Kupi Beungoh

Modernitas dan Tantangan Umat Islam

Era modern telah mengubah pola hidup kita bahkan cara kita berpikir dan memaknai segala sesuatu.

Editor: Amirullah
SERAMBINEWS.COM/Handover
Jabal Ali Husin Sab, Ketua Umum DKC Garda Bangsa Kota Banda Aceh 

Memaknai Kembali Modernitas

Hari ini muncul sebuah ide yang mendorong keragaman pemahaman tentang konsep dan pola modernitas yang disebut multiple modernities, sebagai kritik bagi modernisasi yang dipahami sejalan dengan westernisasi (Eisenstadt, 2002).

Ide ini menantang asumsi yang lebih awal bahwa modernitas bersifat tunggal dan linear dengan mengambil standar atau seragam dengan modernitas versi masyarakat Barat. 

Studi empiris tentang modernisasi di seluruh dunia menunjukkan bahwa ada sejumlah jalan beragam menuju modernitas (Wagner, 2012). Masyarakat Jepang yang modern jelas berbeda dengan kemodernan yang ada di Amerika Serikat.

Dan modernitas di Cina juga berkembang dalam bentuk yang berbeda pula dengan realitas masyarakat modern di Barat. 

Bentuk dari modernitas, bahkan di Amerika Serikat sendiri, tidak menjadi begitu sekuler sebagaimana yang diprediksi, masyarakatnya tetap berkarakter religius, namun di saat bersamaan menerima industrialisme dan perkembangan teknologi yang berkelanjutan. 

Anthony Giddens dan Philips W. Sutton juga mencontohkan modernitas versi Saudi Arabia (juga terjadi di Uni Emirat Arab, Qatar dan Malaysia) yang mana bukan hanya tampak secara jelas religius, namun juga selektif dalam memilih dan memilah bagian mana dari modernitas versi Barat untuk diambil, serta menambahkan ciri khas modernitas versi mereka sendiri.

Agenda keragaman modernitas (multiple modernities) yang diangkat sejumlah sosiolog menjadi suatu masukan baru bagi dunia Islam bahwa muslim tetap bisa menjadi muslim dengan cara pandang (worldview), nilai dan sistem aturan tersendiri yang khas Islam dan tetap bisa menghadapi realitas dan tantangan global hari ini.

Masyarakat Muslim hari ini, bertolak dari realitas, harus berani untuk memaknai kembali identitas dirinya sebagai Muslim di tengah percaturan global.

Masyarakat Muslim perlu menegakkan kembali kepalanya di tengah masyarakat dunia.

Menyatakan dengan berani bahwa kita adalah masyarakat Muslim. Islam adalah identitas kita. Kita punya karakter dan paradigma sendiri dalam melihat dunia.

Kita punya sejumlah tatanan nilai dalam memaknai dan mengatur kehidupan. Mitos tentang agama berlawanan dengan kemajuan telah terbantahkan secara empirik. Untuk itu ummat Islam harus dengan berani menyatakan identitas keislamannya di hadapan dunia.

*) PENULIS, Jabal Ali Husin Sab adalah Esais, pegiat di Komunitas Menara Putih

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca juga: Kasus Janda Tewas Saat Berhubungan Badan dengan Oknum Polisi, Iptu RK Divonis 1 Tahun Penjara

Baca juga: Obyek tak Dikenal Terekam Terbang di Langit Inggris, Tampak seperti Bola api

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved