Selasa, 26 Mei 2026

Masyarakat Adat

Ritual Giwu, Sanksi Adat Demi Kelestarian Danau Poso

Masyarakat adat meyakini kegiatan perusahaan itu telah merusak lingkungan di sana sehingga mereka menjatuhkan sanksi adat terhadap perusahaan tersebut

Tayang:
Editor: Taufik Hidayat
NationalGeographic.grid.id
Ritual giwu atau pemberian sanksi adat ini dilakukan setelah masyarakat sudah berusaha melayangkan protes langsung kepada perusahaan maupun pemerintah, tapi tak juga mendapat hasil yang layak. 

Kawanan kerbau dan sapi yang terdesak dari lahan penggembalaan kemudian merusak kebun dan sawah yang ada di sekitar. Hal ini berpotensi menimbulkan konflik antara para pemilik kerbau dan sapi dengan para pemilik kebun atau sawah yang dirusak hewan-hewan ternak tersebut.

Baca juga: VIDEO Pasangan Suami Istri dari Aceh Tuntaskan Touring Aceh-Papua Naik Sepeda Motor

Upaya warga untuk mencari penyelesaian yang adil telah dilakukan dengan berbagai cara. Sejak 2020 mereka sudah menyampaikan persoalan ini kepada pemerintah mulai dari tingkat desa hingga kabupaten serta DPRD Poso. Mereka juga telah menyampaikan protes ini secara langsung kepada pihak perusahaan.

Atas semua persoalan itulah, Masyarakat Adat Danau Poso kemudian menjatuhkan sanksi adat lewat ritual giwu ini. Isi sanksi adat adalah menuntut agar semua aktivitas pengerukan dan reklamasi di danau ini harus dihentikan. Mereka berharap tidak ada lagi kerbau yang mati dan tidak ada lagi sawah, kebun, maupun padang gembala yang terendam air dan rusak.

Manusia tak lepas dari sirkulasi alam dan rahasia-rahasianya. Begitu juga yang terjadi di Danau Poso, di mana manusia dan alam sangat berkaitan erat antara satu dengan lainya. Manusia Poso melihat danau sama seperti melihat manusia. Ada nilai universal yang di bawa. Karena dari zaman silam, orang Poso hidup dalam kebersamaan.

Ada tanda tanda alam yang berkaitan dengan masyarakat di Danau Poso kata Dimba Tumimomor, seorang pegiat budaya Poso, kepada National Geographic Indonesia pada kesempatan berbeda. Dia menuturkan, misalnya, saat pergi berburu dan memancing terdengar suara burung tengkek—layaknya suara tokek—itu akan menentukan sang pemburu jadi pergi atau tidak. Ketika berkebun pun demikian, jika lahan sudah tidak dipakai maka lahan harus dibiarkan tumbuh.

Baca juga: Uni Eropa Izinkan Vaksin BioNTech untuk Anak Usia 5-12 Tahun

Begitu juga dengan kehidupan danau dan manusia. Danau Poso telah memberikan bermacam hal yang menghidupi manusia. Orang Poso, menurut Dimba harus memeliharanya sebagai sumber kehidupan.

"Danau Poso itu memiliki tanoana (roh dan jiwa) dan tidak semata-mata punya tubuh (air, pantai pasir putih dan kuning, flora dan fauna). Kaya mitos, legenda, hikayat, kisah dan cerita," kata Dimba.

Danau Tektonik Poso merupakan salah satu dari potensi warisan geologi yang layak dijadikan taman bumi (geopark). Taman bumi merupakan wilayah terpadu warisan geologi yang berkelanjutan. Selain menjaga alam, potensi taman bumi juga bisa beririsan untuk menunjang kesejahteraan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Inilah harta karun Danau Poso sesungguhnya yang harus dijaga kelestariannya.(NationalGeographic.grid.id)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved