Salam
Ancaman Kelaparan di Afghanistan, Siapa Iba?
Di tengah keragu-raguan banyak pemimpin dunia terhadap Pemerintahan Taliban di Afghanistan, Perdana Menteri negeri itu
Di tengah keragu-raguan banyak pemimpin dunia terhadap Pemerintahan Taliban di Afghanistan, Perdana Menteri negeri itu --yang ditunjuk Taliban-- Mullah Mohammed Hassan Akhund malah meminta dunia untuk mengatasi ancaman kelaparan massal warga Afghanistan.
Sampai kemarin, ekonominya kian buruk, situasi politik di negeri yang baru dikuasai Taliban beberapa, bulan lalu itu juga belum membaik.
Baca juga: Gadis Afghanistan Dari Sampul Majalah Terkenal National Geographic 1984 Dievakuasi ke Italia
Baca juga: BNPT Ungkap Ustaz Farid Okbah Lulusan LIPIA Tergabung Kelompok JI, Alumni Kombatan Afghanistan
Baca juga: Setiap Sore Hari, Bus Penuh Sesak dari Iran Tiba di Islam Qala, Afghanistan
Mullah Mohammed Hassan Akhund menyerukan kebaikan hati dunia internasional untuk tidak menahan bantuan mereka karena Afghanistan saat ini terancam kelaparan massal.
Bahkan, karena kondisi perekonomian Afganistan yang kian parah, akibat inflasi, Taliban pun meminta kepada Amerika Serikat membuka sekitar $10 miliar dana Aghanistan yang dibekukan setelah Taliban mengalahkan pemerintahan sebelumnya pada pertengahan Agustus 2021.
Hassan Akhund juga berjanji pihaknya tidak akan menganggu masalah internal negara lain jelang pertemuan PBB mendatang di Doha.
Pimpinan Taliban itu menyalahkan pemerintahan sebelumnya yang didukung AS sebagai penyebab ancaman kelaparan, pengangguran, dan krisis keuangan Afghnistan.
"Jika uang Afghanistan dilepaskan, semua masalah keuangan dan ekonomi akan terpecahkan."
Baca juga: Iran Menampung Pengungsi Terbesar di Dunia, Sebagian Besar dari Afghanistan Sejak 40 Tahun Lalu
Delegasi Taliban yang dipimpin penjabat menteri luar negeri mereka, Amir Khan Muttaqi pekan lalu mengadakan pembicaraan dengan pejabat AS di Doha, Qatar.
Amir Khan Muttaqi berusaha membujuk AS agar mengeluarkan uang dan melanjutkan bantuan kemanusiaan ke negara itu.
Warga Afghanistan pendukung pemerintah sebelumnya yang masih sembunyi juga dituduh Akhund sebagai penyebab kian memburuknya situasi ekonomi, keuangan, dan politik di negeri itu.
"Bangsa, waspadalah. Mereka yang tersisa dari pemerintah sebelumnya yang bersembunyi menyebabkan kecemasan, menyesatkan rakyat untuk tidak mempercayai pemerintah sekarang," kata Akhund.
PBB baru-baru ini mengatakan bahwa lebih setengah dari hampir 40 juta orang di Afghanistan menghadapi kelaparan akut.
Satu juta anak-anak bisa meninggal karena musim dingin yang keras.
Baca juga: Iran Deportasi Kembali Pengungsi Afghanistan ke Taliban, Walau Ada Ancaman Kelaparan
PBB juga memperingatkan pada pertengahan 2022 sebanyak 97% dari negara itu bisa hidup dalam kemiskinan, naik dari sekitar 72% pada tahun 2020.
Masalah itu merupakan salah satu masalah kelaparan terburuk dalam beberapa dekade.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/satu-keluarga-pengungsi-afghanistan-di-kamp-tahanan-iran.jpg)