Breaking News
Rabu, 8 April 2026

Kupi Beungoh

Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (VIII) - Akankah AS Salah Hitung dengan Sanksi Ekonomi?

“Kesalahan berhitung” itu pernah dialami AS, dan pernah juga dialami oleh Rusia-Uni Soviet pada masa perang dingin.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

KETIKA sebuah negara memutuskan untuk menyerang dan menduduki negara lain, yang terbayang di benak pemimpinnya adalah  sekenario kemenangan yang lengkap, setengah, atau paling kurang, sedikit.

Di sebalik itu, semua sejarah perang selalu berurusan dengan kesalahan berhitung, sebut saja miskalkulasi.

Kadang sangat tinggi percaya diri, dan sekaligus melihat lawan sebagai entitas yang lemah tak berdaya.

Tak jarang ketika perang diputuskan, yang dihitung adalah segala kemudahan yang akan dicapai, betapa keuntungan yang akan didapat jauh lebih besar dari ongkos perang yang dikeluarkan.

Sangat jarang pihak yang memulai perang lalai menghitung kelemahannya, dan betapa perang mempunyai kerumitan tersendiri, yang kadang sama sekali tidak masuk dalam kalkulasi awal sebelum perang dimulai.

“Kesalahan berhitung” itu pernah dialami AS, dan pernah juga dialami oleh Rusia-Uni Soviet pada masa perang dingin.

Mengangap dirinya pemenang perang Dunia ke 2, kaya, dan mempunyai persenjataan canggih, AS menganggap Vietnam Utara komunis yang didukung Soviet dan Cina tak lebih sebagai negara kere.

Vietnam Utara dianggap tak lebih dari negara ekonomi petani miskin.

Negara dengan ideologi komunis itu hendak merebut Vietnam Selatan yang didukung oleh AS.

Apa yang terjadi setelah intervensi AS ke Vietnam?

Tak terhitung korban pejuang Vietkong, dan cukup banyak pula kantong plastik mayat tentara AS mendarat secara periodik di berbagai lapngan terbang angkatan udara negeri itu .

AS gagal di Vietnam.

AS akhirnya harus keluar dari Vietnam dengan kepala ke bawah, dan harus mengakui bahwa para petani Vietkong itu lebih kuat “nyalinya” dari tentara super moderen AS.

Kejadian serupa juga terjadi di Afghanistan, ketika AS berhadapan dengan Al Qaeda dan Taliban.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved