Minggu, 17 Mei 2026

Kupi Beungoh

Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Pemula dan Pendiri Kaligrafi Kontemporer Nasional (VII)

Majalah Tempo, edisi 28 Juli 2014 menyebut Pirous sebagai “imam kaligrafi Indonesia”, sebuah gelar yang jarang dan  tidak gampang didapat.

Tayang:
Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Sosiolog Aceh, Ahmad Humam Hamid, berkunjung ke galery lukisan seniman Indonesia kelahiran Meulaboh Aceh Barat, Abdul Djalil Pirous (AD Pirous), di kawasan Dago Pakar, Bandung, April 2021. 

Ahmad Humam Hamid*)

KATA Begawan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai tiga arti, pertapa, orang mulia, dan seseorang sebagai peletak dasar dalam bidang tertentu.

Tidak heran kalau kemudian almarhum Professor Sumitro Joyohadikusumo digelar sebagai begawan ekonomi Indonesia.

Karena ia arsitek ulung ekonomi pemerintah Orde Baru yang memberikan peta jalan Indonesia keluar dari krisis ekonomi yang amat parah pada masa Orde Lama.

Sumitro juga dikenal sebagai peletak dasar ekonomi Orde Baru yang kemudian diteruskan oleh murid-muridnya Wijoyo, Emil Salim, Ali Wardhana, dan lain-lain.

Dengan melihat kepada kepada jagat senirupa Indonesia, terutama sekali yang berkaitan dengan kaligrafi, layakkah AD Pirous mendapat status sebagai begawan budaya Nusantara?

Memang harus diakui, sekalipun seni menulis indah-khat, ayat ayat Alquran di Indonesia telah berjalan relatif lama, namun banyak pihak megakui adalah AD Pirous yang menjadi pionir kaligrafi kontemporer Indonesia.

Majalah Tempo, edisi 28 Juli 2014 menyebut Pirous sebagai “imam kaligrafi Indonesia”, sebuah gelar yang jarang dan  tidak gampang didapat dari majalah bergengsi itu.

Gelar itu sebenarnya tidak lain dari sebuah kesimpulan tentang kepeloporan dan keberlanjutan kiprah Pirous dala seni rupa kaligrafi nasional.

Kita tahu, apapun yang terjadi dengan pemberitaan Tempo, terutama yang menyangkut dengan isu-isu budaya, tak akan pernah terlepas dari doktrin dari budayawan, sastrawan, dan wartawan mumpuni, Gunawan Mohammad.

Cukup banyak pengakuan dan kehormatan yang diberikan oleh berbagai pihak, seniman, kurator, pengamat seni rupa, dan media yang menempatkan Pirous tidak hanya sebagai seniman senirupa biasa, akan tetapi ia juga sebagai peletak dasar kaligrafi kotemporer.

Bahkan tidak kurang banyak menyebutkan Pirous adalah “pendobrak” untuk tidak menyatakan “pemberontak” terhadap kaligrafi murni yang lebih banyak bergumul hanya dengan seni khat klasik Naskhi, Sulus, Diwani, Farisi, Kufi, dan Riq’ah (Sirajudin 2000).

Meskipun tidak menerangkan, apa yang dikerjakan oleh Pirous dengan kaligrafinya adalah keluar dari aliran khat klasik yang membuat kaligrafi selesai pada huruf dan kata, dan mungkin juga ayat.

Apa yang dikerjakan oleh Pirous adalah memberi nuansa pada kaligrafi yang tidak selesai hanya dengan huruf.

Pirous mungkin harus berterima kasih kepada Barat, karena apa yang didapat ketika bersekolah di Rochester, New York, ia mendalami seni rupa moderen yang kemudian memberikannya inspirasi terhadap sesuatu yang indah di tanah airnya.

Baca juga: Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Menyaksikan Seniman Bertasbih dan Berzikir (I)

Baca juga: Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Menemukan Kembali Aceh di Amerika Serikat (II)

Baca juga: Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Kasab Meulaboh, Ibunda, dan Ikon Etnis (III)

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved