Minggu, 17 Mei 2026

Kupi Beungoh

Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Pemula dan Pendiri Kaligrafi Kontemporer Nasional (VII)

Majalah Tempo, edisi 28 Juli 2014 menyebut Pirous sebagai “imam kaligrafi Indonesia”, sebuah gelar yang jarang dan  tidak gampang didapat.

Tayang:
Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Sosiolog Aceh, Ahmad Humam Hamid, berkunjung ke galery lukisan seniman Indonesia kelahiran Meulaboh Aceh Barat, Abdul Djalil Pirous (AD Pirous), di kawasan Dago Pakar, Bandung, April 2021. 

New York Zeigstat

Keindahan itu adalah berbagai tulisan arab klasik tangan di kuburan, tempat-tempat bersejarah, mushaf Alquran, dan berbagai tulisan kitab klasik yang didapatkannya di tanah kelahirannya, Aceh.

Hentakan sukmanya yang dasyhat adalah ketika ia berada di gemerlapan seni rupa moderen di sebuah tempat salah satu “Ibu kota semuanya dunia” New York.

Ia ingin kembali ke asalnya, menjadi dirinya, mengambil akarnya, dan kemudian tenggelam dalam inovasi, imajinasi, dan kreativitas tak bertepi.

Harus diakui, New York telah membuat Pirous ingin membawa yang “kuno” dan “klasik” masuk kembali ke dalam apa yang disebut oleh filosof klasik Jerman, Hegel sebagai zeigstat-semangat zaman.

Dengan segala kekuatan dan kelemahan semangat zaman yang terjadi pascarenaisance -zaman pencerahan, yang dilanjutkan dengan abad industrialisasi, telah menghasilkan modernitas.

Selanjutnya, seorangpun tidak bisa menangkal keniscayaan modernitas yang salah satu karkter intinya adalah “kebebasan berekspresi” telah membuat dunia berubah.

Itulah agaknya yang membuat Pirous ingin mempeloporinya dalam lukisan kaligrafinya yang oleh banyak kalangan disebut dengan “adaptasi” karakter barat.

Adaptasi karakter barat bagi Pirous bukanlah menyerah total kepada apa saja yang bernama Barat, terutama kebebasan berekspresi.

Ia hanya mengambil semangat modernitas, sebagaimana suatu waktu ketika ia pernah menyaksikan karya perupa modern Jepang di New York yang tetap memegang teguh akar tradisi Zen Budha dan perupa Cina yang tetap terjangkar kuat dengan identitas klasik Cina.

Apa yang dilakukan oleh Pirous sesungguhnya adalah sebuah pergumulan identitas seni rupa antara yang lama dengan yang baru, yang zeigstat yang juga dilakukan oleh berbagai bangsa yang tidak bisa meniscayakan gelombang besar modernisasi.

Lukisan kaligrafi Surat Al-Ikhlas karya AD Pirous. Lukisan ini disimpan di Serambi Pirous, Studio Galeri, di Jl. Bukit Pakar Timur II/111 Bandung, 40198, Indonesia.
Lukisan kaligrafi Surat Al-Ikhlas karya AD Pirous. Lukisan ini disimpan di Serambi Pirous, Studio Galeri, di Jl. Bukit Pakar Timur II/111 Bandung, 40198, Indonesia. (SERAMBINEWS.COM/Handover)

Pirous tahu benar, kalau tidak hati-hati, ia akan segera akan terperangkap dan masuk ke dalam gulungan arus westernisasi.

Pada skala besar global, apa yang dilakukan oleh Pirous adalah apa yang telah dikerjakan oleh bangsa Jepang, Korea Selatan, Cina, dan Singapore untuk menjadi modern, namun tetap mempunyai akar tradisi dan nilai-nilai yang kokoh.

Dalam potret peradaban yang lebih besar apa yang dilakukan oleh Pirous ketika mempelopori kebebasan berekspresi dalam kaligrafi nasional tidak lebih dari apa yang telah dikerjakan oleh filosof dan pemikir Eropah abad kegelapan yang mencuri Yunani yang hilang dan rumit yang telah dijinakkan dan dikompilasikan  oleh dunia dan peradaban Islam.

Bukankah Islam telah mengambil, mengislamkan, dan memajukan ilmu pengetahuan Yunani yang naris hilang dari muka bumi selama lebih dari 700 tahun.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved