Salam
Bukan Saja karena UUPA, Kita Memang Harus Bersatu
Harian Serambi Indonesia edisi Ahad (5/12/2021) kemarin mewartakan bahwa Wali Nanggroe Aceh, Tgk Malik Mahmud Al-Haytar
Dan, sesungguhnya bukan cuma dalam urusan revisi UUPA kita perlu bersatu. Dalam urusan membumikan dan melestarikan perdamaian pun kita wajib kompak dan bersatu.
Kita tahu, proses lahirnya MoU Helsinki itu terasa sangat elitis. Nah, setelah 16 tahun berlalu, butir-butir MoU itu sudah harus tersosialisasikan dengan seluas-luasnya, terutama kepada generasi muda Aceh. Jangan sampai kaum milenial Aceh menganggap perdamaian Aceh ini hanya urusan pemerintah pusat dengan elite GAM saja.
Spirit perdamaian ini harus ditularkan secara transgenerasi agar Aceh para penerus Aceh tetapi memiliki persepsi yang sama dengan generasi 16 tahun lalu tentang mengapa konflik bersenjata harus diakhiri dengan jalan damai.
Kita juga harus bersatu padu mengatasi angka kemiskinan dan pengangguran di Aceh, terlebih pada masa pandemi ini, mengingat Pemerintah Aceh seperti hampir kehabisan cara untuk mengatasinya dari tahun ke tahun.
Sumber daya noneksekutif, misalnya perguruan tinggi, intelektual GAM, aktivis LSM, tokoh masyarakat, ulama, Baitul Mal Aceh, dan praktisi ekonomi sudah saatnya dilibatkan untuk bersama-sama memerangi lilitan kemiskinan di Aceh. Setidaknya, kita jangan lagi selalu merupakan provinsi termiskin di Sumatra.
Dengan bersama kita bisa dan perdamaian yang usianya sudah lebih 15 tahun ini seharusnya telah mampu menghadirkan kesejahteran dan kemakmuran bagi rakyat Aceh. Puncak damai harusnya sejahtera.
Baca juga: LP Perempuan Sigli, Tempat Melatih Berbagai Keterampilan
Baca juga: Omnibus Law Cipta Kerja Inkonstitusional Bersyarat
Baca juga: Sertifi kat Vaksin Syarat Terima Bantuan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/wali-nanggroe-malik-mahmud-031121.jpg)