Opini

Kemiskinan Aceh dan Akses Pasar

Laporan BPS Aceh beberapa hari yang lalu meyebutkan , Maret 2021 jumlah penduduk miskin di Aceh sebanyak 834,24 ribu orang, atau bertambah

Editor: bakri
For Serambinews.com
Reza Kamilin, Penulis adalah Camat Kuta Alam, Banda Aceh 

Pemerintah Aceh tentu perlu memberikan fokus yang besar bagaimana cara membuka akses pasar komoditi pertanian di Aceh. Di banyak negara berkembang, produksi dan perdagangan produk pertanian memainkan peran yang penting untuk pertumbuhan ekonomi. Hal ini memungkinkan negara untuk memperoleh devisa dan menciptakan lapangan kerja. Saat ini kita dengan mudah menemukan santan kemasan, bumbu siap saji, buah dalam kaleng dan bahan pertanian lainnya produksi Thailand pada supermarket-supermarket di Eropa.

Namun, kondisi umum saat ini, terutama di Aceh , sektor pertanian sering tetap terbelakang sebagai akibat dari investasi yang tidak memadai dan tidak seimbang dibandingkan dengan sektor lain. Pada saat yang sama, petani tidak memiliki akses informasi pasar yang mencukupi dan akibatnya memiliki daya tawar yang lemah. Petani kita belum mampu berinvestasi untuk memenuhi standar produk internasional yang ketat yang harus dipenuhi, sehingga aturan perdagangan yang ada cenderung mendukung perusahaan besar, bukan petani kecil.

Oleh karena itu, Pemerintah Aceh, harus memiliki strategi dan kebijakan yang akan memungkinkan bagi petani kecil mendapatkan keuntungan dari perdagangan internasional.

Terkait dengan hal di atas, ada yang disebut dengan market intelligence yang merupakan kajian singkat berisikan gambaran potensi pasar untuk pertanian, informasi terkini mengenai pasar suatu produk, peraturan impor di Negara akreditasi setempat, potensi pasar, negara pesaing, strategi penetrasi pasar, dan informasi penting lainnya.

Pemerintah Aceh tentu bisa fokus untuk beberapa produk tertentu yang mampu dihasilkan oleh petani kita dan punya potensi besar di pasaran. Misal, Pemerintah Aceh melalui dinas terkait, katakanlah sudah memiliki market intelligence di Andaman India, Malaysia, Singapura, dan negara tetangga potensial lainnya. Market intelligence ini akan menjadi pedoman penting bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui sektor pertanian di Aceh.

Beberapa Kementerian dan Kedutaan Besar Indonesia di beberapa Negara mengumumkan hasil martel atau market intelligence tahunan mereka untuk bidang dan komoditi tertentu. Martel tersebut juga memberikan informasi terkini mengenai pasar suatu produk, peraturan impor, pemetaan potensi pasar, Negara pesaing yang ada serta strategi penetrasi pasar dan informasi penting lainnya.

Dalam pemikiran yang sederhana, akses pasar yang didesain sedemikian rupa oleh Pemerintah Aceh berdasarkan data market intelegence yang akurat, akan mampu memberdayakan para petani Aceh yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menurunkan angka kemiskinan di Aceh tercinta.

Jika terwujud, betapa semangatnya petani kakao dan pinang di Pidie Jaya, atau petani kopi di Negeri Antara atau petani pala di selatan sana dalam merawat tanamannya, karena ada yang mendampingi mereka dalam proses produksi untuk mencapai kualitas tertentu serta tersedia koperasi milik pemerintah yang siap menampung hasil panen.

Pemerintah Aceh melalui koperasi menampung hasil panen dengan standar kulitas tertentu. Kerja sama wajib dibangun dengan dunia luar, tentu dengan analisa akurat berdasarkan akses pasar dan market intelegence yang telah dilaksanakan.

Menciptakan gairah ekonomi bagi masyarakat itu penting. Gairah ini akan menciptakan masyarakat yang optimis akan masa depannya, mewujudkan para pemuda yang penuh semangat berwirausaha, bukan para pemuda frustasi yang saban hari berhalusinasi dan akhirnya menjadi pecandu, bahkan penjual narkoba.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved