Breaking News:

Kupi Beungoh

Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Pemula dan Pendiri Kaligrafi Kontemporer Nasional (VII)

Majalah Tempo, edisi 28 Juli 2014 menyebut Pirous sebagai “imam kaligrafi Indonesia”, sebuah gelar yang jarang dan  tidak gampang didapat.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Sosiolog Aceh, Ahmad Humam Hamid, berkunjung ke galery lukisan seniman Indonesia kelahiran Meulaboh Aceh Barat, Abdul Djalil Pirous (AD Pirous), di kawasan Dago Pakar, Bandung, April 2021. 

Dalam lintasan masa itu bukankah justeru ketika Eropah masih berada dalam zaman kegelapan.

Dalam konteks dunia Islam, apa yang disebut dengan kebebasan bereksperesi yang dianut oleh Pirous sebenarnya sudah terjadi jauh sebelum gelombang modernitas industrial yang dipelopori barat terjadi.

Berbagai keindahan Masjid Biru Istanbul yang hari ini mewakili salah satu seni arsitektur islami terhebat di dunia, tidak lain dari perpaduan bebagai gaya arsitektur.

Ada elemen klasik kristen Byzantium, yang dipadukan dengan bebagai unsur arsitektur tradisional Islam yang ada Timur Tengah pada saat itu (Gabar 1985).

Lukisan karya AD Pirous dengan judul “Surah Al-Isra II: Penghormatan pada Ibunda”. Lukisan itu  menegaskan “the origin” of AD Pirous dengan tiga keping bukti yang semuanya terkait dengan ibunya, yaitu Alquran, cerita, dan kasab yang semua itu adalah milik ibunya yang diwarisi kepada Pirous.
Lukisan karya AD Pirous dengan judul “Surah Al-Isra II: Penghormatan pada Ibunda”. Lukisan itu menegaskan “the origin” of AD Pirous dengan tiga keping bukti yang semuanya terkait dengan ibunya, yaitu Alquran, cerita, dan kasab yang semua itu adalah milik ibunya yang diwarisi kepada Pirous. (SERAMBINEWS.COM/Handover)

Uniknya kebebasan berekspresi dalam arsitektur masjid pada masa dinasti Ottoman didorong oleh penguasa seperti Sultan Ahmad.

Apakah Masjid Biru itu kemudian bergaya Kristiani?

Sama sekali tidak, karena masjid yang dirancang arsitek Sedefkar Mehmed Agha, adalah salah satu murid arsitek legendaris Turki Mimar Sinan yang sekelas dengan arsitek dan perupa Michael Angelo di Roma.

Semua orang sepakat, tiga bangunan masjid terkenal Turki -Şehzade ,  Sülaiman Agung, dan Selim- tidak lain dari inspirasi kataderal Hagia Sophia yang arsitekturnya kemudian “diislamkan” oleh Sinan.

Apa yang dilakukan oleh Sedefkar Mehmed Aga untuk Masjid Biru Istanbul tidak lain dari aliran arsitektur yang diprakarsai oleh Sinan yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.

Baca juga: Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Silaban, Gerrit Bruins, Ibrahim Hasan & Estetika Baiturrahman (IV)

Baca juga: Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Ali Hasymi, Cinta Meulaboh, dan Universitas Teuku Umar (V)

Baca juga: Kunjungan Ramadhan ke AD Pirous: Keislaman, Keacehan, dan Keindonesiaan (VI)

Kebebasan Ekspresi Kaligrafi

Dalam konteks kaligrafi kottemporer apa yang dilakukan oleh Pirous dengan menggali  kaligrafi Aceh pada yang telah ada berabad-abad sebelumnya, ia hanya memastikan kebebasan ekspresi kaligrafi yang ingin ditampilkannya setelah mendapatkan bebagai ketrampilan kanvas di Amerika Serikat, tidak akan terlepas dari akar kaligrafi tradisional yang pernah ada di Aceh.

Ia juga ingin memastikan, bahwa pennggalan tradisonal tulisan indah Kalam Ilahi yang tersebar di Aceh dan seluruh Nusantara dapat berinteraksi  baik dengan semangat seni kontemporer, tanpa kehilangan sustansinya, dan bahkan mampu membawa pesan yang lebih dasyhat ketika tersentuh dengan sematan elemen kebaruan.

Dalam konteks strategi kebudayaan, apa yang dikerjakan oleh Pirous dalam memasuki gelombang besar zegstat-semangat zaman adalah sebuah hukum besi pergumulan budaya antara kemampuan untuk bertahan dan kemampuan untuk berubah.

Intinya Pirous ingin menjadikan seni rupa kaligrafi yang ia kembangkaq adalah seni rupa Islam yang mempunyai dua ciri sekaligus; kokoh, namun fleksibel.

Kokoh, karena ia tak lari dari hakekat dasar keindahan penulisan Kalam Ilahi.

Fleksible karena seni rupa Pirous tidak berhenti hanya hanya pada kata, akan tetapi juga membawa berbagai pesan yang sangat sarat kepada yang melihatnya.

Paling kurang ada dua implikasi besar terhadap apa yang telah dimulai Pirous dengan kaligrafi kontemporer terhadap jagat budaya seni rupa nasional.

Pertama, kehadiran kaligrafi kontemporer yang dimulai oleh Pirous untuk pertama kalınya di loby Chase Manhattan Bank pada tahun 1972.

Kolase foto lukisan kaligrafi karya Abdul Djalil Pirous, seniman Indonesia asal Meulaboh Aceh Barat. Lukisan-lukisan ini disimpan di Serambi Pirous, studio galery, di Jl. Bukit Pakar Timur II/111 Bandung, 40198, Indonesia.
Kolase foto lukisan kaligrafi karya Abdul Djalil Pirous, seniman Indonesia asal Meulaboh Aceh Barat. Lukisan-lukisan ini disimpan di Serambi Pirous, studio galery, di Jl. Bukit Pakar Timur II/111 Bandung, 40198, Indonesia. (SERAMBINEWS.COM/Handover)

Setelah pameran itu, seni kaligrafi nasional kemudian bergulir, perlahan, untuk kemudian menjadi lebih cepat, dan terus berkembang sampai dengan hari ini.

Keunikan seni kaligrafi Pirous telah membuatnya tidak terikat dengan mazhab apapun.

Seni kaligrafi kontemporer Pirous dijuluki oleh kaligrafer senior Sirajuddin (2002) sebagai mazhab Jalili, yang oleh sebagian pengamat lain disebut dengan gaya Pirousi.

Bahkan keberanian Pirous untuk bebas mazhab telah memancing generasi kedua pelukis kaligrafi Indonesia untuk menemukan dan bahkan sudah menemukan bentuk awal mazhab mereka masing-masing.

Sebagai contoh Sirajuddin menyebutkan perupa kaligrafi kontemporer gaya Syaifuli -Syaful Adnan, Amani (Amang Rahman), Hendrawi (Hendra Buana. Yetmoni (Yetmon Amier), atau Akrami (Said Akram).

Kedua, tidak dapat dipungkiri salah satu produk orde baru dalam konteks Islam dan ummat Islam adalah lahirnya sebuah kelas menengah perkotaan yang kemudian ingin meneguhkan keberadaannya dalam kehidupan kebangsaan yang sehat dalam berbagai bentuk.

ICMInya BJ Habibie dan berbagai rupa kelas menengah Islam yang berciri progresif, ataupun liberal, berupaya mencari dan menggali berbagai identitas Islam Indonesia yang maju, berwawasan, modern, dan kompatibel dengan semangat zaman.

Munculnya berbagai pengajian di hotel-hotel mewah, terbitnya koran Republika, tampilnya seni musik dan lagu kasidah Bimbo, dan lahirnya bank Muamalat dan berbagai produk syariah lainnya, adalah fenomena tahun sembilanpuluhan yang kemudian terus bergulir adalah trade mark kelas menengah Islam yang kosmopolit, moderen, dan adaptif dengan kehidupan negara kebangsaan.

Kehadiran kaligrafi kontemporer yang diprakarsai oleh AD Pirous telah semakin menambah pula isi kolam identitas Islam dalam kolam besar seni dan budaya nasional.

Ummat Islam sebagai komponen demografi mayoritas republik yang telah cukup lama terobrak abrik semenjak masa penjajahan sampai dengan masa pascakemerdekaan, pada tahun sembilanpuluhan telah menemukan titik awal jati diri dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.

Kemunduran politik Islam identitas, kini telah tergantikan dengan Islam intelektual, Islam ekonomi, dan Islam seni yang mempunyai ciri tersendiri, namun tetap menjadi bagian penting dari seni rupa nasional.

AD Pirous telah membuka jalan kepada umat Islam, terutama seniman muslim untuk masuk ke sebuah ruang besar eksplorasi tak terbatas untuk mencari dan menemukan indentitas Islam yang tetap sesuai dan mengalir dengan semangat zaman.(*)

*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved