Kamis, 28 Mei 2026

Opini

Antisipasi Anak Durhaka Era Modern

Akhir-akhir ini, marak kasus-kasus nyeleneh terkait perilaku anak terhadap orangtuanya

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
M. Anzaikhan, S.Fil.I., M.Ag, Dosen Fakultas Syariah IAIN Langsa dan Founder Pematik 

Oleh M. Anzaikhan, S.Fil.I., M.Ag, Dosen Fakultas Syariah IAIN Langsa dan Founder Pematik

Akhir-akhir ini, marak kasus-kasus nyeleneh terkait perilaku anak terhadap orangtuanya.

Bila dulu, durhaka dipahami sebagai perilaku anak yang tidak mengakui ibunya.

Kini, durhaka bertransformasi menjadi gaya baru seolah itu sebuah kewajaran.

Baca juga: VIDEO POPULER BAHASA ACEH, Anak Gugat Ibu, Jembatan di Barat Selatan Aceh & Dapur Minyak Terbakar

Baca juga: BERITA POPULER – Anak Gugat Ibu di Aceh Tengah, Danjen Kopassus Jadi Pangdam IM, Kisah Toke Tawi

Baca juga: Pemkab Jangan Berpangku Tangan, Terkait Anak Gugat Ibu Kandung

Seperti kasus anak yang menggugat harta orangtua, anak yang mencoba mempolisikan ibunya, bahkan yang paling ekstrim anak yang mencoba merudapaksa ibunya karena kesal dimarahi (serambinews, 11/11/2021).

Ini adalah bagian dari praktek durhaka, meskipun dikemas dalam situasi yang berbeda.

Kejadian ketiga orang anak yang menyerahkan ibunya ke panti jompo juga tak kalah menyita perhatian (Serambi 01/11/2021), sebuah fenomena yang tidak patut dijadikan contoh khususnya bagi generasi penerus.

Terlepas apapun alasannya, apakah karena kesulitan ekonomi, atau karena tidak didukung oleh istri untuk tinggal bersama.

Semua itu berbanding terbalik dengan apa yang diperjuangkan seorang ibu untuk menghidupkan anak-anaknya.

seorang anak di Kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, menggugat ibu kandungnya terkait dengan harta warisan. Ironisnya, penggugat berinisial AH merupakan salah satu pejabat di lingkungan Setdakab Aceh Tengah.
seorang anak di Kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, menggugat ibu kandungnya terkait dengan harta warisan. Ironisnya, penggugat berinisial AH merupakan salah satu pejabat di lingkungan Setdakab Aceh Tengah. (Serambi Indonesia)

Mirisnya, ada keterangan bahwa pihak anak menyerahkan pengurusan pemakaman pada yayasan jika ibu mereka meninggal dunia. Itu berarti, secara tidak langsung ada sebuah penegasan bahwa mereka seolah tidak peduli lagi dengan kondisi ibunya (di penitipan), bahkan saat menghebuskan nama terakhirnya.

Nauzubillah, summa nauzubillah.

Muncul pertanyaan, fenomena seperti ini terjadi akibat karakter anak yang melampaui batas, atau pola didikan yang tak berjalan dengan baik?

Tentu ini menjadi bahan renungan bagi kita semua khusunya yang masih memiliki orangtua semasa hidupnya.

Padahal, orangtua yang tua renta, terlebih dalam keadaan sakit (lemah) adalah ladang amal bagi anak yang bersedia merawatnya.

Dalam hadis disebutkan; “Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.”

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved