Kamis, 23 April 2026

Jurnalisme Warga

Tradisi Beranak Banyak di Desa Ujung Sialit

UJUNG Silait merupakan salah satu desa terpencil di Kecamatan Pulau Banyak Barat, Kabupaten Aceh Singkil

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
NENDISYAH PUTRA, Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 2 Pulau Banyak Barat dan alumnus Universitas BBG Banda Aceh, melaporkan dari Ujung Sialit, Aceh Singkil 

OLEH NENDISYAH PUTRA, Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 2 Pulau Banyak Barat dan alumnus Universitas BBG Banda Aceh, melaporkan dari Ujung Sialit, Aceh Singkil

UJUNG Silait merupakan salah satu desa terpencil di Kecamatan Pulau Banyak Barat, Kabupaten Aceh Singkil.

Wilayahnya jauh dari daratan (kabupaten), juga minim transportasi speedboat ke desa ini.

Ditambah lagi kurangnya fasilitas informasi dan komunikasi seperti tak tersedianya jaringan seluler dan internet.

Desa ini berada di tengah kecamatan antara Desa Asantola dan Desa Suka Makmur.

Dikelilingi pulaupulau kecil yang berada di depan desa tersebut.

Untuk menuju Ujung Sialit dari desa yang berada di kecamatan biasanya menggunakan perahu dikarenakan jalan darat yang masih dalam perbaikan.

Masyarakat Ujung Sialit yang tinggal di desa ini merupakan etnis Nias yang berasal dari Pulau Nias, Povinsi Sumatera Utara.

Mereka berimigrasi ke Pulau Banyak Barat untuk memilih tinggal dan menetap di pulau ini beberapa tahun silam.

Imigran yang datang ini awalnya cuma berkebun dan bercocok tanam, kemudian mereka merasa cocok dan nyaman untuk menetap di sini.

Baca juga: Melihat Bangunan Sisa Kejayaan Singkil di Pelabuhan Kuala Gabi

Baca juga: Destinasi Wisata Favorit di Kepulauan Banyak

Waktu itu tempat ini masih hutan belantara.

Seiring guliran waktu secara satu per satu keluarga berdatangan hingga beranak pinak dan menetap hingga menjadi satu desa.

Mayoritas penduduk Ujung Sialit ini marupakan penganut Kristen Protestan yang dibawa oleh leluhur mereka sejak pindah dari Pulau Nias.

Meski demikian, mereka selalu menaati qanun atau reusam yang berlaku di Aceh, seperti tidak pergi melaut pada hari Jumat dan menghormati penganut agama Islam yang berada di sekitar desa mereka.

Tradisi beranak banyak Populasi penduduk di desa ini setiap tahunnya meningkat, meski rumahnya hanya sedikit, tapi jumlahnya lumayan banyak, baik warga yang pindah dari Nias maupun karena meningkatnya angka kelahiran anak.

Asyiknya di desa ini setiap yang sudah berkeluarga jarang yang kita dapati memiliki anak di bawah lima orang.

Rerata keluarga di sini memiliki anak banyak bahkan sampai 12 orang.

Ini hal yang lumrah di desa ini.

Hebatnya lagi, pemberian nama untuk setiap anak yang baru lahir selalu mengisbatkan marga atau suku di akhir nama anak tersebut, semisal Gulo, Zega, Zebua, Zai, Lase, Harefa, dan lain-lain.

Hal ini untuk mempertahankan identis dari mana mereka berasal supaya idak hilang ditelan zaman.

Baca juga: Krueng Baro Sigli Sebagai Destinasi Wisata Baru

Dalam komunikasi sehari- hari masyarakat Ujung Sialit selalu menggunakan bahasa Nias.

Adat istiadat di desa ini menggunakan adat Nias, mulai dari tari, nyanyian, hingga adat pernikahan.

Biasanya pertunjukan adat ini dilakukan pada acara-acara besar, seperti hari Natal atau hari Minggu.

Adat pernikahannya berisi pesan-pesan moral, motivasi kepada kedua mempelai dengan berbahasa Nias untuk menjunjung tinggi adat dan budaya mereka.

Letak desa ini sangat strategis, di tepi pantai dan dikelilingi gunung dan hutan nan luas.

Namun, masyarakatnya lebih memilih untuk tinggal dan membangun rumah di pinggir pantai walaupun sudah pernah terkena dampak tsunami tahun 2005, tapi tidak mengurungkan niat mereka untuk tetap tinggal di dekat pantai.

Bagi mereka, tinggal dekat pantai dapat memudahkan untuk mencari nafkah di laut.

Penduduk di desa ini mayoritas berprofesi nelayan.

Ada nelayan menggunakan boat, ada juga yang menggunakan bagan.

Baca juga: Dorong Gampong Nusa Jadi Desa Wisata Edukasi Kebencanaan

Sebagian lainnya adalah nelayan perenang bebas.

Sedangkan ibu-ibunya bercocok tanam (berkebun).

Hanya sedikit yang bekerja di pemerintahan.

Uniknya warga desa ini pergi melaut selalu pada malam hari, kecuali pada malam Jumat dan Minggu.

Untuk prasarana dan sarana pendidikan di antaranya terdiri atas PG-PAUD, SD, dan SMP.

Jenjang SMA belum tersedia.

Meski demikian, biasanya peserta didik melanjutkan sekolah di luar daerah seperti di Pulau Nias.

Hanya sebagian saja di antara mereka yang lebih memilih untuk bekerja daripada sekolah.

Hal ini akibat minimnya pemahaman orang tua (wali) dalam bidang pendidikan.

Bagi orang tua peserta didik di desa ini pendidikan cukup apa adanya saja, tidak perlu sekolah terlalu tinggi karena dapat menghabiskan waktu dan uang.

Jadi, hanya sebagian kecil saja yang berminat untuk melanjutkan pendidikan ke S-1 dan berkeinginan menjadi prajurit TNI.

Hal ini juga terbukti ketika proses belajar- mengajar di sekolah, banyak di antara siswa yang jarang hadir atau terlambat datang ke sekolah.

Alasannya sama: membantu orang tua kerja melaut, sehingga tak sempat pergi ke sekolah.

Baca juga: Bener Meriah Kembangkan Destinasi Wisata Baru

Inilah tantangan guru di sini dalam mendidik bukan saja siswanya, tapi lebih utama memberikan pemahaman kepada wali siswa tentang betapa pentingnya pendidikan terhadap anak.

Berbagai metode harus diujicobakan oleh guru agar proses pendidikan berlangsung sebagaimana mestinya.

Bukan itu saja, akses jaringan internet belum tersedia di desa ini, sehingga proses belajar masih menggunakan media buku saja.

Namun, bukan hambatan bagi dewan guru dalam mendidik para generasi negri ini.

Untuk mencari sinyal handphone (hp) di desa ini hanya ada di satu titik, yakni di lokasi dermaga (jembatan).

Itu pun harus pada malam hari.

Alhasil, jika malam tiba, orang muda hingga orang tua berkumpul di dermaga untuk mencari sinyal, kecuali pada saat hujan.

Entah kenapa, saat hujan sinyalnya hilang.

Para dewan guru yang tergabung di Ujung Silait ini bukan saja warga setempat, melainkan berasal dari Pulau Banyak dan Desa Asantola, bahkan ada yang datang dari Kota Medan.

Hanya beberapa orang saja yang asli pribumi.

Banyak pula rintangan dan tantangan yang dihadapi sang guru di desa ini seperti sering mati listrik, akses jaringan timbul tenggelam, namun ini tidak menyurutkan niat mereka mencerdaskan anak bangsa.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga masih secukupnya.

Banyak di antaranya merupakan warga yang kurang mampu (miskin).

Hanya beberapa orang saja yang berpenghasilan tinggi atau pengusaha biasa disebut tauke.

Komoditas ekspor di desa ini terdiri atas berbagai jenis ikan, lobster, kelapa, kopra, cengkih, dan au-au (ikan kecil).

Produk ini dijual ke berbagai daerah seperti Medan, Nias, Singkil, dan Simeulue melalui jalur penyeberangan kapal.

Au-au merupakan jenis ikan kecil yang sangat khas di desa ini.

Baca juga: Pelaku Wisata Terus Menata Destinasi Wisata Danau Bungara Aceh Singkil

Selain untuk dijual, ikan ini sangat diincar oleh masyarakat luar di samping harganya yang murah, ikan ini juga sangat enak.

Tidak heran jika hampir semua nelayan di desa ini giat mencari au-au karena cepat laku.

Nah, inilah cerita singkat tentang Desa Ujung Sialit.

Bagi Anda yang hendak berkunjung ke desa ini dari Pelabuhan Singkil memakan waktu sedikitnya lima jam perjalanan menggunakan boat (kapal kayu).

Semoga ke depannya pemerintah semakin peduli dan memperhatikan rakyat kecil di pulau kecil ini, terutama dari segi pendidikan yang ada di desa ini, apalagi para gurunya.

Semoga pula tahun depan guru yang mengabdi di Ujung Sialit bisa dapat tunjangan sekolah terpencil lagi.

Baca juga: Aceh Jaya Miliki Banyak Pilihan Destinasi Wisata, Kini Hadir Lagi Ekowisata Hutan Mangrove

Baca juga: Pesona Puncak Grapela, Destinasi Wisata Alam yang Menggeliat Lagi

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved