Opini
Aceh dalam Geliat Wisata
Memasuki tahun 2022, imej Aceh yang selama ini dipenuhi potret buram sebagai daerah bekas konflik, miskin dan rawan bencana mulai terlihat “kinclong”
Sementara yang terjadi masih terlihat kekurangsadaran kita terhadap peran bersama ini.
Kewajiban menjaga kebersihan seakan tanggung jawab pengelola objek sepenuhnya, sementara pengelola pula terkesan abai dengan peran dasar ini.
Coba perhatikan wilayah-wilayah objek wisata vital kita, pasti akan geleng-geleng kepala kalau sudah berurusan dengan sampah.
Belum lagi diperparah oleh perilaku vandalisme yang mengurangi keindahan dan kenyamanan.
Baca juga: Pentas Aceh Milenial Dibuka, Kadisbudpar: Virtual Tourism Solusi Bangkitkan Pariwisata Era Pandemi
Kesannya, kita hanya mampu membangun tapi tidak mampu memelihara dan menjaganya dengan baik.
Kedua, perlu menyiapkan iklim investasi yang baik.
Selain kondisi sosiokultural di atas, faktor regulasi biasanya selalu menjadi momok yang mengurangi gairah pelaburan.
Rasanya tidak sedikit calon investor yang coba-coba datang hanya sekadar ancang-ancang tanpa berani untuk terus memancangkan modalnya dengan dalih kerumitan proses administrasi.
Umumnya hanya mampu lirik-lirik lantas tidak jadi tertarik hingga kemudian menarik diri.
Fenomena seperti ini perlu dikoreksi karena membangun dunia pariwisata memang tidak cukup jika hanya sendiri-sendiri, terutama dalam membangun infastruktur baik sarana prasarana utama maupun penunjang.
Merujuk daerah-daerah atau negara-negara yang sukses memanfaatkan dunia kepariwisataan ini, swasta memang lebih dominan perannya.
Namun dominasi ini dipicu dan dipacu oleh peran pendukung dari pemerintah setempat.
Semoga dunia kepariwisataan Aceh semakin maju dan berkembang.
Baca juga: Sensasi Wisata Sejuk di Aceh Tengah
Baca juga: Mesjid Raya Baiturrahman, Ikon Destinasi Wisata Religi Indonesia yang Makin Dikenal Dunia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/drmuhammad-yasar-stp-msc-dosen-tetap.jpg)