Salam
Ancaman Kelaparan di Afghanistan, Siapa Iba?
Di tengah keragu-raguan banyak pemimpin dunia terhadap Pemerintahan Taliban di Afghanistan, Perdana Menteri negeri itu
Meski “berkampanye” dengan isu kemanusiaan, antara lain ancaman kelaparan massal, akan tetapi hingga kini AS dan negara-negara lain belum mengakui Taliban sebagai pemerintah Afghanistan yang sah.
Beberapa negara mengakhiri bantuan ke Afghanistan.
Demikian juga Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional sudah mengatakan menyetop pinjaman internasional ke Afghanistan.
Negara-negara Barat secara tegas sudah berjanji mempertahankan blokade ekonomi mereka terhadap penguasa baru Afghanistan sampai Taliban menciptakan pemerintahan yang inklusif dan mengakui hak-hak perempuan.
Selain negara barat, beberapa negara Asia juga masih “melihat-lihat dan menunggu” janji Taliban yang ingin memerintah secara lebih moderat.
Pemerintah Taliban di Afghanistan saat ini memang sangat maskulin. Semua 53 anggota kabinet Akhund adalah laki-laki, dan berasal dari jajaran Taliban.
Lalu, perempuan Afghanistan sangat dilarang bekerja menjadi profesional.
Taliban beralasan, pengucilan terhadap perempuan dari pekerjaan sebagai uapaya menyelamatkan martabat perempuan.
Demikian juga pemisahan kelasan wanita dan laki-laki di sekolah. "Hari ini, wanita di Afghanistan aman dan tidak ada yang bisa meremehkan mereka," kata Akhund.
Sebaliknya, pengucilan perempuan itu pula yang menjadi alasan bagi banyak negara untuk menahan bantuan kemanusiaan kepada Afghanistan.Nah?!
Baca juga: 5.000 Pengungsi Afghanistan Memasuki Iran Setiap Hari, Dewan Pengungsi Norwegia Minta Bantuan
Baca juga: Amerika Serikat Khawatirkan Peningkatan Serangan ISIS-K di Afghanistan
Baca juga: Terdesak Kebutuhan Keluarga, Orangtua di Afghanistan Nekat Jual Anaknya yang Masih 9 Tahun
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/satu-keluarga-pengungsi-afghanistan-di-kamp-tahanan-iran.jpg)