Breaking News:

Berita Bisnis

Gawat! Kerugian Masyarakat Akibat Investasi Bodong Capai Rp 114,9 Triliun, Begini Sikap OJK

Selama satu dekade, masyarakat Indonesia mengalami kerugian yang cukup besar akibat investasi bodong yaitu lebih kurang mencapai Rp 114,9 triliun.

Penulis: Mawaddatul Husna | Editor: Saifullah
KONTAN
Ilustrasi investasi bodong. 

Laporan Mawaddatul Husna | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Selama satu dekade (2011-2020), masyarakat Indonesia mengalami kerugian yang cukup besar akibat investasi bodong yaitu lebih kurang mencapai Rp 114,9 triliun.

Angka tersebut tercatat bahwa pada 2011, kerugian yang dialami masyarakat sebesar Rp 68,62 triliun.

Kemudian, tahun 2012 Rp 7,9215 triliun, 2014 Rp 0,235 triliun, 2015 Rp 0,289 triliun, 2016 Rp 5,4 triliun, 2017 Rp 4,4 triliun, 2018 Rp 1,4 triliun, 2019 Rp 4 triliun, dan 2020 Rp 5,9 triliun.

Hal tersebut disampaikan Kepala Subbagian Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Aceh, Moishe Sofian A Sagir, Senin (27/9/2021).

Ia menjelaskan, permasalahan dari investasi bodong atau ilegal ini karena menjanjikan keuntungan tidak wajar dalam waktu cepat.

Lalu, nasabah juga dijanjikan bonus dari perekrutan anggota baru “member get member”.

Baca juga: Waspada Investasi Bodong! Begini Cara Cek Investasi Legal atau Tidak, Silakan Hubungi Nomor Ini

Baca juga: Berkedok Memajukan Ekonomi Umat, Mabes Polri Selidiki Dugaan Investasi Bodong 212 Mart di Samarinda

Baca juga: Investasi Bodong Edinar Coin Gold di Riau, Pelaku Sikat Uang Nasabah Hingga Rp 60 Miliar

Pelaku investasi bodong juga memanfaatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan public figure untuk menarik minat berinvestasi serta menjanjikan klaim tanpa risiko (free risk).

Tapi, legalitas investasi bodong ini tidak jelas, di antaranya tidak memiliki izin usaha, memiliki izin kelembagaan tapi tidak punya izin usaha, serta memiliki izin kelembagaan dan izin usaha, namun melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan izinnya.

“Penyebab utama dari investasi ilegal adalah masyarakat mudah tergiur bunga tinggi, masyarakat belum paham investasi, dan pelaku menggunakan tokoh agama, masyarakat dan selebriti,” sebutnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved