Uniknya Nama Ikan di Aceh, Penamaan Berdasarkan Ukuran Badan
Ternyata ada beberapa ikan di Aceh yang diberi nama berdasarkan ukuran badannya, sehingga ada satu jenis ikan yang memiliki tiga sampai enam nama.
Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: Amirullah
Berikutnya dinamakan 'pa-ak' yang beratnya di atas 20-25 kg.
Baca juga: Persoalan Batas Aceh-Sumut, Google Maps tidak Bisa Jadi Dasar Penetapan Batas Suatu Daerah
Yang paling besar dalam keluarga tongkol ini adalah tuna, panjangnya di atas 100 cm dengan bobot lebih dari 25 kg.
Ciri khasnya berekor kuning. Dagingnya lebih empuk dibanding tongkol. Panjangnya bisa di atas 1 meter dan lebih banyak diekspor daripada dikonsumsi di tingkat lokal.
Sesuai ukurannya, harga ikan ini pun bervariasi. 'Suree keumong' dihargakan 60.000-80.000 rupiah per ekor dan 'ame-ame' berkisar antara 100.000-140.000 rupiah per ekor. Tuna besar ada yang harganya jutaan.
Selain itu ada ikan 'sisiek itam', yakni sejenis tongkol berwarna itam dan sisiknya kecil-kecil dan lebih sedikit dibandingkan sisik ikan lainnya. Panjang ikan 'sisiek itam' ini berkisar antara 20-70 cm.
Keragaman nama dan ciri ikan tersebut terungkap dalam sesi persidangan 14 peserta Sidang Komisi Bahasa Aceh selama dua hari.
Baca juga: Tragis, Seorang Pria di Simeulue Ditemukan Tak Bernyawa dengan Muka Berlumuran Darah
Sebagaimana dikatakan Kepala Subbagian Tata Usaha Balai Bahasa Provinsi Aceh, Agus Priatna, Sidang Komisi Bahasa Daerah tahun ini khusus membahas draf kosakata bahasa Aceh di bidang kemaritiman untuk pengusulan ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Redaktur KBBI, Dewi Khairiah MHum yang menjadi narasumber dalam sidang komisi tersebut mengaku kagum atas keberagaman nama ikan di Aceh yang sebagian besar dinamakan berdasarkan ukuran badannya.
"Di tempat kelahiran saya, Sumatera Barat, sepertinya belum saya temukan mekanisme penamaan ikan yang seperti ini. Sungguh unik khazanah kemaritiman di Aceh," kata Dewi di akhir sidang komisi.
Sementara itu, Agus Priatna menduga nama yang beragam untuk satu jenis ikan tersebut tidak semua dicipta oleh para nelayan. Ada juga hasil kreasi dari tauke bangku dan pedagang ikan di pasar.
"Untuk membedakan harga ikan dengan ukuran tertentu, pedagang biasanya memberikan varian nama lain untuk ikan tersebut. Pembeli pun jadi mudah paham mengapa belanak atau tongkol dengan ukuran tertentu namanya lain dan harganya pun berbeda," urai Agus yang hobi memancing.
Namun, ia pertegas bahwa apa yang diutarakannya itu masih merupakan asumsi semata. "Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan asumsi ini benar atau salah," kata Agus yang kakeknya seorang pelaut di Ulee Lheue, kawasan pesisir barat Kota Banda Aceh. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/suasana-penutupan-sidang-komisi-bahasa-daerah.jpg)