Breaking News:

Kupi Beungoh

Menghisap Masa Depan Paru Aceh

Apalagi penyakit wabah seperti Covid 19 yang basil kuman nya dapat bertahan beberapa jam di udara sebelum menginvasi inangnya

Editor: Muhammad Hadi
FOR SERAMBINEWS.COM
Saiful Hadi Baroh, Founder Atjeh Lung Care, bekerja sebagai dokter puskesmas Mane, Kabupaten Pidie. Saat ini mengikuti program Pendidikan Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FK USK/RSUDZA. 

Pekerjaan di mana orang-orang terpapar debu, asap, dan bahan kimia juga dapat berkontribusi untuk berkembang penyakit paru obstruksi kronis pada usia produktif.

Sesuai data yang dirilis oleh  Centers for Disease Control and Prevention (CDC), kebiasaan merokok telah mengakibatkan  tingginya kematian yaitu sekitar 480,000 orang di Amerika.

Fakta dari penelitian lain menunjukan bahwa merokok adalah penyebab utama sekitar 90 % kejadian kanker paru setiap tahunnya. Bahkan sangat disayangkan, terdapat 8%  perokok usia anak dibawah 18 tahun setiap tahun.

Baca juga: Kemendagri Gelar Bimbingan Teknis Evaluasi APBD TA 2022 Melalui SIPD

Ini adalah data di dunia secara global yang menjadi acuan kita, bagaimna dengan di Aceh, boleh jadi angkanya jauh lebih tinggi akan tetapi diperlukan penelitian lebih lanjut dan dukungan semua pihak di Aceh untuk mendapatkan hasil penelitiaan yang akurat.

WHO sebagai organisasi kesehatan dunia telah melansir data secara global bahwa merokok telah menyebabkan 8 juta kematian setiap tahun, dan penyakit utama akibat rokok berhubungan erat dengan masalah paru.

Sebatang rokok mengandung 4.000 lebih bahan kimia yang bersifat toksin bagi tubuh dan merupakan pencetus berkembangnya sel-sel kanker.

Saat kita berhenti merokok berarti kita telah mendukung kesehatan fungsi paru tetap normal. Seorang perokok secara tidak sadar ikut menyumbang tingginya   resiko kejadian  penyakit paru teramasuk tumor paru , PPOK, brokitiis.

Deforestasi dan Kesehatan Paru

Deforestasi atau penggundulan hutan adalah kegiatan penebangan hutan atau pohon sehingga lahannya dapat dialihgunakan untuk penggunaan nonhutan, seperti pertanian dan perkebunan, peternakan, atau permukiman.

Deforestasi dapat menyebabkan perubahan iklim. Hutan yang diharapkan bisa menjadi paru dunia , kehilangan fungsinya untuk menjaga keseimbangan kadar oksigen di udara dan penyerapan karbondioksida akibat tingginya aktifitas industri dan polusi udara oleh berbagai penyebab.

Dari sudut pandang negara berkembang, hilangnya manfaat hutan (sebagai penyerap karbon atau cagar keanekaragaman hayati. Karena tidak adanya komintmen antara negara berkebang dan negara maju.

Negara berkembang yang memiliki huitan tropis yang luas merasa tidak adil ketika sebagian besar sisa pepohonan di hutannya hanya berfungsi sebagai paru untuk negara lain, hasil penyaringan udara bersih dari hutan mereka dikirim dengan haraga gratis untuk menjaga keseimbangan iklim global tanpa ada imbalan yang cukup untuk jasa tersebut.

Negara-negara berkembang merasa beberapa negara maju, seperti Amerika Serikat, telah mendapatkan banyak manfaat dengan menebang hutannya sendiri berabad-abad yang lalu, dan dinilai tidak pantas apabila negara-negara maju tidak membiarkan negara-negara berkembang memiliki kesempatan yang sama: dan saat ini wajar kalau kita renungi  bahwa negara miskin tidak harus menanggung biaya pelestarian hutan karena negara kayalah yang telah menciptakan masalahnnya .

Baca juga: Gara-Gara Harta Warisan, Seorang Pejabat Setdakab Aceh Tengah Gugat Ibu Kandungnya

Maka diperlukan komunikasi antara Negara sehuingga diputuskan adanya kompensasi yang layak bagi Negara-negara yang mampu menjaga kelestarian hutan. Karena tanap kita sadari hutan sangat berpengaruh terhadap kelembaban udara yang mempengaruhi Kesehatan paru kita.   

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh menyebutkan hutan daerah berjuluk "Tanah Rencong" itu rata-rata kehilangan hutan (deforestasi) sekitar 20 ribu hektare per tahun sepanjang periode 2013-2019.

Terkait dampak perubahan iklim terhadap kesehatan, Kemenkes telah merintis upaya adaptasi yang salah satunya dituangkan dalam Permenkes No. 1018/Menkes/Per/V/2010 tentang strategi adaptasi perubahan iklim terhadap kesehatan.

Upaya adaptasi lainnya yang telah dilakukan oleh Kemenkes RI, antara lain:  menyusun Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap (ICCSR); menyusun draft pedoman pemetaan faktor risiko lingkungan akibat perubahan iklim dan modul perubahan iklim; melakukan, dan melaksanakan workshop dampak perubahan iklim terhadap kesehatan tingkat South East Asia Region (SEARO) dengan bekerjasama dengan WHO dan Kedutaan Besar Perancis pada Juni 2009.

Besar Harapan kita, semoga pandemi ini segera berakhir dengan sempurna dan tidak berulang kembali. Kesehatan masyarakat kembali pulih, rehabilatasi sosial dan ekonomi akibat bencana biologis ini akan segera terwujud, sehingga kitab bisa Kembali merapatkan shaf-shaf shalat berjamaah, anak-anak kita bisa kembali sekolah, mahasiswa kita bisa kembali kuliah, dan masyarakat bisa kembali  beraktivitas normal, sehat dan produktif.

Baca juga: Jalan Amblas Lintas Blangkejeren-Takengon, Muatan Kendaraan Dibatasi

Terakhir kami mengajak semua kita untuk terlibat aktif menjaga kesehatan paru kita melalui program patuhi protokol kesehatan, berhenti merokok mulai sekarang, jaga pola makan sehat dan gizi seimbang, latihan fisik atau berolah raga teratur dan sesuai, dan yang paling penting terkait pandemi Covid-19 yang belum berakhir, mari jaga diri kita, keluarga dan masyarakat dengan mendukung program vaksinasi  yang dicanangkan pemerintah, karena vaksinmu melindungiku, vaksinku melindungimu.

*) PENULIS adalah Founder Atjeh Lung Care, bekerja sebagai dokter puskesmas Mane, Kabupaten Pidie. Saat ini mengikuti program Pendidikan Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FK USK/RSUDZA.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved