Opini
Cegah Stunting, Awas Obesitas
Tahun ini kembali Hari Gizi Nasional (HGN) diperingati tepatnya pada tanggal 25 Januari 2022, merupakan peringatan ke 62 tahun
Kenaikan berat badan beberapa kilogram saja bisa menjadikan Indeks Masa Tubuh (IMT) orang tersebut naik melebihi batas normal.
Nyatanya masih ada pemahaman yang keliru tentang anak stunting, bahkan di kalangan pemangku kepentingan sekalipun.
Akibatnya, program intervensi yang dilakukan pun tidak tepat sasaran, alih-alih menurunkan prevalensi stunting malah akan memicu masalah gizi baru, meningkatnya obesitas.
Anggapan bahwa stunting hanya persoalan perawakan anak yang pendek saja, padahal di sana disertai dengan malnutrisi.
Seharusnya intervensi untuk anak yang pendek dan stunting karena malnutrisi adalah memperbaiki status gizinya dengan pemberian makanan tinggi protein.
Penanganannya pun harus dilakukan sebelum anak berusia dua tahun.
Kecenderungan sering terjadi anak yang stunting dipacu peningkatan berat badannya dengan pemberian makanan tinggi kalori disebabkan harganya lebih murah dibandingkan membeli sumber makanan tinggi protein.
Sejatinya pada anak normal makanan diperlukan untuk membangun sel otot dan tulang sehingga anak melaju tumbuh tinggi.
Lain halnya pada anak gagal tumbuh, pertumbuhan ke atas terhambat, sehingga asupan makanan langsung diubah menjadi lemak dan menyebabkan pertumbuhan tubuh ke depan dan ke samping, dan lahirlah obesitas.
Tentunya kita berharap upaya peningkatan status gizi masyarakat termasuk penurunan prevalensi stunting benar-benar diimplementasikan dengan nyata.
Kita yakin dan percaya bahwa perbaikan gizi akan membantu memutuskan mata rantai lingkaran kemiskinan untuk menghasilkan sumber daya manusia produktif.
Baca juga: Pertagas ONSA Gelar Sosialisasi Cegah Stunting dan Gizi Buruk di Dewantara
Terlebih Indonesia digadang-gadang menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia dalam beberapa dekade mendatang.
Ini terlihat dari komposisi usia penduduk, pada tahun 2030, diprediksikan 70% penduduk Indonesia berusia 15-64 tahun, atau berada dalam masa produktif.
Inilah yang disebut dengan bonus demografi yang akan menjadi motor penggerak perekonomian nasional.
Bonus demografi ini akan terancam menjadi malapetaka manakala anak-anak dan remaja yang berusia belia saat ini menyimpan potensi penyakit yang dapat mengganggu d iusia produktifnya nanti, sebut saja stunting dan obesitas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/sri-mulyati-mukhtar-skm-mkm-konselor-hiv-aids.jpg)