Breaking News:

Kajian Islam

Bagaimana Hukum Merayakan Valentine Day dalam Islam? Simak Penjelasan Buya Yahya Berikut Ini

Bagaimana hukum merayakan hari Valentine atau Valentine day dalam Islam? Simak penjelasan Buya Yahya berikut ini.

Penulis: Firdha Ustin | Editor: Mursal Ismail
YOUTUBE/AL-BAHJAH TV
Buya Yahya menjelaskan hukum merayakan hari Valentine dalam Islam. 

Tanggal 14 Februari biasa dirayakan, terutama oleh kaum muda sebagai Valentine day atau hari pengungkapan kasih sayang.

SERAMBINEWS.COM - Bagaimana hukum merayakan hari Valentine atau Valentine day dalam Islam? Simak penjelasan Buya Yahya berikut ini.

Tanggal 14 Februari biasa dirayakan, terutama oleh kaum muda sebagai Valentine day atau hari pengungkapan kasih sayang.

Saking mengakarnya budaya tersebut, banyak kaum muda ikut merayakannya.

Lantas, apakah budaya merayakan hari Valentine dibolehkan dalam Islam? Apa hukumnya? Simak penjelasan Buya Yahya berikut ini.

Dilansir Serambinews.com dari buletin Risalah Al-Bahjah melalui laman buyayahya.org pada Kamis (10/2/2022).

Buya Yahya memberikan penjelasan lengkap terkait hari Valentine dan hukum merayakannya.

Baca juga: Sering Jadi Perdebatan, Buya Yahya Jelaskan Hukum Merayakan Hari Valentine dalam Islam

Sebelum menjelaskan hukum merayakan hari valentine, pemilik nama Yahya Zainul Ma’arif Jamzuri atau akrab disapa Buya Yahya ini terlebih dulu menjelaskan terkait hakikat Hari Valentine.

Perlu diketahui, slogan yang diangkat dalam hari Valentine adalah cinta atau kasih sayang.

Cinta dan kasih sayang sesungguhnya dalam Islan sangat diajarkan asal tak melanggar rambu-rambu syariat Islam ini. 

Nah, terkait Valentine Day, kata Buya Yahya, di balik slogan kasih sayang tersebut, seringkali mengundang kerancuan atau kesalahpahaman hingga banyak dari kaum muslimin yang tergesa-gesa menerima bahkan mengokohkan, membela dan ikut memeriahkannya.

"Padahal kalau kita cermati dengan seksama dan kita renungi permasalahannya, maka akan sangat gamblang dan jelas hukumnya," kata Buya Yahya.

Lanjut Buya dalam buletin tersebut, dikatakan oleh para ulama “Alhukmu Ala Syaiin Far'un An Tasowwurihi” artinya menghukum sesuatu itu harus terlebih dahulu mengetahui terlebih dahulu gambaran dari permasalahan yang akan dihukumi.

Maksudnya ”Jikalau orang ingin menghukumi sesuatu maka tentunya ia harus tahu benar akan sesuatu yang akan dihukum agar tidak salah.”

Baca juga: Bagaimana Hukum Tidak Membaca Doa Iftitah dalam Shalat? Begini Penjelasan Buya Yahya

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved