Breaking News:

Opini

Hikayat Air Kota Gemilang

aya terpaksa memulai warkah ini dengan analogi tersebut karena setiap bicara kritikan terhadap pemimpin, terutama Pemerintah Kota Banda Aceh

Editor: bakri
Hikayat Air Kota Gemilang
IST
Herman RN, Dosen FKIP USK Warga Kota Banda Aceh, dan Pegiat Literasi

Oleh Herman RN, Dosen FKIP USK Warga Kota Banda Aceh, dan Pegiat Literasi

KRITIKAN terhadap pemerintah atau pemimpin bukanlah sebuah kebencian, melainkan kepedulian dan kecintaan. Namun, sebagian orang menilai kritikan sebagai sebuah wujud ketidaksukaan atau imbas ketidaksenangan atau bentuk banciruman.

Saya terpaksa memulai warkah ini dengan analogi tersebut karena setiap bicara kritikan terhadap pemimpin, terutama Pemerintah Kota Banda Aceh, selalu ada klaim seolah itu karena saya benci. Sebagai warga Kota Gemilang yang baik, saya tidak akan pernah bosan mengingatkan Aminullah Usman-Zainal Arifin tentang kinerjanya, terutama janji masa kampanye bahwa persoalan yang paling krusial di Kota Banda Aceh ini, yakni air bersih, akan tuntas pada masa Pemerintahan Aminullah-Zainal. Hal ini saya lakukan sebagai bentuk kepedulian, bukan kebencian.

Sekadar mengingat, pasangan Aminullah-Zainal dilantik sebagai Kepala Daerah Pemerintah Kota Banda Aceh sejak 7 Juli 2017. Artinya, pasangan ini sudah memasuki masa akhir jabatan di Pemko Banda Aceh. Pasangan ini berhasil unggul dari rivalnya, salah satu sebab karena berjanji menuntaskan persoalan air bersih.

Beberapa kali Aminullah berpidato dalam kampanyenya bahwa ia akan menuntaskan persoalan air bersih di Banda Aceh dalam waktu sekejap. Bahkan, beberapa potongan artikel tentang air bersih sebagai kritikan terhadap Pemerintah Kota Banda Aceh sebelumnya dijadikan tim kampanye Aminullah sebagai ‘senjata membunuh’ karakter lawan kala itu.

Sebagai catatan, Aminullah sempat mengajak coffe morning para jurnalis di Banda Aceh pada masa kampanye. Dalam coffe morning di Tower Premium, 20 Januari 2017, Aminullah menyampaikan, “Yang harus dibenahi adalah manajemen PDAM, kemudian keseriusan pemerintah. Kalau sudah serius, pasti masalah ini selesai.”

Kalimat Aminullah ini sengaja saya kutip utuh agar ia ingat bahwa ‘air bersih’ adalah ‘senjata kampanye’ dirinya untuk membunuh karakter rival pada masa itu hingga berhasil menduduki kursi empuk Wali Kota Banda Aceh.

Aminullah memperlihatkan keseriusannya menuntaskan persoalan air bersih pada awal masa jabatan. Baru hitungan bulan duduk di kursi wali kota, Aminulah turun langsung ke beberapa saluran air bersih. Berita Aminullah masuk got memeriksa pipa air bersih di beberapa titik pusat kota sempat viral di media.

Foto-foto Aminullah sedang melongok ke dalam pipa air bersih beredar. Warga kota mulai merasakan ada air segar yang akan dibawa Aminullah. Namun, Forum Mahasiswa dan Pemuda Selatan Raya (Meuseraya) Banda Aceh, kala itu menilai perilaku Aminullah hanya pencintraan. Sekjen Meuseuraya, Delky, menyebutkan Aminullah sengaja mendatangi parit pipa PDAM sekadar selfie (lihat rekam jejak di media daring).

Pernyataan Sekjen Meuseuraya ini dibantah oleh Aminullah dengan janji. Ia berjajji dan menyebutkan bahwa akan bekerja keras, termasuk menyediakan dana sekian miliar rupiah demi lancarnya air bersih di wilayah Kota Banda Aceh (website bandaacehkota.go.id edisi 27 Februari 2018). Akan tetapi, hingga tahun kedua pemerintah Amin-Zainal (2019), persoalan air bersih belum juga tuntas.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved