Jurnalisme warga
Pesona Wisata Alam dan Situs Sejarah Buton yang Mendunia
Ketika menginjakkan kaki di Kepulauan Buton, keindahan pertama yang saya lihat adalah Benteng Keraton

SHINTA ZAHRA, Mahasiswi Pendidikan Matematika Universitas Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh, sedang ikut Program Pejuang Muda 2021, melaporkan dari Bau-Bau, Sulawesi Tenggara
Ketika menginjakkan kaki di Kepulauan Buton, keindahan pertama yang saya lihat adalah Benteng Keraton Kesultanan Buton yang diberi nama La Sangaji. Benteng ini dibangun pada masa Sultan Kaimuddin pada abad ke-16.
Benteng ini termasuk benteng terluas sejagat raya, bahkan telah mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) dan Guiness Book Record yang dikeluarkan pada September tahun 2006 sebagai benteng terluas di dunia. Luasnya sekitar 23.375 hektare.
Hal yang lebih menarik lagi, benteng ini dibangun dengan batu gunung serta karang, lalu direkatkan dengan putih telur dan campuran pasir dan kapur. Benteng ini memiliki 12 pintu gerbang yang disebut Lawa dan 16 emplasemen meriam yang disebut Baluara.
Benteng Keraton Buton ini merupakan salah satu objek wisata bersejarah di Bau-Bau. Benteng ini sebetulnya adalah bekas ibu kota Kesultanan Buton dahulu yang bentuk arsitekturnya cukup unik. Keberadaan Benteng Keraton Buton ini memberikan pengaruh sangat besar terhadap eksistensi Kerajaan Buton pada masa dahulu. Dalam kurun waktu lebih dari empat abad, Kesultanan Buton bisa bertahan dan terhindar dari ancaman musuh pada masa itu. Kini, benteng ini adalah peninggalan yang kemudian dijadikan tempat wisata yang menarik perhatian para turis, termasuk saya pribadi, yang sangat terpesona pada keindahan alam sekitarnya.
Benteng Keraton ini berada di atas Bukit Wolio setinggi 100 meter dari permukaan laut. Tak kalah jauh saat siang hari, keindahannya juga lebih menarik saat malam.
Berada di Pulau Buton dengan segala keindahannya merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya.
Saya juga ingin ceritakan sedikit bagaimana awalnya sehingga saya bisa menjejakkan kaki di tanah Sulawesi bagian tenggara ini. Pertama, saya mendaftarkan diri ikut Program MBKM Pejuang Muda 2021 dibawah naungan Kemensos RI bekerja sama dengan Kemendikbud Ristek dan Kemenag. Program ini setara dengan kuliah 20 SKS. Setelah mendaftar, saya mengikuti latihan di Universitas Bina Bangsa Getsampena (UBBG) yang dibimbing oleh Bapak Zainal Abidin S, MPd, Ketua Lembaga Inkubator Bisnis UBBG. Pendaftar program ini dari seluruh Indonesia sebanyak 11.109 mahasiswa, lalu pada tahapan seleksi administrasi serta analisis kasus, yang lolos hanya 5.140 mahasiswa, termasuk saya. Mahasiwa yang lolos ditempatkan di berbagai kabupaten/kota se-Indonesia yang dibagi menjadi 514 tim dan wajib mengikuti kuliah di LMS pada Indonesia Pejuang Muda serta mengisi log book setiap harinya.
Sementara itu, di wilayah Sulawesi Tenggara ditempatkan sebelas tim. Satu tim jumlahnya kurang lebih sepuluh mahasiswa. Saya satu-satunya mahasiswa UBBG yang lolos program pejuang muda ini dan bergabung dalam satu tim dengan peserta daerah lain. Tim kami ditempatkan di Kabupaten Buton Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara.
Lewat program ini saya diberikan kesempatan untuk magang kerja selama dua bulan di dinas sosial setempat. Magangnya adalah membuat pengabdian masyarakat atas proyek yang harus dibangun di antaranya salah satu dari empat bidang, yaitu bantuan sosial, fasilitas umum, pemberdayaan fakir miskin dan lansia, serta pola hidup sehat dan kesehatan lingkungan.
Proyek ini akan diseleksi di tiap provinsi dan pusat Kementerian Sosial RI. Di balik itu juga, tim kami mempunyai tugas khusus, yaitu melakukan verifikasi serta survei ke rumah-rumah warga dalam rangka perbaikan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) melalui aplikasi SAGIS Mobile yang dirancang oleh Kemensos RI.
Sebelum berangkat, daya dilepas langsung oleh Rektor UBBG, Dr Lili Kasmini Msi, didampingi Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Cut Marlini MPd, Dekan FKIP UBBG Dr Musdiani M.Pd, serta Ketua Prodi Pendidikan Matematika Ahmad Nasriadi MPd.
Masih teringat jelas di ingatan saya pesan Bu Rektor kepada saya, “Dahulu pada masa muda ibu, perempuan tidak diperbolehkan untuk pergi jauh-jauh, sehingga memiliki keterbatasan untuk mewujudkan mimpi, bak menggapai bintang di langit. Ibu sangat bangga kepada Shinta yang mewakili UBBG pada Program Pejuang Pemuda 2021. Semoga sukses selalu dan dapat kembali lagi dengan selamat,” tutur Bu Rektor UBBG Banda Aceh.
Pesan menyentuh dari Bu Rektor tersebut, menumbuhkan lebih besar lagi semangat saya untuk melakukan perjalanan dari Aceh ke Sulawesi serta membuat saya berani meskipun seorang perempuan yang baru pertama kali melakukan penerbangan jauh.
Perjalanan saya selama dua hari dan tentunya sangat melelahkan, mulai dari ujung Sumatera hingga menuju ke Indonesia bagian tengah, yaitu Sulawesi Tenggara hingga tibalah di pulau bersejarah ini.