Opini
Aceh dalam Geliat Wisata
Memasuki tahun 2022, imej Aceh yang selama ini dipenuhi potret buram sebagai daerah bekas konflik, miskin dan rawan bencana mulai terlihat “kinclong”
Oleh Dr.Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc, Dosen Tetap Program Studi Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
Memasuki tahun 2022, imej Aceh yang selama ini dipenuhi potret buram sebagai daerah bekas konflik, miskin dan rawan bencana mulai terlihat “kinclong” kembali sesuai aslinya.
Pesona alamnya yang menawan, kaya akan biodiversity, serta hospitality warganya yang teguh dengan adat “pemulia jamee” membuat denyut wisata Aceh berdegup kencang.
Walau di tengah dera pandemi yang meluluhlantakkan berbagai sektor, geliat wisata tetap bercahaya (baca: the light of Aceh).
Dinobatkannya Agam Inong Aceh, Akkral dan Salwa sebagai Duta Wisata Nasional, perolehan Piala Citra Festival Film Indonesia kategori Film Dokumenter oleh Sineas Muda, Davi Abdullah, Juara 1 Anugerah Desa Wisata Kategori Homestay oleh Desa Nusa Lhoknga, hingga Juara Umum Anugerah Pesona Indonesia, adalah antara prestasi yang tertoreh.
Bangga, haru, dan entah apa lagi kata yang pantas diungkapkan sebagai bentuk apresiasi atas kesadaran dan kerja keras seluruh elemen masyarakat mulai dari pelaku hingga penikmat wisata.
Prestasi yang sedemikian rupa tidaklah harus terhenti diapresiasi dan rasa bangga.
Torehan tinta emas tersebut perlu diguratkan dalam bentuk karya pembangunan yang lebih bombastis, agar ledakannya mampu mengubah wajah kemiskinan menjadi aura kejayaan.
Aceh harus terjaga dari ninabobo dana otsus yang usianya tidak abadi.
Sisa waktu yang ada masih memungkinkan kita untuk fokus pada sesuatu program yang memiliki multi efek dan menghindari multitafsir apalagi multikepentingan.
Dan sektor pariwisata adalah salah satu pilihannya.
Sektor pariwisata adalah sektor paling seksi di dunia.
Baca juga: 218 Mahasiswa Umuslim Berhasil Kembangkan Situs Gampong Sambil Berwisata di Bener Meriah
Baca juga: 8 Desa di Singkil Utara dan Pulau Banyak Terima Penghargaan Desa Wisata dari Menteri Sandiaga Uno
Negara-negara yang minim potensi sekalipun tidak sungkan-sungkan “merogoh kocek” demi bersolek agar terlihat lebih cantik.
Mulai dari ber-make up hingga rela dioperasi plastik agar negaranya memiliki pesona yang dilirik wisatawan mancanegara.
Tidak ada tujuan berkunjung melebihi niat untuk berdarmawisata.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/drmuhammad-yasar-stp-msc-dosen-tetap.jpg)