Kupi Beungoh
Modernitas dan Tantangan Umat Islam
Era modern telah mengubah pola hidup kita bahkan cara kita berpikir dan memaknai segala sesuatu.
Modernisasi juga menyangkut dengan rasionalitas dalam berpikir dan bertindak, berlawanan dengan apa yang dianggap pra-modern atau kuno yaitu cara pandang terhadap dunia yang bersifat emosional dan berorientasi agama.
Max Weber menjelaskan proses ini sebagai sebuah proses gradual dengan istilah “disenhancment of the world” (penidakkeramatan alam). Terminologi ini terkait dengan meninggalkan cara pandang lama yang dianggap terkait mitos dan nilai lama yang berlawanan dengan prinsip rasionalitas, termasuk agama.
Weber juga mengaitkan modernitas dan cara pandang rasional yang terwujud di dalam kehidupan masyarakat industrial.
Ketika masyarakat Eropa telah mengubah pola ekonomi ke dalam fase industri dengan diaplikasikannya teknologi mesin-mesin dalam pola produksi, maka di saat itu cara pandang masyarakat Eropa pun dianggap telah masuk ke dalam fase rasionalisme.
Bagi Weber, masyarakat industrial bercorak rasionalisme dan masyarakat pra-industrial belum mengenal rasionalisme.
Sesuatu yang berlawanan dengan fakta sejarah karena masyarakat Muslim telah mengenal cara pikir rasional dan penalaran akal yang runut dan sistematis di dalam tradisi keilmuan Islam khususnya melalui ilmu alat; bahasa dan logika (mantiq). Jauh sebelum manusia mengenal mesin.
Selama abad ke-20, sejumlah ilmuan sosiologi berteori bahwa modernitas adalah model sosial yang ideal yang seharusnya perlu diterapkan oleh negara-negara di dunia. Tesis ini disebut dengan teori modernisasi, diantara pendukungnya adalah Walt Rostow (1961).
Rostow berargumen bahwa modernisasi adalah sebuah proses bertahap dalam beberapa fase (sebagaimana evolusi) berawal dari modernisasi awal ke tahap selanjutnya dimana ekonomi mulai berkembang.
Masyarakat tradisional berbasis agraris atau agrikultur bisa menjadi modern dengan meninggalkan nilai-nilai tradisionalnya dan mulai berinvestasi untuk kemakmuran masa depan melalui proyek-proyek infrastruktur dan industri-industri baru.
Dalam hal ini, kesinambungan investasi dalam membangun teknologi yang lebih canggih akan meningkatkan tingkat produksi dan menggerakkan daya konsumsi massa. Maka akan menciptakan pertumbuhan ekonomi dengan pola yang berkesinambungan.
Pola modernisasi ini berhasil di negara-negara seperti Hongkong, Taiwan, Korea Selatan dan Singapura, namun teori Rostow dianggap terlalu optimistik hari ini karena di sejumlah negara di Afrika dan juga Asia misalnya, modernisasi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dalam artian bahwa modernisasi tidak membuat sebagian negara menjadi lebih maju.
Sejumlah negara-negara di Afrika dan Asia masih hidup miskin.
Modernisasi digugat oleh kalangan Neo-Marxis karena sebenarnya tidak ada bukti logis yang kuat yang membuktikan bahwa modernisasi mampu menjadi faktor yang mengubah masyarakat yang kurang berkembang (less developed society), menuju masyarakat yang kuat dalam pertumbuhan ekonomi dan tercapainya kesejahteraan.
Bahkan di level global, sejumlah negara miskin dan berkembang mengalami ketergantungan secara permanen dengan negara-negara maju.
Para pekerja di negara berkembang menjadi buruh yang dibayar dengan murah oleh perusahaan-perusahaan multinasional yang berbasis di negara-negara Barat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/jabal-ali-husin-sab-serambinews.jpg)