Kamis, 28 Mei 2026

Opini

Antisipasi Anak Durhaka Era Modern

Akhir-akhir ini, marak kasus-kasus nyeleneh terkait perilaku anak terhadap orangtuanya

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
M. Anzaikhan, S.Fil.I., M.Ag, Dosen Fakultas Syariah IAIN Langsa dan Founder Pematik 

Memberikannya ilmu yang cukup serta mengajarkannya tentang praktek berkasih sayang.

Sebagai contoh, bawakan anak menjumpai anak-anak yatim yang fakir.

Ajak anak untuk makan bersama dan berbagi cerita dengannya.

Dengan begitu, anak akan merasakan betapa sulitnya hidup sebagai yatim. Secara tidak langsung, ia akan bersyukur memiliki orangtua.

Ia akan memahami, betapa berjasanya orangtua bagi dirinya.

Masalah selanjutnya adalah ‘harta’. Orangtua dengan banyak harta terkadang malah jadi sumber masalah saat sudah meninggal dunia.

Harta yang seharusnya menjadi kebaikan untuk ahli waris, justeru sering kali menjadi sumber azab orangtua di alam kubur.

Sebagai contoh, tidak mungkin terjadi gugatan terhadap orangtua bila tidak ada harta yang diperebutkan. Maka dari itu, cerdas-cerdaslah orangtua dalam meninggalkan hartanya.

Bila ada sebuah pilihan, mana yang lebih baik meninggalkan harta untuk anak, atau menghabiskan harta itu untuk menyekolahkannya?

Tentu saja ‘menyekolahkan anak’ jauh lebih utama. Menyekolahkan di sini adalah bentuk dari ikhtiar orangtua dalam memberikan ilmu buat anaknya.

Harta yang ditinggalkan, dengan sangat mudah akan digugat. Sementara pendidikan yang diperoleh, tidak ada anak lain yang meminta itu untuk dipindahkan.

Tergantung anak itu sendiri, sejauh mana ia mau belajar dan sejauh mana ia mau disekolahkan.

Seperti kata Syaidina Ali, harta harus dijaga, sedangkan ilmu justeru menjaga pemiliknya.

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved