Senin, 25 Mei 2026

Opini

Aceh dalam Geliat Wisata

Memasuki tahun 2022, imej Aceh yang selama ini dipenuhi potret buram sebagai daerah bekas konflik, miskin dan rawan bencana mulai terlihat “kinclong”

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr.Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc, Dosen Tetap Program Studi Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh 

Setidaknya ia akan menjadi “second goal” setelah misi atau tujuan utama terselesaikan.

Jadi jangan heran, semua upaya dikerahkan, bukan sekadar prestise untuk dipandang hebat melainkan menjadi sumber pendapatan devisa dan menjadi stimulus peningkatan sektor yang lain.

Objek wisata Nago Resort yang dikelola BUMK Haloban, Kecamatan Pulau Banyak Barat, Aceh Singkil
Objek wisata Nago Resort yang dikelola BUMK Haloban, Kecamatan Pulau Banyak Barat, Aceh Singkil (SERAMBINEWS/Foto dok Irwan)

Bicara Aceh, mulai dari Sabang sampai ke Singkil, dari daratan hingga kepulauan, dari gunung hingga samudera luas, tanpa dimake up pun sudah cantik.

Bahkan kecantikannya ibarat “boh lam on” (baca: original) yang mampu membuat penasaran mata dunia.

Apalagi dengan branding wisata halalnya yang membuat aman dan nyaman siapapun, dari golongan manapun, termasuk agama apapun.

Hampir semua yang berkunjung ke Tanah Rencong ini langsung tertikam hatinya, hingga sulit untuk melupakan pesona yang ada.

Namun adapula di antara mereka yang datang kerap memandang betapa bodohnya orang Aceh, sebegitu hebatnya anugerah yang Tuhan berikan tapi betah hidup berlama-lama dalam predikat kemiskinan.

Dalam analogi ke-Aceh-an keadaan seperti ini disebut “boh-boh droe” (baca: tidak mengurus diri).

Baca juga: Program Penguatan Digital Dukung Pemulihan Sektor Pariwisata

Baca juga: Himpunan Pramuwisata Indonesia Aceh Singkil Kenalkan Pelajar Dunia Pariwisata

Idiom ini bukan tanpa alasan, ia lahir akibat dari kekurangmampuan kita dalam menggali, mengangkat, dan membangun potensi diri.

Entah itu akibat kekurangperhatian, kekurangpekaan, kekurangpedean, atau malah kekurangsyukuran atas segala potensi yang dimiliki.

Tentu tidak kurang bagi kita kaum terdidik, generasi pintar, dan masyarakat kreatif.

Jadi alasan apa yang patut kita sematkan untuk membela diri atas kebelummampuannya kita mengorbitkan diri ini.

Tentu kita semua tidak bersepakat ketika ada pihak yang mengalasankan susahnya membangun dunia kepariwisataan di Aceh karena Aceh adalah provinsi syariat yang kental dengan ke-Islam-annya.

Tudingan seperti ini umumnya karena memahami makna wisata secara parsial seolah identik dengan aktivitas yang bertentangan secara syar'i.

Tahun ini, paska dinobatkannya Aceh sebagai juara umum Anugerah Pesona Indonesia 2021 di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Desember 2021 yang lalu menjadi momen strategis bagi Aceh untuk lebih konsen membangun dan mengembangkan dunia kepariwisataan tersebut.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved