Jurnalisme warga
Menumbuhkembangkan Empati pada Anak
Mengeluarkan sumpah serapah di ruang publik, berkata kotor atau kasar terhadap temannya, membuang sampah sembarangan, marah ketika ditegur
Ternyata, ada perubahan pada mereka tentang bagaimana berempati terhadap sesamanya.
Sehingga, kelas yang dulunya diisi oleh ocehan dan celotehan tidak beraturan –yang kemungkinan menyinggung perasaan sesama mereka seperti yang arahnya bullying--secara berangsur-angsur berubah menjadi kelas yang aman, damai, dan harmonis.
Kedua, bertamasya ke kampung sekitar.
Cara yang kedua ini lebih efektif ketimbang yang pertama.
Cara inilah yang dilakukan secara berpola oleh Sekolah Sukma Bangsa Pidie dalam menumbuhkembangkan rasa empati pada anak baik yang sedang belajar di level SD, SMP, maupun SMA.
Baca juga: Anak di Transmigrasi Sering Tak Bisa Sekolah
Baca juga: Doddy Sudrajat Mengadu ke Komnas Anak Terkait Gala Sky, Ini Kata Kuasa Hukum Faisal
Cara ini dapat Anda teladani dan selanjutnya Anda aplikasikan pada keluarga --khususnya yang sudah berkeluarga dan memiliki anak--ataupun pada komunitas Anda yang di dalamnya berhubungan dengan anak-anak seperti PAUD, TK, hingga SMA.
Ya, sebagai perpanjangan tangan dari orang tua anak, kita yang sudah mendedikasikan diri sebagai pendidik penting mengajak anak didik kita untuk berwisata pada kampung-kampung di lingkungan sekolah, yang di kampung tersebut terdapat keluarga-keluarga yang hidupnya masuk dalam kategori ekonomi kelas bawah atau termarginalkan.
Saat mendapati keluarga miskin tersebut--melalui arahan guru--mereka memberikan paket sembako yang dibeli sendiri oleh mereka dari hasil uang yang dikumpulkannya pada hari Jumat di setiap pekannya.
Acap kali, para orang tua yang mengerti kegiatan ini memberikan sumbangan yang lebih melalui anaknya.
Nah, dalam kegiatan tamasya tersebut, anak akan melihat sendiri realitas kehidupan di lingkungan sekolahnya, yang jauh berbeda dengan mereka.
Sehingga, dari kegiatan tersebut, terpatri sikap empati pada anak untuk lebih peduli dengan lingkungan sekitarnya.
Program ini ternyata manjur bagi pertumbuhan rasa empati pada anak.
Hal ini terbukti, tanpa dipaksa si anak dengan sendirinya menyisihkan uang jajannya untuk bersedekah dan menyumbang pada setiap kegiatan amal, seperti ketika terjadi banjir di Tangse, gempa Pidie Jaya, erupsi Gunung Semeru, dan beragam bencana atau musibah lainnya, baik di daerah sendiri maupun di luar Aceh.
Pun kami sebagai guru yakin melalui kegiatan ini–tamasya ke kampung--dan melihat langsung orang-orang yang hidupnya di bawah garis kemiskinan, hati anak akan lebih mudah tersentuh sehingga ia menjadi lebih peduli baik kepada anggota keluarganya dan juga orang di sekitarnya.
Melalui reportase sederhana ini, saya berpesan dan mengajak kita semua, mari dedikasikan diri untuk lebih giat dalam menumbuhkembangkan empati pada generasi muda kita, anak-anak kita, guna tumbuh dan kuatnya karakter anak bangsa yang tidak hanya berintelektual tinggi, tapi juga berhati mulia. Nyan ban.
Baca juga: Kisah Ibu Masukkan Bayi ke Kotak Plastik saat Diterjang Banjir: Ya Allah Selamatkan Anak Saya
Baca juga: Lapor Polisi Anaknya Dicabuli, Seorang Ibu Disuruh Tangkap Sendiri Pelakunya, Tersangka Nyaris Kabur
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/muhammad-syawal-djamil-anggota-forum-aceh-menulis-fame.jpg)