelemparan Bus JRG di Jalan Medan-Banda Aceh, kawasan Desa Aramiah, Kecamatan Bireum Bayeun, Aceh Timur, kepada Polres Langsa.

Mereka adalah MK dan MR, sama-sama 18 tahun, keduanya warga Gampong Aramiah dan I (16), warga salah satu desa di Kecamatan Bireuem Bayeun.

Seperti diketahui, pelemparan bus antarprovinsi itu terjadi Jumat (16/4/2021) menjelang sahur. Kali ini yang menjadi sasaran pelemparan adalah bus baru, JRG, dengan pelat polisi D 7634 YA.

Kapolres Langsa, AKBP Agung Kanigoro Nusantoro MH, melalui Kapolsek Bireuem Bayeun, Iptu Eko Hadianto, Sabtu (17/4/2021) menyebutkan, pihaknya sudah menyerahkan tiga terduga pelaku pelemparan bus itu ke Sat Reskrim Polres Langsa. “Proses hukum terhadap tiga terduga pelaku pelemparan bus tersebut ditangani oleh Satuan Reskrim Polres Langsa, makanya mereka sudah kita serahkan ke pihak Satreskrim,” tutup Iptu Eko Hadianto.

Dalam catatan Serambi, pelemparan bus tersebut merupakan kasus pertama di Aceh selama bulan suci Ramadhan 1442 Hijriah. Namun, kasus ini sudah sangat sering berulang, bahkan hampir setiap puasa pelemparan bus terjadi. Bukan bus dari satu perusahaan saja yang menjadi sasaran, tapi ada beberapa. Sejauh yang kita cermati, bus yang disasar acak. Terkadang Bus Sempati Star yang menjadi sasaran, di lain waktu Bus Pelangi, atau bus lainnya. Baru kali ini Bus JRG jadi sasaran dan perusahaan bus ini memang pendatang baru di dunia jasa angkutan darat di Aceh.

Selama ini kita mencatat belasan kasus pelemparan bus sudah terjadi di Aceh. Anehnya, bus yang dilempar selalu di lintasan utara dan timur Aceh. Baik yang menuju ke Medan maupun yang pulang dari wilayah Sumatera Utara.  Sebaliknya, di lintas barat selatan maupun di lintas tengah Aceh kasus seperti ini tak pernah terjadi.

Dari kejadian ini dapat kita bangun asumsi bahwa remaja di lintas utara dan timur Aceh lebih tinggi tingkat keisengannya. Kenapa kita berkesimpulan seperti itu, karena hanya di lintas utara dan timur Aceh peristiwa seperti ini terus berulang. Bahkan pernah seorang ibu yang sedang menggendong bayinya di dalam bus terluka kepalanya akibat lemparan batu dari pinggir jalan. Sopir pun sudah terlalu sering kena lemparan batu. Itu sebab, bus-bus di lintas utara dan timur Aceh semua pakai pelindung dari besi atau kawat seluruh kaca depannya. Ini langkah antisipatif agar batu atau benda keras lainnya yang melayang ke arah bus tidak menyebabkan kaca pecah dan mengenai sopir atau penumpang.

Dari kasus-kasus yang pelakunya tertangkap, semuanya beralasan bahwa mereka hanya iseng melakukan pelemparan bus, tak ada maksud lain. Hanya karena alasan itu pula, pelaku yang umumnya remaja dibebaskan pihak kepolisian. Tindakan permisif seperti ini tanpa disadari memicu lahirnya calon pelempar baru. Apalagi mereka selalu merasa punya waktu yang cukup untuk melempar bus, yakni menjelang sahur. Seolah puasa adalah momen khusus bagi mereka untuk berbuat kemudaratan terhadap orang lain, bukannya meraih pahala sebanyak-banyaknya.

Nah, kali ini mumpung tiga tersangka pelaku sudah tertangkap, mohon libatkan psikolog untuk menelusuri kondisi kejiwaan mereka. Jangan-jangan ada yang salah dalam aspek kejiwaannya sehingga mereka doyan berperilaku “copy cat” atau meniru perbuatan buruk dari pendahulunya. Apalagi mereka menyaksikan bahwa semua pelaku toh dibebaskan lantaran alasan mereka melempar bus hanya karena iseng. Coba sesekali hukum mereka atau paksa orang tuanya membayar kerugian terhadp kaca bus yang pecah atau penumpang terluka agar menimbulkan efek jera bagi mereka dan bagi yang lainnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved