Breaking News:

Kupi Beungoh

Kembalikan Orientasi dan Pelaksanaan Kurikulum Pendidikan Islam ke Khittahnya

Selama Islam itu masih Islam yang dibawa Rasulullah saw. dengan Alquran dan Sunnah sebagai pedoman hidup, maka itu pedoman kurikulum bagi muslim

Editor: Amirullah
IST
Ainal Mardhiah, S.Ag, M.Ag, Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Ar Raniry Banda Aceh. 

Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Qashash ayat 77:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia isi kurikulum yang harus diterima seorang muslim adalah segala pengetahuan umum yang bermanfaat dalam rangka menghadapi perkembangan zaman, dan segala macam skill agar anak didik dapat survive dalam hidup secara materi/ekonomi, secara strategi dan metodologi.

Seperti fisika, kimia, matematika, sosiologi, seni dan lainnya yang dibutuhkan manusia untuk dapat survive dan dapat menghasilkan uang untuk bisa bertahan hidup.

Bagian kurikulum ini, yang menurut saya boleh diperbaharui, dikembangkan atau istilah lainnya, butuh pembaharuan, butuh perubahan, butuh revitalisasi agar sesuai dengan kemampuan anak dan kebutuhan, juga tuntutan zaman.

Jadi menurut saya bagian ini saja dari kurikulum yang boleh diutakatik, diganti, ditambah, dibuang atau lainnya.

Malah menurut saya bagian ini, harus selalu dievaluasi setiap waktu dan setiap periode agar sesuai dengan perkembangan zaman.

Kenapa kita harus mengembalikan orientasi dan pelaksanaan kurikulum pendidikan muslim pada Titah Ilahi, karena mau tidak mau kita akan kembali pada Nya, tentu akan ditanya dan dievaluasi di Padang Mahsyar sejauh mana pelaksanaan kurikulum yang sudah diturunkan Nya kepada setiap Muslim, kepada kita semua.

Hal ini perlu segera dilakukan, karena jika kita lihat realitas di kehidupan:

1. Semangat ke Islaman mulai luntur.

2. Semangat berdakwah hanya dilaksanakan sebagian orang padahal itu kewajiban setiap muslim.

3. Banyak anak-anak, baik laki-laki/perempuan, bapak-bapak/ibu-ibu belum lancar membaca al-Quran.

4. Sebagian anak dan bahkan mahasiswa tidak shalat dan ada yang belum bisa shalat.

5. Orang tua suddah tidak lagi ditaati oleh anak.

6. Banyak kasus perceraian dari rumah tangga muslim.

7. Anak-anak lebih banyak interaksi dengan hp/gadget/tv dibandingkan interaksi dengan Alquran, atau buku untuk belajar.

8. Remaja/siswa sekolah muslim terlibat tawuran,

9. Pergaulan bebas di kalangan remaja, dan orang tua

10. Terlibat narkoba baik pemakai maupun pengedar hingga bandar

11. Sering kita dengar diantara anggota keluarga, ketika orang tua meninggal, terjadi perselisihan tentang warisan sampai putus silaturahmi.

12. Serta banyak persoalan lainnya yang kini terjadi di kalangan masyarakat muslim.

Ini menunjukkan bahwa pendidikan yang diterima setiap muslim SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, PT (S1, S2, S3) yang kesemuanya ditempuh minimal dalam waktu 15 tahun.

Maka alangkah sayangnya jika hasil pelajaran itu tidak berpengaruh banyak untuk membimbing anak semakin berilmu, semakin patuh dan taat pada pencipta Nya.

Atau pendidikan harus mampu membuat anak sukses secara ekonomi.

Tapi faktanya, semakin hari semamakin banyak pengangguran.

Jangan sampai kita terlambat, jangan sampai anak-anak kita tidak mendapatkan bahagia di dunia secara materi, tahta dan jabatan, akhirat pun tidak karena tidak cukup bekal.

Sementara waktu tidak menunggu, umur tidak bisa kembali.

Ada hal yang harus dievaluasi bersama oleh guru, orang tua, masyarakat, dan pembuat kebijakan pendidikan di negeri ini.

Harus banyak diskusi bahwa pendidikan ini semestinya membuat anak didik semakin dekat dengan Rabb Nya, semakin semangat untuk mendapat kebahagiaan dunia, sehingga mendapat 2 kebahagiaan sekaligus, yaitu kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Banda Aceh, 14 Mei 2021

*) PENULIS Ainal Mardhiah, S.Ag. M.Ag adalah Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Ar Raniry Banda Aceh.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved