Opini
Membaca Bencana, Literasi Keagungan
Tsunami yang dipahami sebagai bencana mahadahsyat telah membawa ibrah terhadap perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka
Orang-orang masa depan akan mengatakan bahwa orang Aceh semakin pintar mengarang cerita, bahwa orang Aceh memang tukang bual yang hebat seperti kisah dalam hikayat-hikayat.
Untuk menangkal itu semua diperlukan literasi sejarah dan literasi keagungan.
Harus banyak yang mencatat peristiwa tsunami tersebut dalam bentuk tulisan, film, lukisan, dan sejenisnya.
Harus banyak yang mengingatkan orang Aceh tentang bencana tahunan seperti banjir, longsor, dan sebagainya.
Aceh harus mampu berliterasi dengan semesta.
Sungguh percuma Aceh memiliki dana otonomi khusus, jika dana mahabesar itu selalu menjadi silpa setiap tahun.
Padahal, secuil dari dana itu dapat diproyeksikan dalam bentuk literasi bencana.
Sungguh percuma dana aspirasi (pokir) Anggota Legeslatif (DPRA/DPRK) dititipkan pada sejumlah dinas, tetapi tidak pernah terpikirkan untuk penulisan kisah penyintas tsunami, untuk tulisan kebencanaan.
Belum lagi ada dinas tertentu di Provinsi Aceh yang setiap tahun menerima titipan dana pokir anggota dewan yang katanya untuk penulisan buku, tetapi buku tidak pernah terbit, dananya habis entah kemana.
Sudah saatnya, orang-orang Aceh membuka cakrawala berpikir.
Sudah waktunya, para elite di Aceh membuka mata hati.
Bahwa tsunami itu bukan sekadar ritual zikir tahunan.
Bahwa banjir itu bukan sekadar jadi tontonan.
Aceh, berbenahlah!
Baca juga: Membangun Masyarakat Siaga Bencana dan Tangguh Bersama
Baca juga: Bupati Bireuen Terharu Kenang Bencana Gempa dan Tsunami Aceh 26 Desember 2004
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/herman-rn-dosen-universitas-syiah-kuala-b.jpg)