Kamis, 9 April 2026

Internasional

Wanita Afghanistan Membalas Taliban dengan Kampanye #DoNotTouchMyClothes

Wanita Afghanistan memulai kampanye online untuk memprotes aturan ketat berpakaian Taliban untuk siswa perempuan.

Editor: M Nur Pakar
Twitter
Baju tradisional yang berwarna-warni dan pernak-pernik wanita Afghanistan telah dilarang oleh Taliban. 

SERAMBINEWS.COM, KABUL - Wanita Afghanistan memulai kampanye online untuk memprotes aturan ketat berpakaian Taliban untuk siswa perempuan.

Menggunakan tagar seperti #DoNotTouchMyClothes dan #AfghanistanCulture, banyak yang membagikan foto pakaian tradisional mereka yang berwarna-warni.

Wartawan BBC Sodaba Haidare berbicara kepada wanita yang memicu perlawanan media sosial ini.

Ketik pakaian tradisional Afghanistan ke Google dan Anda akan kewalahan saat melihat gaun budaya multi-warna.

Masing-masing unik, dengan bordir buatan tangan dan desain berat, cermin kecil ditempatkan dengan hati-hati di sekitar dada, rok panjang dan berlipit.

Sehingga, cocok untuk diputar-putar selama "Attan" atau tarian nasional Afghanistan.

Beberapa wanita memakai topi bordir, yang lain memakai penutup kepala yang berat, tergantung dari daerah mana mereka berasal.

Baca juga: Utusan Afghanistan di PBB Tuduh Taliban Langgar Janji Melindungi Perempuan dan HAM

Versi kecil dari gaun serupa dikenakan setiap hari oleh wanita yang pergi ke universitas atau tempat kerja mereka dalam 20 tahun terakhir.

Terkadang celananya diganti dengan jeans dan syalnya disampirkan di kepala, bukan di bahu.

Namun foto-foto wanita yang mengenakan abaya hitam panjang bercadar berkumpul di Kabul selama akhir pekan untuk mendukung "tatanan Taliban" sangat kontras.

Dalam satu video, para wanita yang mengadakan rapat umum pro-Taliban di ibu kota terlihat mengatakan memakai make-up dan pakaian modern tidak mewakili wanita Muslim Afghanistan.

Merkea tidak ingin hak-hak perempuan yang asing dan bertentangan dengan syariah, mengacu pada versi ketat hukum Islam yang didukung oleh Taliban.

Bergabung dengan kampanye media sosial yang dimulai oleh Dr Bahar Jalali, mantan profesor sejarah di Universitas Amerika di Afghanistan.

Mereka menggunakan tagar seperti #DoNotTouchMyClothes dan #AfghanistanCulture untuk merebut kembali pakaian tradisional mereka.

Mahasiswi Afghanistan mengenakan pakaian serba hitam selama demonstrasi pro-Taliban di sebuah universitas di Kabul.
Mahasiswi Afghanistan mengenakan pakaian serba hitam selama demonstrasi pro-Taliban di sebuah universitas di Kabul. (AFP)

Baca juga: India Melihat Taliban Sebagai Ancaman Baru di Kashmir

Jalali mengatakan memulai kampanye karena salah satu kekhawatiran terbesarnya, identitas dan kedaulatan Afghanistan sedang diserang.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved