Selasa, 5 Mei 2026

Kupi Beungoh

Menghisap Masa Depan Paru Aceh

Apalagi penyakit wabah seperti Covid 19 yang basil kuman nya dapat bertahan beberapa jam di udara sebelum menginvasi inangnya

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
FOR SERAMBINEWS.COM
Saiful Hadi Baroh, Founder Atjeh Lung Care, bekerja sebagai dokter puskesmas Mane, Kabupaten Pidie. Saat ini mengikuti program Pendidikan Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FK USK/RSUDZA. 

Oleh : Saiful Hadi Baroh *)

Bulan November tahun ini merupakan bulan istimewa bagi dunia kesehatan. Di tengah euphoria dan bentuk syukur atas menurunnya kasus infeksi Covid-19.

Berakhirnya masa pandemi ini harus menjadi momen menumbuhkan kesadaran kita bersama akan adanya ancaman-ancaman kesehatan yang tanpa kita sadari telah mengganggu produktifitas, kesejateraaan ekonomi dan partisipasi sosial masyarakat. 

Bulan November adalah bulan Kesehatan Nasional karena pada Tanggal 12 November di peringati sebagai Hari Kesehatan Nasional atau lebih dikenal HKN.

Dalam lingkup Kesehatan paru, Bulan November adalah Bulan Kewaspadaan kanker paru.

Pada Tanggal 12 November juga diperingati sebagai hari Pnemonia se-dunia, dan hari ini Tgl 17 November diperingati sebagai hari Penyakit Paru Obtruksi Kronis (PPOK) yang dikenal sebagai World COPD Day.

Jika saja boleh kita analogikan, ada beberapa cara untuk menentukan penanggalan dalam Islam, yang biasa digunakan para pakar ilmu falak untuk menentukan awal Ramadhan atau kapan lebaran.

Selain metode rukyatul hilal, ada metode hisab. Hisab dalam artian menghitung, memprediksi dan hingga pada tahap akhir menentukan waktu pasti.

Baca juga: Dinkes Aceh Lakukan Perbaikan Data Vaksin

Akan tetapi, hisap yang kami maksudkan disini adalah bagaimana kita memperhitungkan dan memprediksi masa depan kesehatan paru masyarakat Aceh ditengah kurangnya kesadaran masyarakat akan faktor-faktor resiko yang mengurangi kinerja paru sebagai organ vital pernapasan.

Para pakar Kesehatan dunia telah memberi peringatan bahwa, ada ancaman serius yang berpotensi mengurangi produktifitas masyarakat akibat angka morbiditas penyakit paru dan saluran pernapasan yang semakin hari semakin mengkhawatirkan.

Selain dipengaruhi oleh gaya hidup individu yang serba instan, kurangnya mobilitas, perubahan sosiokultural, arus urbanisasi,  dan perubahan iklim juga menjadi isu hangat yang diprediksi bisa mempengaruhi kesehatan masyarakat global karena polusi udara yang di timbulkan.

Masyarakat Urban

Arus urbanisasi telah menarik sebagian besar penduduk rural pindah ke kota. Urbanisasi diprediksi menjadi faktor resiko tingginya penyakit paru dan saluran pernapasan. Karena urbanisasi diidentikkan dengan kepadatan penduduk.

Berdasarkan penelitian diketahui bahwa kepadatan penduduk memiliki hubungan yang nyata dengan insiden penularan penyakit infeksi saluran pernapasan jika tanpa disertai dengan system pertahannan kesehatan lingkungan yang baik, seperti infeksi tuberkulosis paru, corona virus atau basil kuman lainnya yang mudah menular melalui pneyebaran udara dan droplet penderita kepada individu yang sehat.

Interaksi sosioekonomi yang dilakukan oleh satu individu dengan individu lain akan semakin mempermudah laju penularan penyakit infeksi pernapasan.

Baca juga: Kapan Makmum Mulai Baca Al-Fatihah? Setelah atau Serentak Dengan Imam? Ini Kata Ustad Abdul Somad

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved