Sabtu, 18 April 2026

Kupi Beungoh

Rempah dan Kontestasi Kuasa di Pantai Barat Aceh

Ada harapan besar, jalur rempah beserta kawasan maritim barat Aceh yang dulunya begitu sibuk, dihidupkan kembali dalam konteks sekarang.

Editor: Yocerizal
Serambinews.com
Muhajir Al-Fairusy, Peneliti Etnografi Perbatasan Aceh dan Dosen STAIN Meulaboh. 

Karena itu, pada tahun 1849 penguasa Aceh pernah menulis surat pada Perancis, untuk membantu Aceh mengembalikan tiga bandar yang letaknya jauh, dan kini dikuasai Belanda, yaitu Air Bangis, Singkil dan Pulau Nias (Anatona, 2000).

Kontestasi kuasa antara Aceh dan Belanda mengamankan pusat rempah sebagai komoditi eksotis memang dimenangkan oleh Belanda. Namun, perang ini menjadi catatan buruk dalam sejarah peperangan Belanda.

Bagaimanapun, perang ini dianggap situasi yang paling banyak menghamburkan jiwa raga manusia dan keuangan, dan menghambat kemajuan Hindia Belanda (Veer, 1977).

Belanda juga mengalami kekacauan saat menghadapi perang dengan Aceh, yang telah menguras harta negara, hingga pekerjaan umum yang produktif harus dikesampingkan.

Ekspedisi ini, nyaris telah menimbulkan kritik pedas dari berbagai pihak, termasuk dari kalangan pemerintah Belanda sendiri. Rempah sebagai motif ekonomi telah menjadi alasan berebut kuasa antara Aceh Belanda.

Rekonstruksi Kuasa Rempah, Mungkinkah ?

Rempah telah menakdirkan bangsa Eropa menjelajah dan melakukan pelayaran ke Nusantara. Dalam catatan Sri Wahyuni, dkk, disebutkan jika nilai ekspor barang yang dikirim melalui pelabuhan Singkil pada tahun 1851 mencapai 300.000 Gulden.

Baca juga: Banjir Bandang Terjang Malaysia, Mobil Terjebak di Jalan

Baca juga: Aceh Tuan Rumah Muktamar Pemuda Muhammadiyah XVIII

Barang paling berharga, dan bernilai dari Singkil adalah lada, selain nilam, damar, karet, gambir, kelapa, rotan, dan kapur barus (Sri Wahyuni, dkk, 2003).

Dalam catatan Kompas, edisi Ekspedisi Cincin Api, digambarkan sibuknya kapal-kapal asing ke kawasan Barus dan Singkil memburu rempah-rempah.

Dalam tesis Anatona, mahasiswa ilmu sejarah UGM, berjudul Perdagangan Budak di Pulau Nias 1820-1860 (2000), menyinggung peran pelabuhan-pelabuhan (penting) sebelah utara Sumatra, yang meliputi beberapa kawasan, di antaranya di Natal, Tapanuli, Barus, dan Singkil.

Bahkan, pada awal abad ke-19 menjelang tahun 1830, perdagangan di bagian utara Sumatra dikuasai oleh penduduk daratan setempat, yaitu pedagang yang menjalankan usaha rempah di Singkil dan Barus, serta pedagang bebas dari Aceh dan Melayu (Anatona, 2000).

Letak kawasan pantai barat Aceh yang strategis dalam jalur perhubungan dagang, menjadikan jalur ini didiami oleh manusia dari lintas-etnis kemudian hari.

Meskipun, setelah zaman mengubah wajahnya, pusat rempah kini hanya kabupaten-kabupaten tingkat dua yang tersubordinasi dari laju peradaban.

Sebut saja Singkil yang hanya kabupaten teritnggal di perbatasan Aceh, Trumon, Kuala Batee hingga Teunom yang tak lagi seeksotis dulu saat rempah diburu oleh bangsa Eropa.

Rempah terendam dari kejayaannya, beserta bandar-bandar daerah penghasilnya yang dulu begitu sibuk. Simbol dan identitas jalur rempah nyaris dilupakan oleh generasi setelahnya.

Baca juga: Menag Yaqut Ingin Undang Paus Fransiskus ke Indonesia, Ini Isi Surat Jokowi Sebelumnya Untuk Paus

Baca juga: Bahaya Kopi yang Megandung Bahan Kimia Sildenafil dan Paracetamol, Ini Merk Produknya Temuan BPOM

Setelah sekian lama terendam, upaya membangkitkan jalur rempah bergema. Rempah sebagai simbol peradaban ekonomi mendapatkan perhatian lebih, dan didorong terdata dalam Unesco.

Ada harapan besar, jalur rempah beserta kawasan maritim barat Aceh yang dulunya begitu sibuk, dihidupkan kembali dalam konteks sekarang.

Meminjam petitih Minangkabau, upaya mengangkat rempah kembali ke permukaan, sebagai ingatan kejayaan persis bak membangkik batang tarandam, kerja mengungkit kembali kehormatan ekonomi yang telah lama terendam oleh perubahan sosial dan zaman.

Meskipun, mungkin wajah kejayaan rempah tidak lagi segempar dan sebising pemburuan yang dilakukan oleh Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda.

Namun, upaya mengembalikan ingatan komunal jika Aceh pernah jaya dengan rempah dan jalur perdagannnya, bisa mencongkel kembali denyut kesadaran pada identitas sivilasi, bagaimana seharusnya pusat-pusat jalur rempah diretrospeksi sebagai budaya Nusantara yang metropolitan dalam berdagang dan berkontestasi dengan bangsa luar.

*) PENULIS adalah Peneliti Etnografi Perbatasan Aceh dan Dosen STAIN Meulaboh

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved