Jurnalisme Warga
Melukis Asa di Balik Dinding Pesantren
Dayah, yakni suatu lembaga pendidikan Islam yang terdiri atas bangunan, balai-balai, dan bersistem asrama
Yayasan ini berpusat di Kampong Putoh, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen.
Mungkin Anda pernah mendengar Dayah Mudi Mesra, nah Ummul Ayman ini berjarak sekitar 100 meter dari dayah terbesar di Kabupaten Bireuen itu.
Dayah Ummul Ayman ini termasuk di antara salah satu dayah yang menggabungkan antara pengajaran kitab dayah-dayah salafiyah dan pengetahuan umum.
Tak hanya belajar kitab-kitab kuning, di sini saya juga melanjutkan pendidikan formal saya di jenjang kuliah.
Pagi dan malam saya mengaji kitab, sedangkan siang dan sore, saya mengikuti pelajaran-pelajaran kuliah.
Menjadi manusia yang hidup di zaman milenial ini tentu harus mengikuti perkembangan zaman.
Itulah salah satu alasan lahirnya pesantren semi modern ini.
Akhir-akhir ini, ada orang-orang tua yang beranggapan bahwa seorang santri tidak ada masa depan, tidak bisa berbaur dengan masyarakat.
Pikiran negatif semacam itu kian marak digulirkan di tengah-tengah masyarakat sehingga banyak dari orang tua yang menciut keinginannya untuk mengantarkan buah hatinya ke pesantren, dengan alasan takut tidak ada masa depan.
Sejak masuk tahun 2012, tentu sudah banyak pengalaman yang telah saya peroleh.
Baik dari segi keilmuan maupun terkait tentang ilmu berkehidupan.
Dari segi keilmuan, awal mula niat saya menuntut ilmu yakni untuk menghilangkan kebodohan saya dalam beragama yang benar dan sesuai dengan tuntutan syariat.
Seperti diketahui bahwa untuk menuju ke titik terang (beragama yang benar) yakni melalui jalan yang tepat, salah satu medianya yaitu dengan menuntut ilmu agama.
Dalam hal ini, izinkan saya mengutip sepatah qoute dari seorang filsuf Jerman, Nicolaus Cusanus atau juga dikenal dengan Nicholas of Kues yang berpandangan bahwa ‘manusia itu adalah makhluk hidup yang selalu melakukan perjalanan, dalam perjalanan itu dibutuhkan ilmu pengetahuan.
Semakin banyak pengetahuan yang ia perlukan maka ia semakin menyadari betapa bodohnya dirinya’. Pendapat ini diabadikan dalam istilah ‘dedoctaignorantia’ (ketidaktahuan yang terpelajar, learnedignorance).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/mizaiturrahmi-putri-asal-cot-lheue-rheng-trien.jpg)