Breaking News:

Kupi Beungoh

Rempah dan Kontestasi Kuasa di Pantai Barat Aceh

Ada harapan besar, jalur rempah beserta kawasan maritim barat Aceh yang dulunya begitu sibuk, dihidupkan kembali dalam konteks sekarang.

Editor: Yocerizal
Serambinews.com
Muhajir Al-Fairusy, Peneliti Etnografi Perbatasan Aceh dan Dosen STAIN Meulaboh. 

Oleh: Muhajir Al-Fairusy*)

“…Jauh sebelum melaut, tradisi kami sejak lama menanam cengkih. Cengkih yang menghidupi masyarakat turun temurun, sebelum menjadi nelayan adalah keputusan akhir penduduk, karena cengkih mati tanpa sebab.” (Mustafa, 80 tahun, Kepulauan Banyak, Singkel).

DARI catatan J. Kathiritamby-Wells dalam Acehnese Control over West Sumatra up to the Treaty of Painan, 1663, disebutkan jika pantai barat Aceh, antara Singkil dan Meulaboh, pada tahun 1786 telah muncul kawasan penanaman lada yang baru.

Dikontrol oleh Uleebalang Leube Dapha yang kerap bekerja sama dengan kumpeni Inggris di Bengkulu. Hasilnya, lada mencapai 83.000 pikul, dan pada tahun 1820 produksinya mencapai 150.000 pikul (Ismail, 1991).

Setelah lada, muncul cengkih sebagai rempah baru, masih di kawasan pesisir barat Aceh, khususnya Singkil.

Masyarakat Kepulauan Banyak sebagai salah satu kawasan pesisir perbatasan Aceh, letaknya menghubungkan jalur andalas Pariaman hingga ke barat Aceh lainnya, telah lama menempel keberlangsungan hidup pada cengkih. Tanaman yang dapat dipanen setelah enam tahun dan berpuluh tahun lamanya.

Produksinya juga menjadi komoditi yang paling diminati dan diburu sejak Belanda. Keberadaan cengkih di pesisir Singkil menunjukkan data tradisi mata pencaharian turun temurun manusia setempat.

Muhammad Saleh, seorang saudagar dari Pariaman yang pernah menulis sendiri autobiografinya dalam setiap perjalan dagang mengumpulkan rempah di sepanjang pesisir Andalas, pernah menceritakan keberadaan beberapa bandar dan dergama di pantai barat Aceh, termasuk Singkil yang begitu sibuk dengan perdagangan rempah kala itu (Zed, 2017).

Baca juga: Tim Pengkaji MoU dan DPRA Sepakat, Hati-Hati Wacana Revisi UUPA

Baca juga: Penelitian Terbaru Menunjukkan Covid-19 Dapat Sebabkan Otak Manusia Menyusut

Pun demikian, seperti lada, dalam dua dekade terakhir, cengkih digeser oleh struktur mata pencaharian baru, nelayan dan wisata maritim yang kian diminati.

Sebagai komoditi paling eksotis Nusantara, merapah rempah telah dimulai berabad lama. Spice Island mencuat sebagai istilah yang diurai Portugis untuk menggambarkan Nusantara sebagai kepulauan Rempah-rempah, sebuah ekspedisi yang dimulai sejak awal abad ke-16.

Dari deretan kerajaan dan bandar pelabuhan di Nusantara yang dikunjungi, hanya Maluku dan Malaka, Portugis memperoleh dukungan kekuatan politik dalam melakukan perdagangan rempah (Wertheim, 1999).

Dalam catatan rempah Nusantara pula, Maluku dan Banda menjadi lokus perebutan kawasan jalur rempah paling kencang pada masanya oleh sederet bangsa Eropa.

Keberhasilan Portugis memburu rempah di Maluku juga digambarkan dalam catatan Milton dalam buku Pulau Run; Magnet Rempah-rempah Nusantara yang Ditukar dengan Manhattan (1999), di mana Pala menjadi rempah andalan kala itu.

Portugis menggambarkan Maluku sebagai “gudang rempah” yang luasnya separuh ukuran Eropa (Milton, 1999).

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved