Selasa, 28 April 2026

Opini

Membaca Bencana, Literasi Keagungan

Tsunami yang dipahami sebagai bencana mahadahsyat telah membawa ibrah terhadap perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka

Editor: bakri
IST
Herman RN, Ketua Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Provinsi Aceh; Berkhidmah di Universitas Syiah Kuala 

Oleh Herman RN, Ketua Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Provinsi Aceh; Berkhidmah di Universitas Syiah Kuala

Setiap tahun kita melihat banjir, longsor, dan segala macam bencana lainnya.

Apa yang dikatakan Ebiet G.

Ade dalam lirik lagunya barangkali sudah menjadi kenyataan, mungkin alam telah bosan bersahabat dengan kita.

Namun, kita semakin lemah berliterasi dengan alam.

Semua orang percaya bahwa 26 Desember 2004 merupakan sejarah penting bagi Aceh dan Indonesia.

Sampai sekarang pun—dan mungkin hingga selama usia bumi masih ada—setiap 26 Desember akan diperingati sebagai Hari Tsunami Aceh.

Tahun-tahun sebelumnya, setiap peringatan tsunami, Presiden atau Wakil Presiden Indonesia berkunjung ke Aceh.

Hal ini memperlihatkan betapa pentingnya peristiwa tsunami.

Tsunami yang dipahami sebagai bencana mahadahsyat telah membawa ibrah terhadap perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka dan Republik Indonesia.

Harus diakui, pada masa rehabilitasi dan rekonstrusi tsunami Aceh, semua provinsi di Indonesia terjun ke Aceh.

Tsunami telah memperlihatkan betapa butir-butir Pancasila teramalkan dengan sangat komprehensif di Aceh.

Sila pertama yang menyebutkan Ketuhanan Yang Maha Esa terlihat jelas pada bukti-bukti selepas laut surut.

Banyak gedung ambruk.

Puluhan hotel rubuh.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved