Kupi Beungoh
Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Pemula dan Pendiri Kaligrafi Kontemporer Nasional (VII)
Majalah Tempo, edisi 28 Juli 2014 menyebut Pirous sebagai “imam kaligrafi Indonesia”, sebuah gelar yang jarang dan tidak gampang didapat.
Dalam lintasan masa itu bukankah justeru ketika Eropah masih berada dalam zaman kegelapan.
Dalam konteks dunia Islam, apa yang disebut dengan kebebasan bereksperesi yang dianut oleh Pirous sebenarnya sudah terjadi jauh sebelum gelombang modernitas industrial yang dipelopori barat terjadi.
Berbagai keindahan Masjid Biru Istanbul yang hari ini mewakili salah satu seni arsitektur islami terhebat di dunia, tidak lain dari perpaduan bebagai gaya arsitektur.
Ada elemen klasik kristen Byzantium, yang dipadukan dengan bebagai unsur arsitektur tradisional Islam yang ada Timur Tengah pada saat itu (Gabar 1985).
Uniknya kebebasan berekspresi dalam arsitektur masjid pada masa dinasti Ottoman didorong oleh penguasa seperti Sultan Ahmad.
Apakah Masjid Biru itu kemudian bergaya Kristiani?
Sama sekali tidak, karena masjid yang dirancang arsitek Sedefkar Mehmed Agha, adalah salah satu murid arsitek legendaris Turki Mimar Sinan yang sekelas dengan arsitek dan perupa Michael Angelo di Roma.
Semua orang sepakat, tiga bangunan masjid terkenal Turki -Şehzade , Sülaiman Agung, dan Selim- tidak lain dari inspirasi kataderal Hagia Sophia yang arsitekturnya kemudian “diislamkan” oleh Sinan.
Apa yang dilakukan oleh Sedefkar Mehmed Aga untuk Masjid Biru Istanbul tidak lain dari aliran arsitektur yang diprakarsai oleh Sinan yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.
Baca juga: Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Silaban, Gerrit Bruins, Ibrahim Hasan & Estetika Baiturrahman (IV)
Baca juga: Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Ali Hasymi, Cinta Meulaboh, dan Universitas Teuku Umar (V)
Baca juga: Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Keislaman, Keacehan, dan Keindonesiaan (VI)
Kebebasan Ekspresi Kaligrafi
Dalam konteks kaligrafi kottemporer apa yang dilakukan oleh Pirous dengan menggali kaligrafi Aceh pada yang telah ada berabad-abad sebelumnya, ia hanya memastikan kebebasan ekspresi kaligrafi yang ingin ditampilkannya setelah mendapatkan bebagai ketrampilan kanvas di Amerika Serikat, tidak akan terlepas dari akar kaligrafi tradisional yang pernah ada di Aceh.
Ia juga ingin memastikan, bahwa pennggalan tradisonal tulisan indah Kalam Ilahi yang tersebar di Aceh dan seluruh Nusantara dapat berinteraksi baik dengan semangat seni kontemporer, tanpa kehilangan sustansinya, dan bahkan mampu membawa pesan yang lebih dasyhat ketika tersentuh dengan sematan elemen kebaruan.
Dalam konteks strategi kebudayaan, apa yang dikerjakan oleh Pirous dalam memasuki gelombang besar zegstat-semangat zaman adalah sebuah hukum besi pergumulan budaya antara kemampuan untuk bertahan dan kemampuan untuk berubah.
Intinya Pirous ingin menjadikan seni rupa kaligrafi yang ia kembangkaq adalah seni rupa Islam yang mempunyai dua ciri sekaligus; kokoh, namun fleksibel.
Kokoh, karena ia tak lari dari hakekat dasar keindahan penulisan Kalam Ilahi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ad-pirous-dan-humam-hamid-di-bandung.jpg)