Kupi Beungoh
Rempah dan Kontestasi Kuasa di Pantai Barat Aceh
Ada harapan besar, jalur rempah beserta kawasan maritim barat Aceh yang dulunya begitu sibuk, dihidupkan kembali dalam konteks sekarang.
Melalui kekuatan dan keunggulan maritimnya, dan mulai dibentuknya perusahaan dagang VOC-nya (kongsi dagang Hindia Timur), satu persatu kawasan Nusantara berhasil didominasi Belanda, sekaligus menandai pertarungan menyeluruh pada Portugis, Inggris dan Kerajaan Nusantara.
Bahkan, Malaka pun perlahan berhasil dikuasai Belanda pada tahun 1640 (Wertheim, 1999).
Kehadiran Belanda sebagai pendatang baru, menandai fase baru dalam pemburuan rempah dan perebutan kuasa di Nusantara.
Di antara kontestasi kuasa atas rempah, pertarungan antara Belanda dan Aceh paling menarik ditelusuri, terutama di kawasan pantai barat Aceh, mulai dari Andalas, Sibolga, Barus, Singkel, Trumon, Susoh, hingga Pereumbu Meulaboh, sebagai pusat perdagangan dalam rekam jejak sejarah rempah.
Apalagi, pusat bandar Barus dan Singkil juga telah lama melakukan perdagangan kapur barus dan rempah (cengkih dan lada).
Dari catatan KITLV, bahkan Belanda menyediakan kapal khusus mengangkut rempah dari kawasan ini (lihat Al-Fairusy, 2016).
Diskusi dalam esai ini akan melihat bagaimana potret sekilas pertarungan kuasa atas rempah antara Kesultanan Aceh dan Belanda, dan mungkinkah kejayaan rempah direkonstruksi kembali di kawasan pantai barat Aceh setelah Belanda hengkang.
Berburu Rempah, Berebut Kuasa
Tiba di Kuala Batee, dan Trumon, pengunjung luar dapat tercengang menyaksikan keberadaan jejak kejayaan masa lalu kawasan ini.
Sebuah monumen yang diperkirakan diukir pada abad ke-19 M, terpahat kalimat kematian seorang penting bernama Shew Buntar (Syeh Buntar) di Quallabatto 15 April 1824 dalam bahasa Inggris. Pertempuan sengit kerajaan ini dengan Amerika diabadikan dalam banyak catatan.
Dari beberapa catatan, Singkil, Trumon hingga Kuala Batee merupakan kawasan penghasil lada terbesar. Dari tiga kawasan ini, ekspor lada mulai dilakukan ke luar Aceh, dan Kerajaan Aceh Darussalam memastikan pajak (Aceh; wasee sultan) dari ekspor rempah tetap masuk dalam kas mereka lewat para perwakilannya.
Jejak sejarah ini dapat dilihat dari koleksi cap stempel yang dimiliki oleh Annabel T Gallops (Lead Curator, Southeast Asia).
Di antaranya, beberapa stempel penting perwakilan Sutan Aceh di pantai barat dalam rangka mengamankan pajak rempah, jelas memberi keterangan dua dekade sebelum Belanda meng-akuisi (memasukkan) Singkil ke dalam residen Tapanuli Tahun 1840 (Al-Fairusy, 2016).
Peran dan pengaruh Aceh sebagai salah satu Kerajaan Nusantara paling berpengaruh, yang terus mengamankan pemburuan komoditi rempah mereka, dan dikonversi dalam bentuk pajak (wasee), mulai terganggu sejak kehadiran Belanda.
Catatan sejarah memberi pandangan, jika pengaruh Aceh meliputi kerajaan-kerajaan di Semenanjung Malaya, seperti Kedah, Perak, Pahang, dan Johor.
Baca juga: Kadis Perindag Imbau Maysarakat Timbang Terlebih Dahulu Gas Elpiji Agar tidak Dirugikan
Baca juga: 9 WNI di Chernihiv dalam Kondisi Aman, Jangan Dukung Rusia atau Ukraina di Dunia Maya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/muhajir-al-fairusy-_ok.jpg)