Opini
Membaca Bencana, Literasi Keagungan
Tsunami yang dipahami sebagai bencana mahadahsyat telah membawa ibrah terhadap perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka
Anak-anak korban tsunami yang sedang menempuh pendidikan kala itu diberikan kebebasan sekolah tanpa biaya sepeser pun.
Bahkan, korban tsunami yang sudah berhasil mengungsi atau menyelamatkan diri ke luar Aceh, di provinsi mana pun ia berada, diberikan kebebasan sekolah dan kuliah di sana tanpa harus dibebani persoalam administrasi.
Betapa agungnya tsunami dalam membuka cakrawala butir-butir Pancasila.
Lantas, apakah cukup sampai di sini? Literasi Sejarah Banyak orang paham dan sepakat bahwa sejarah adalah guru yang paling berharga.
Sejarah adalah pengalaman yang menjadi cermin bagi kehidupan di masa akan datang.
Namun, seberapa banyak orang mampu dan mau mengaplikasikannya dalam kehidupan berkelanjutan? Apa yang sudah dialami oleh Aceh dalam bentuk ibrah tsunami, mungkinkah akan mampu bertahan hingga sepuluh bahkan lima puluh tahun mendatang? Apakah Aceh hari ini masih mendapatkan sentuhan kemanusiaan yang adil dan beradab? Apakah Aceh hari ini masih merasakan keadilan dari Pemerintah Pusat? Mengapa banjir masih saja jadi makanan tahunan? Selain pertanyaan-pertanyaan di atas, penting pula mempertanyakan arti tsunami bagi orang Aceh itu sendiri.
Baca juga: Banjir Kepung Aceh, Walhi Minta Gubernur Tetapkan Status Darurat Bencana Provinsi, Ini Tujuannya
Bagaimana orang Aceh memahami tsunami sebagai sebuah bencana, sebagai sebuah sejarah, sebagai sebuah ibrah, sekaligus sebagai sebuah hikmah? Apakah cukup tsunami hanya menjadi ritual seremoni zikir tahunan di rumah ibadah atau di kuburan massal? Apakah orang Aceh pernah berpikir bahwa 20 atau 50 tahun ke depan, banyak orang yang akan semakin melupakan peristiwa tsunami sebagai sebuah sejarah dan keagungan, melainkan hanya sebagai ritual zikir tahunan.
Bagi orang Aceh masa kini, tsunami tentu bukan sekadar bencana, tetapi juga bentuk keagungan dan keajaiban tajalli ketuhanan.
Ada orang yang kala itu selamat dari amuk laut dengan bantuan ular raksasa.
Ada pula yang selamat karena pertolongan cahaya hijau yang datangnya entah dari mana.
Ada orang yang sudah digulung ombak seperti tomat dalam balender, tetapi tiba-tiba ia terpelanting ke permukaan dan tersangkut ke pohon kelapa hanya karena masih sadar mengucapkan asma Allah.
Orang-orang ini semua menjadi saksi hidup terhadap peristiwa tsunami.
Namun, mereka menyimpan semua sejarah itu sebagai kenangan, sebagai duka ingatan, yang entah sampai kapan mampu diingat dan dikenangnya.
Bagi generasi akan datang, semua cerita tersebut tidak masuk akal.
Kisah-kisah tentang orang yang selamat karena ditelan ular saat tsunami, kisah tentang seorang anak yang terombang-ambing tujuh hari tujuh malam di tengah laut hanya dengan sebuah bantal, dan beragam kisah alogika lainnya tentu akan ditampik oleh generasi mendatang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/herman-rn-dosen-universitas-syiah-kuala-b.jpg)