Jumat, 24 April 2026

Kupi Beungoh

Ekonomi Gampong Bakongan: Sawit, Rekonsiliasi Ekonomi dan Lingkungan (V)

kontroversi terbesar tentang agribisnis kelapa sawit adalah debat panjang antara sawit sebagai pembawa kemakmuran, dan sawit sebagai pembawa bencana

Editor: Amirullah
SERAMBINEWS.COM/Handover
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Pada tahun 2017, sawit menyumbang 39,31 persen perekonomian Riau, dan bahkan pada tahun 2016 menyumbang 22,65 persen untuk PDRB Riau (Bank Indonesia Perwakilan Riau, 2017).

Tidak hanya itu PDRB, nilai ekspor Riau pada tahun yang sama juga didominasi oleh kelapa sawit yakni 61,47 persen.

Sebuah catatan penting dari Riau pada tahun 2015 juga menunjukkan pendapatan petani sawit berada antara US$4.630- US$5.500 per tahun atau sekira Rp 70 juta- 82 juta per tahun.

Ini artinya pendapatan petani sawit rata-rata sekitar 7,5 juta rupiah perbulan.

Angka itu tidak berbeda jauh dari pendapatan yang diperoleh oleh petani sawit Bakongan, dan juga kulster petani sawit yang serupa di kabupaten sepanjang Barsela.

Baca juga: Ekonomi Gampong Bakongan: Rezim Transnasional Komoditi Sawit dan Reaganomics di Barsela (III)

Sawit dan Ancaman Lingkungan

Pada titik yang paling ekstrem lainya, sawit seringkali digambarkan sebagai tanaman pembawa “kutukan” lingkungan, baik kepada masyarakat lokal, sekaligus kepada kehidupan masyarakat global.

Agribisnis sawit seringkali digambarkan sebagai salah satu mesin deforestrasi kawasan hutan tropis yang tidak hanya merusak tataguna tanah dan air, akan tetapi juga memusnahkan keanekaragaman hayati yang luar biasa.

Pembukaan hutan untuk lahan sawit juga sering dikaitkan dengan penambahan gas rumah kaca yang akan membuat bumi semakin panas.

Hutan sebagai penangkap CO2-carbon dioxida, ketika dimusnahkan, akan membuat gas itu terbang ke atmosfir, dan secara perlahan namun pasti berkontribusi kepada pemanasan iklim global. 

Reuter (29/6/21) bahkan mencatat tahun 2021 ini tercatat dalam sejarah sebagai tahun terpanas dunia, lebih tinggi dari yang pernah terjadi pada tahun 1890.

Kasus cuaca panas di beberapa kota di dunia dalam beberapa hari ini- Ottawa-Kanada, Portland di Oregon,AS, dan Seatle, Washington AS, adalah bukti nyata bumi semakin panas.

Emisi karbon akibat polusi industri dam pembukaan lahan hutan tropis di Asia Tenggara, dan Amerika Latin-Brazil seringkali disebutkan bertemali dengan fenomena itu.

Ancaman terbesarnya adalah kehilangan keanekaragaman hayati yang cukup besar, yang pada akhirnya juga akan melahirkan berbagai malapetaka kemanusiaan, seperti kasus pandemi Covid-19 pada hari ini.

Kehilangan kenekaragaman hayati juga diketahui sebagai sebuah situasi yang tidak dapat dikembalikan.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved